Bab 3 - Game Over
Kesadaran Kael kembali perlahan, seperti seseorang yang bangun dari tidur karena kelelahan. Awalnya hanya suara angin yang ia dengar, berdesir pelan di antara dedaunan. Lalu aroma tanah basah mulai memenuhi hidungnya, bercampur dengan wangi rumput yang baru tersiram embun pagi.
Ia membuka mata dengan hati-hati.
Langit biru pucat terbentang di atasnya tanpa atap atau lampu kendaraan. Matahari baru saja naik, membuat cahaya lembut menyelinap di sela-sela ranting pohon. Kael berkedip beberapa kali, mencoba memahami kenapa pemandangan yang ia lihat sama sekali tidak mirip dengan interior bus yang terakhir ia ingat.
Tubuhnya terasa berat ketika ia bangun perlahan. Rumput di bawah punggungnya masih dingin, menempel pada jaket yang ia pakai. Beberapa meter dari tempatnya berbaring, suara orang berbicara pelan terdengar.
“Dia bangun.”
Kael menoleh dan melihat Ian berdiri tidak jauh darinya dengan ekspresi lega. Alen duduk di atas batu besar sambil mengusap kepalanya sendiri, sementara Eska berdiri sedikit menjauh dengan tangan terlipat.
“Kita … di mana?” tanya Kael dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Ian menggeleng pelan. “Gue juga belum yakin.”
Kael mencoba mengingat apa yang terjadi terakhir kali. Bus, jalan berkelok, bus berhenti di gerbang keluar tol, lalu benturan keras tak terhindarkan. Ingatan itu datang seperti kilatan singkat yang membuat dadanya terasa sesak. Ia memutuskan segera berdiri, meski sedikit goyah.
Di sekeliling mereka terbentang jalan kecil yang memotong area persawahan luas. Pohon-pohon tinggi berdiri di pinggir jalan, sementara di kejauhan terlihat beberapa rumah kayu dengan atap merah kusam. Tempat itu terlihat seperti desa yang jauh dari keramaian kota.
Anehnya, tidak ada tanda-tanda kecelakaan sama sekali. Tidak ada bus rusak. Tidak ada kaca pecah. Bahkan tidak ada suara kendaraan lain di jalan.
“Busnya mana?” tanya Kael akhirnya.
Alen mengangkat bahu. Ia menunjuk ke arah jalan kosong di belakang mereka. Aspalnya bersih, hanya ada bekas ban samar yang terlihat seperti sudah lama.
Eska berjalan beberapa langkah mendekati Kael. Wajahnya tenang seperti biasa, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang terlihat lebih tajam dari biasanya.
“Lo gak inget apa-apa.?” tanyanya pada Kael yang sepertinya masih belum sepenuhnya tersadar.
Hening sejenak menyelimuti mereka. Angin yang berembus di antara persawahan membuat daun padi bergoyang perlahan, menciptakan suara lembut yang hampir menenangkan.
“Yaudah,” kata Alen tiba-tiba sambil berdiri dari batu tempatnya duduk. “Lanjut, yuk! Kata Ian gak jauh dari sini nyampe tujuan kita.”
Kael menatapnya dengan alis terangkat. “Ini kenapa sih?”
“Kenapa apanya?” balas Alen santai.
Kael tidak langsung menjawab. Ia memasukkan tangannya ke saku hoodie secara refleks, dan jari-jarinya menyentuh sesuatu yang dingin.
Batu biru itu masih ada.
Ia mengeluarkannya sebentar, memandang warnanya yang kontras dengan cahaya pagi, lalu memasukkannya kembali ke saku tanpa mengatakan apa-apa.
“Gue yakin tadi itu beneran kok,” katanya pelan.
Eska menoleh. “Beneran apa?”
“Udah! Lanjut aja. Boyok gue udah minta rebahan ini,” kata Ian akhirnya sambil membuka ponselnya.
Naasnya, layar ponsel itu hanya menampilkan ikon pencarian sinyal yang tidak pernah berhenti.
“Gak ada jaringan,” gumamnya.
Alen menepuk bahu Ian dengan semangat yang tidak berkurang sedikit pun.
“Berarti kita eksplorasi.”
Eska menghela napas pendek. “Rencana liburan kita baru empat jam dan udah kacau gini.”
“Manut kok sama Ian, kan anaknya emang sesat Bang,” kata Alen sambil tertawa.
“Lah, yang ngusulin ke sini kan si Kael. Kok gue yang disalahin?”
Eska memejamkan matanya sejenak, sebelum meraih barang-barangnya dan berjalan lebih dulu. “Ribut aja terus sampai mampus.”
Kael akhirnya tersenyum kecil, mengabaikan sesuatu yang tidak benar-benar ia pahami sebelumnya. Mereka mulai berjalan menyusuri jalan desa dengan langkah santai. Udara siang di kota ini terasa jauh lebih bersih daripada kota. Bau tanah, rumput, dan air sungai yang mengalir di kejauhan menciptakan suasana yang hampir terasa seperti lukisan. Banyak pepohonan hijau yang ada ditanam di sepanjang jalan. Membuat sinar menyengat mentari tidak langsung mengenai kulit.
Beberapa warga terlihat beraktivitas di sawah, tetapi mereka hanya melambaikan tangan dari jauh tanpa benar-benar mendekat.
“Orang sini ramah juga,” kata Ian pelan.
Seorang kakek yang sedang membawa keranjang bambu bahkan sempat tersenyum pada mereka sebelum melanjutkan langkahnya.
Desa itu terlihat sederhana, tetapi tertata rapi. Rumah-rumah kayu berdiri dengan halaman luas, beberapa dihiasi tanaman bunga berwarna cerah. Anak-anak kecil berlari di jalan tanah sambil tertawa tanpa terlihat khawatir sedikit pun.
Alen berhenti sejenak untuk memotret sebuah rumah yang memiliki pagar kayu unik.
“Kalau kita tinggal di sini sebulan, gue bisa nulis album penuh,” katanya.
“Lo nulis lirik tiga baris aja biasanya butuh seminggu,” balas Ian.
“Kan gampang buntu, gegara otak gue gak seencer kalian.”
“Alasan.”
Mereka terus berjalan sampai akhirnya menemukan lapangan kecil di tengah desa. Di sana beberapa warga sedang menyiapkan panggung sederhana dari papan kayu.
Kael memperhatikan mereka dengan rasa penasaran. “Kayaknya ada acara.”
Seorang pria paruh baya yang sedang mengangkat kursi melihat mereka berdiri di tepi lapangan. Ia mendekat dengan langkah santai, wajahnya ramah.
“Kalian dari mana mau ke mana? Kok bawa koper tas gede?” tanyanya.
Eska mengangguk sopan. “Kami lagi liburan, Pak. Kebetulan lewat dan nggak nemu kendaraan buat ke penginapan.”
“Oh, gitu. Emang jam segini susah sih kalau mau nyari kendaraan, Nak. Apalagi kalian nggak berhenti di terminal.” Pria itu tersenyum lebar. “Pas sekali. Lusa ada pasar malam.”
Alen langsung terlihat sangat tertarik. “Pasar malam?”
“Kayak hiburan gitu, Nak. Orang-orang jualan produk olahan ataupun barang-barang yang mereka buat. Anak-anak di sini akan tampil pentas buat mengisi hiburan,” jelas pria itu.
Ian menoleh ke arah teman-temannya. “Ini kebetulan banget.”
Namun, Kael tidak langsung ikut bersemangat. Ia memandang panggung kayu itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang terasa familier. Seolah ia pernah melihat tempat itu sebelumnya.
“Kalian bisa main musik juga? Saya lihat kamu bawa alat musik, itu,” tanya pria itu tiba-tiba sambil menunjuk gitar yang dibawa Eska.
Eska mengangkat bahu santai. “Kadang-kadang.”
“Kalau begitu kalian harus tampil nanti,” kata pria itu dengan nada antusias.
Alen langsung menoleh ke arah Eska dengan mata berbinar. “Gue suka desa ini,” bisiknya lirih.
Ian tertawa kecil, sementara Eska hanya menggeleng pasrah.
Kael masih memperhatikan mereka bertiga sambil tersenyum samar. Untuk sesaat, semua keganjilan yang ia rasakan tadi pagi seolah menghilang.
Liburan ini mungkin memang tidak berjalan sesuai rencana. Namun, entah kenapa semuanya masih terasa baik-baik saja. Meski jauh di dalam hatinya, sebuah perasaan aneh itu tidak mau enyah dari sana.
Other Stories
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Coincidence Twist
Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...