Cahaya Di Ujung Mihrab

Reads
13
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Cahaya di ujung mihrab
Cahaya Di Ujung Mihrab
Penulis Matchaa

Bab 3: Rahasia Di Balik Laci Kayu


Pagi itu, aroma nasi goreng dan telur dadar menguar memenuhi apartemen kecil yang kini dihuni Amara dan Rayyan. Bagi sebagian orang, itu hanyalah menu sarapan sederhana. Namun bagi Amara, rutinitas ini adalah keajaiban. Enam bulan yang lalu, aroma paginya adalah bau alkohol yang menyengat, asap rokok yang tertinggal di baju, dan rasa mual akibat hangover. Kini, paginya dimulai dengan air wudu yang dingin, lantunan ayat suci yang terbata-bata, dan kehangatan dapur.

Amara menata piring di atas meja makan kecil mereka. Ia mengenakan gamis rumahan bermotif bunga kecil dengan kerudung instan yang menutupi rambutnya. Ia tersenyum sendiri mengingat betapa canggungnya ia pertama kali mencoba memasak untuk Rayyan. Telur dadarnya gosong, nasinya terlalu lembek. Tapi suaminya itu memakannya tanpa sisa, memuji usahanya, dan bahkan membantunya mencuci piring setelahnya.

"Masya Allah, istriku sudah semakin pintar masaknya. Wanginya sampai ke kamar," suara Rayyan yang berat namun lembut memecah lamunan Amara.

Laki-laki itu muncul dari balik pintu kamar. Ia mengenakan kemeja rapi bersiap untuk pergi ke perpustakaan. Namun, senyum Amara memudar ketika ia menatap wajah suaminya. Wajah Rayyan terlihat jauh lebih pucat dari biasanya.

Ada lingkar hitam yang cukup jelas di bawah matanya, dan langkahnya terlihat sedikit diseret.

"Yan, kamu sakit?" Amara bergegas menghampiri suaminya, menyentuh kening Rayyan dengan punggung tangannya. "Suhumu normal, tapi muka kamu pucat banget. Kamu begadang lagi semalaman?"

Rayyan tersenyum tipis, menggenggam tangan Amara yang berada di keningnya lalu menurunkannya dengan lembut. "Hanya sedikit pusing, Mara. Semalam aku memang tidur agak larut karena harus menyelesaikan laporan inventaris buku perpustakaan. Jangan khawatir, setelah sarapan dan minum vitamin pasti baikan."

Amara menatap mata Rayyan, mencari kebohongan di sana, tapi mata itu selalu memancarkan ketenangan yang membuatnya luluh. "Beneran? Kalau kamu sakit, mending nggak usah ke perpustakaan dulu hari ini. Biar aku yang bilang ke Pak RT kalau perpustakaan tutup sehari. Aku buatin teh jahe ya?"

"Tidak usah, Mara sayang. Aku baik-baik saja," Rayyan duduk di kursi meja makan. "Yuk, kita sarapan. Nanti keburu siang."

Selama sarapan, Amara terus mencuri pandang ke arah suaminya. Rayyan makan dengan sangat pelan, seolah setiap suapan membutuhkan tenaga ekstra untuk ditelan. Dan yang paling membuat Amara cemas adalah, beberapa kali tangan kanan Rayyan tampak sedikit gemetar saat memegang sendok.

"Tangan kamu kenapa gemetar gitu, Yan?" tanya Amara tak bisa menahan diri.

Rayyan terkesiap kecil, seolah baru menyadari hal itu. Ia segera meletakkan sendoknya dan menyembunyikan tangannya di bawah meja. "Oh, ini... ototnya sedikit kram. Mungkin karena kemarin terlalu banyak memindahkan kardus buku. Tidak apa-apa."

Meskipun logika Amara mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, hatinya memilih untuk percaya. Ia terlalu takut membayangkan hal buruk terjadi pada laki-laki yang menjadi jangkar kewarasannya ini.


Hari itu berlalu seperti biasa. Setelah Rayyan berangkat, Amara menghabiskan waktunya dengan membereskan rumah, membaca buku-buku agama dasar yang dibelikan Rayyan, dan berlatih mengaji menggunakan aplikasi di ponselnya.

Menjelang Ashar, langit Jakarta tiba-tiba mendung pekat. Hujan turun dengan derasnya. Amara teringat bahwa Rayyan tidak membawa payung atau jas hujan pagi tadi. Terdorong oleh rasa khawatir dan rindu yang selalu muncul bahkan saat mereka hanya berpisah beberapa jam, Amara memutuskan untuk menyusul suaminya ke perpustakaan dengan membawa payung dan jaket tebal.

Setibanya di perpustakaan, suasana sepi. Hanya ada suara hujan yang menghantam atap seng. Amara melangkah masuk, mencari sosok suaminya di antara rak-rak buku.

"Yan?" panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban. Amara berjalan menuju ruang pengurus di bagian belakang. Pintunya sedikit terbuka. Saat Amara hendak mendorong pintu itu, langkahnya terhenti. Melalui celah pintu, ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.

Rayyan sedang duduk berlutut di lantai, kepalanya bersandar pada sisi meja kerja dengan kedua tangan mencengkeram rambutnya sendiri dengan sangat kuat. Tubuhnya bergetar hebat. Dari mulutnya, terdengar rintihan tertahan, seolah ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa dahsyat yang siap meledakkan kepalanya.
Amara membeku. Kakinya seakan terpaku ke lantai. Tangannya yang memegang gagang payung bergetar kencang. Ya Allah, ada apa dengan suamiku? batinnya menjerit.

Sesaat Amara ingin merangsek masuk, namun ia melihat Rayyan dengan susah payah merogoh tas kerjanya, mengeluarkan sebuah botol kecil, dan menelan beberapa butir pil tanpa air minum.

Setelah meminum pil itu, Rayyan masih bersandar di meja, napasnya tersengal-sengal, sampai perlahan-lahan rintihannya mereda dan tubuhnya melemas.

Amara mundur perlahan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak jadi masuk. Ia berbalik dan berlari keluar perpustakaan, menembus hujan deras, membiarkan air mata dan air hujan bercampur di wajahnya. Pikirannya berkecamuk. Obat apa yang diminum Rayyan? Mengapa ia terlihat begitu kesakitan? Dan mengapa ia menyembunyikannya dari Amara?


Malam harinya, setelah makan malam yang canggung di mana Amara lebih banyak diam, Rayyan pamit untuk tidur lebih awal. "Kepalaku rasanya agak berat, Mara. Aku istirahat duluan, ya. Maaf belum bisa menemanimu murajaah malam ini."

"Iya, Yan. Istirahatlah. Biar aku yang beresin meja kerjamu," jawab Amara dengan suara senormal mungkin, meski hatinya bergemuruh.

Setelah memastikan Rayyan tertidur pulas—napasnya teratur namun terlihat sangat kelelahan—Amara melangkah perlahan menuju meja kerja kecil di sudut kamar mereka. Tangan Amara bergetar saat ia meraih tas kerja Rayyan yang tergeletak di lantai. Ia harus tahu. Ia berhak tahu.

Dengan napas tertahan, Amara membuka ritsleting tas itu. Ia mencari botol kecil yang ia lihat siang tadi. Ia merogoh setiap kantong, namun tidak menemukannya. Pandangannya beralih pada laci meja kerja yang selalu dikunci oleh Rayyan. Selama ini Amara tidak pernah peduli apa isi laci itu, ia mengira itu hanya dokumen-dokumen penting perpustakaan.

Amara mencari kunci laci tersebut di laci nakas, di saku celana Rayyan yang digantung, hingga akhirnya ia menemukannya terselip di bawah tumpukan sajadah.

Tangan Amara gemetar hebat saat memasukkan anak kunci ke dalam lubangnya.

Ceklek.

Laci terbuka.

Bukan dokumen perpustakaan yang ia temukan. Di dalam laci itu, terdapat puluhan botol obat-obatan dengan label medis yang tidak ia pahami, beberapa strip pil berdosis tinggi yang biasa digunakan untuk meredakan nyeri ekstrem, dan di bawah tumpukan botol itu, terdapat sebuah map tebal berlogo sebuah rumah sakit pusat di Jakarta.

Dengan tangan sedingin es, Amara menarik map tersebut. Ia membukanya di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Lembar pertama adalah hasil pemindaian MRI. Terdapat gambar penampang otak dengan sebuah blok putih besar yang melingkari area tertentu. Amara membalik halamannya, membaca diagnosis dokter yang diketik dengan huruf tebal.

Diagnosis: Glioblastoma Multiforme (Kanker Otak / Tumor Ganas Stadium IV)
Prognosis: Buruk. Palliative care direkomendasikan. Perkiraan waktu: 4 - 6 bulan.

Dokumen itu bertanggal empat bulan yang lalu. Tepat satu bulan sebelum Rayyan melamarnya.

Dunia Amara hancur. Dinding kamar itu seakan menyempit, menghimpit dadanya hingga ia tak bisa bernapas. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha meredam isak tangis yang meledak dari tenggorokannya. Lembaran kertas dari rumah sakit itu terlepas dari tangannya, berserakan di lantai.

Kanker otak stadium akhir? Empat sampai enam bulan? Ingatan Amara berputar seperti kaset kusut. Semua potongan puzzle itu kini menyatu dengan menyakitkan. Alasan mengapa wajah Rayyan sering pucat, mengapa tangannya gemetar, mengapa ia sering berlama-lama dalam sujudnya, dan kalimat-kalimatnya yang selalu terdengar seperti sebuah pamitan panjang.

"Kalau suatu saat cahaya di dunia ini meredup bagimu, ingatlah bahwa cahaya di akhirat tidak akan pernah padam..."

"Pembohong..." bisik Amara di sela isak tangisnya yang tertahan. Air matanya menetes deras, membasahi kerudung tidurnya. "Kamu pembohong, Yan..."

Amara merosot ke lantai. Tubuhnya luruh bersamaan dengan harapannya yang baru saja mekar. Ia baru saja menemukan alasan untuk hidup, menemukan jalan kembali kepada Tuhannya, dan kini Tuhan bersiap mengambil malaikat tak bersayap yang telah menuntunnya?
Dalam diam yang menyayat hati, sebuah tangan yang hangat menyentuh bahu Amara yang berguncang.

Amara mendongak, matanya yang merah dan bengkak menatap sosok Rayyan yang kini berdiri di sampingnya. Laki-laki itu memandang ke arah kertas-kertas yang berserakan di lantai, lalu menatap wajah istrinya dengan sorot mata yang dipenuhi rasa bersalah, kesedihan, dan cinta yang teramat dalam.

Rayyan tidak terkejut. Ia tahu hari ini akan tiba. Ia perlahan ikut duduk di lantai, menyejajarkan dirinya dengan Amara. Ia mengulurkan tangannya, mencoba menghapus air mata di pipi istrinya, namun Amara menepisnya pelan.

"Kenapa, Yan?" suara Amara parau, nyaris seperti rintihan luka. "Kenapa kamu nyembunyiin ini dari aku? Kenapa kamu nikahin aku kalau kamu tahu kamu... kamu bakal ninggalin aku secepat ini?!"

Rayyan menundukkan kepalanya, membiarkan air matanya sendiri akhirnya jatuh. Pertahanan laki-laki kuat itu akhirnya runtuh malam itu.
"Karena aku egois, Mara," jawab Rayyan dengan suara bergetar. "Aku tahu waktuku tidak banyak. Tapi saat aku melihatmu... melihat cahayamu yang sedang berjuang mencari jalan pulang... aku ingin menemanimu. Aku ingin sisa nafasku berguna untuk mendekatkan satu jiwa kepada Allah. Dan aku... aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mencintaimu."

Amara terisak makin keras. Ia memukul dada Rayyan dengan lemah, meluapkan segala amarah, kebingungan, dan keputusasaannya, sebelum akhirnya ia rubuh ke dalam pelukan suaminya itu. Rayyan mendekapnya erat, membiarkan dadanya basah oleh air mata wanita yang sangat ia cintai, tahu bahwa mulai malam ini, hitungan mundur menuju perpisahan mereka telah resmi dimulai.



Other Stories
Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

Susan Ngesot

Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...

Download Titik & Koma