Bab 11: Kerikil Di Jalan Dakwah
Dunia nyata tidak seindah kutipan-kutipan motivasi yang sering Amara baca. Satu bulan setelah ia mengambil alih perpustakaan, tagihan listrik, air, dan iuran kebersihan menumpuk di meja kerjanya. Tabungan yang ditinggalkan Rayyan memang ada, namun setelah ia menggunakannya untuk menebus ijazah Siti yang tertahan dan membelikan perlengkapan sekolah untuk Dika, saldo di buku tabungan itu menipis dengan sangat cepat.
Amara duduk di kursi kayu milik Rayyan, memijat pelipisnya yang berdenyut. Ia baru menyadari betapa berat beban yang dipikul suaminya dulu dalam diam. Rayyan tidak pernah mengeluh, tidak pernah menunjukkan wajah bingung, meski mungkin saat itu ia juga sedang memutar otak untuk membayar tagihan.
"Ternyata, jadi orang baik itu mahal ya, Yan?" bisiknya pada keheningan ruangan.
Di tengah kebingungannya, ponsel Amara bergetar. Sebuah nomor lama yang belum sempat ia blokir muncul di layar. Itu adalah manajer klub malam tempat ia dulu bekerja, seorang pria bernama mami Sandra yang memiliki pengaruh kuat di dunia hiburan malam.
Amara ragu, namun rasa ingin tahunya menang. Ia mengangkat telepon itu.
"Mara! Sayang, apa kabar?" suara melengking Sandra terdengar di seberang sana. "Gue dengar lo lagi jadi relawan di perpustakaan kumuh?
Aduh, Mara, lo itu aset nasional di dunia malam. Gue punya tawaran buat lo. Cuma jadi hostess tamu di acara pembukaan lounge baru di Jakarta Selatan. Dua malam doang, Mara. Honornya cukup buat lo renovasi perpustakaan itu jadi gedung mewah. Gimana?"
Jantung Amara berdegup kencang. Angka yang disebutkan Sandra sangat menggiurkan—setara dengan biaya operasional perpustakaan selama dua tahun. Pikiran kotor mulai membisikkan pembenaran di telinganya. “Cuma dua malam. Lo nggak perlu minum, lo cuma perlu senyum dan menyapa tamu. Uangnya bisa lo pakai buat anak-anak jalanan. Bukankah tujuannya mulia?”
"Gue... gue pikir-pikir dulu, Mam," jawab Amara lemah sebelum menutup telepon.
Ia menyandarkan kepala di meja. Konflik batin itu menyiksanya. Di satu sisi, ia sangat butuh uang untuk anak-anak; di sisi lain, ia tahu bahwa kembali ke tempat itu—meski hanya untuk dua malam—adalah sebuah pengkhianatan terhadap segala hal yang telah ia dan Rayyan bangun.
Teguran Melalui Dika
Sore harinya, Dika datang dengan wajah lebam di pipi kiri. Bajunya kotor terkena tanah. Amara tersentak dan segera menghampirinya.
"Dika! Kamu kenapa? Berantem lagi?" tanya Amara cemas sambil mengambil kotak P3K.
Dika menunduk, matanya berkaca-kaca. "Tadi ada anak-anak komplek sebelah ejek Kak Rayyan, Kak. Mereka bilang Kak Rayyan bodoh karena mau nikahin perempuan kayak Kak Amara. Mereka bilang perpustakaan ini tempat penampungan sampah."
Amara tertegun. Jarinya yang sedang memegang kapas beralkohol berhenti di udara. Rasa perih bukan hanya di pipi Dika, tapi menjalar ke ulu hatinya.
"Terus kamu lawan?"
"Iya," jawab Dika tegas. "Aku bilang ke mereka, Kak Amara itu cahaya buat kami. Kak Amara itu orang paling baik setelah Kak Rayyan. Aku nggak mau Kak Amara dihina. Aku rela luka, asal mereka nggak bicara jahat soal Kakak."
Amara memeluk Dika erat-erat. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri. Anak kecil ini rela terluka demi menjaga kehormatannya, sementara ia baru saja berpikir untuk menjual kehormatan itu kembali hanya karena beberapa lembar uang tagihan.
"Makasih ya, Dika. Tapi lain kali jangan pakai otot, ya? Kita buktikan dengan prestasi," bisik Amara, lebih kepada dirinya sendiri.
Keputusan itu bulat. Ia meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Sandra: "Maaf, Mam. Saya sudah punya pekerjaan lain yang jauh lebih berharga. Tolong jangan hubungi saya lagi." Setelah itu, ia memblokir nomor tersebut secara permanen.
Keyakinan Amara segera diuji, namun Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya berjuang sendirian. Malam itu, sepulang dari perpustakaan, Amara bertemu dengan ayahnya yang datang berkunjung ke apartemen.
Ayahnya, yang selama ini tampak dingin, membawa sebuah amplop besar.
"Papa lihat kamu sibuk sekali di perpustakaan itu," ucap sang Ayah sambil menyesap teh buatannya sendiri. "Papa punya beberapa teman di yayasan pendidikan. Mereka tertarik melihat dokumentasi kegiatan kamu bersama anak-anak jalanan yang Papa ceritakan. Mereka setuju untuk memberikan dana hibah bulanan untuk operasional perpustakaan."
Amara terbelalak. "Beneran, Pa?"
"Tapi ada syaratnya," sang Ayah menatap Amara dengan bangga. "Kamu harus mendaftar kuliah lagi. Ambil jurusan Pendidikan atau Manajemen Pendidikan. Papa yang akan biaya kuliahnya.
Papa nggak mau kamu cuma punya semangat, kamu juga harus punya ilmu untuk mengelola tempat itu secara profesional."
Amara tidak bisa berkata-kata. Ia memeluk ayahnya lama sekali. Inilah jawaban dari doanya. Allah menutup satu pintu yang gelap dan membuka pintu lain yang jauh lebih terang. Ia teringat Rayyan yang selalu mendorongnya untuk terus belajar. Kini, ia akan menjadi mahasiswa kembali, bukan untuk mengejar gelar demi kesombongan, tapi untuk memperkuat fondasi amanah suaminya.
Malam itu, Amara duduk di meja belajar Rayyan dengan tumpukan brosur universitas di depannya. Ia merasa sangat bersemangat. Ia mulai membayangkan bagaimana perpustakaan itu akan berkembang—mungkin kelak akan ada kelas komputer, kelas bahasa Inggris, atau bahkan beasiswa untuk anak-anak seperti Dika.
Ia membuka jendela apartemennya, membiarkan angin malam masuk. Pandangannya beralih ke langit. Bintang-bintang tampak bersinar lebih cerah malam itu.
"Lihat, Yan. Aku nggak menyerah," bisiknya pada bintang yang paling terang. "Aku nggak jadi kembali ke sana. Ternyata benar, kalau kita lepaskan sesuatu karena Allah, Dia ganti dengan yang jauh lebih baik lewat jalan yang nggak disangka-sangka."
Amara mengambil buku catatan hitam milik Rayyan. Ia menuliskan rencana besarnya untuk tahun depan. Ia tidak lagi merasa sebagai beban yang ditinggalkan, melainkan sebagai prajurit yang sedang melanjutkan peperangan melawan kebodohan dan kegelapan.
Amara tertidur di atas meja belajarnya, dengan tangan masih memegang pena dan wajah yang tampak sangat damai. Di bawah lampu meja yang temaram, tulisan terakhir di catatannya terlihat jelas: "Setiap kerikil di jalan ini adalah penguat pijakan. Aku akan terus berjalan, sampai aku bertemu kembali denganmu di ujung jalan yang paling indah."
Other Stories
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Langit Di Atas Warteg Bu Sari
hari libur kita ngapain yaa ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...