Bab 5 - Realitanya Tak Seindah Itu
Pasar malam dimulai ketika matahari sudah tenggelam penuh. Langit berubah menjadi gelap dengan dihiasi bintang-bintang kecil yang menggantikan rembulan, sementara lampu-lampu kecil yang digantung di sekitar lapangan mulai menyala satu per satu. Cahaya hangat dari lampu itu memantul di papan panggung kayu, menciptakan suasana yang terasa sederhana penuh kehangatan.
Kael berdiri di tepi lapangan sambil memperhatikan warga yang mulai berkumpul. Anak-anak duduk di barisan depan dengan wajah penuh rasa ingin tahu, sementara orang dewasa berbicara santai sambil membawa makanan dari rumah masing-masing. Aroma jagung bakar dan teh hangat bercampur di udara malam yang sejuk.
Tidak jauh dari sana, Ian sedang memeriksa drum kecil yang dipinjamkan warga desa untuk mereka. Alen membantu mengatur kabel sederhana yang tersambung ke pengeras suara. Sementara Eska duduk di pinggir panggung sambil menyetem gitar dengan wajah yang lebih serius dari biasanya.
Eska pergi ke rumah kepala desa sore tadi dan menerima tawaran untuk mengikuti serangkaian acara dan menampilkan beberapa lagu spesial. Kepala desa tentu menyetujui dengan segera dan memberikan urutan penampilan pertama.
Setelah mengembuskan napas panjang, Kael naik ke atas panggung. Kayu di bawah kakinya mengeluarkan bunyi derit acapkali ia melangka, seolah mengingatkan bahwa panggung ini tidak dibuat untuk pertunjukan besar. Hanya untuk kebahagiaan kecil warga desa.
Dari atas sana, netranya bisa memandang seluruh isi lapangan desa dengan jelas. Warga mulai duduk beralaskan tikar seadanya, sebagian besar anak-anak berbaris rapi dan bergerombol dengan kelompok pementasannya masing-masing, sisanya menikmati wahana pasar malam diiringi jerit tawa yang mengudara. Tak jauh berbeda, di sisi lain lapangan sebagian ibu-ibu dan remaja muda yang menjajakan UMKM di lapak masing-masing. Lampu gantung yang dipasang di antara tiang bambu tertiup embusan angin malam, membuat lapangan kecil itu bersinar hangat. Semua terlihat seperti potongan kehidupan yang sempurna.
Namun, anehnya Kael justru dihinggapi perasaan aneh dalam dadanya. Seolah ia tengah berdiri di lingkaran yang salah.
“Tegang amat, kayak gak pernah manggung aja,” kata Eska tiba-tiba muncul dari belakangnya. Ia berjalan naik ke panggung dengan gitar di tangan, wajahnya terlihat santai seperti biasanya. Tanpa banyak bicara, ia memberi isyarat kepada Ian dan Alen untuk segera bersiap.
Gelengan kecil Kael berikan. “Cuma capek aja. Ntar abis manggung, gue ke penginapan duluan, ya. Kalian kalau mau jajan, jajan aja.”
Eska memandangnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Kalau lo gak siap nyanyi, gue bisa ambil bagian itu.”
“Pucet banget lo. Demam panggung lagi?” Kali ini Ian angkat suara. Menatap khawatir ke arah sahabatnya.
Sebelum berbalik, Kael menyunggingkan senyum tipis ke arah teman-temannya. Memberikan isyarat bahwa ia masih sanggup untuk ada di sana. “Gue bisa.”
Acara pementasan dibuka dengan sambutan singkat dari kepala desa. Setelah beberapa kata tentang kebersamaan warga dan rasa syukur atas festival tahunan itu, keempat anak muda tersebut akhirnya dipersilakan naik ke panggung.
“Baiklah … kita sambut penampilan pertama dan paling spesial malam ini, persembahan singkat dari band Rest Area. Beri tepuk tangan yang meriah!”
Riuh tepuk tangan dari warga desa langsung menyambut mereka. Suasana terasa hangat dengan tawa dan sorakan kecil dari anak-anak yang duduk di barisan depan. Alen langsung melompat ke atas panggung dengan semangat yang hampir berlebihan, sementara Ian berjalan santai sambil menyesuaikan posisinya. Eska berdiri di sisi kanan panggung dengan gitar yang sudah siap dimainkan. Sedang Kael mengambil posisi di depan mikrofon.
Lampu panggung menyilaukan matanya sesaat, membuat jantung Kael berdegup kian tak karuan. Ketika musik mulai dimainkan, semuanya terasa kembali normal.
Petikan gitar Eska mengalir lembut, Alen mengetuk stik drummnya setinggi mungkin, dan Ian sesekali berteriak untuk mengimbangi interaksi pada penonton. Musik mereka memenuhi lapangan kecil itu dengan energi yang sederhana. Kehangatan itu cukup membuat beberapa anak mulai bertepuk tangan mengikuti irama.
Kael menutup matanya sejenak saat memasuki bagian refrein lagu. Di saat itulah sebuah ingatan lama tiba-tiba muncul di kepalanya.
-
“Apa?” tanya Ian tanpa mengangkat kepala.
“Gak apa,” jawab Kael.
Eska tiba-tiba menghentikan petikan gitarnya. “Band kita belum punya nama.”
Alen mengangkat kepala. “Serius juga.”
Ian menoel lengan Kael menggunakan stik drum milik Alen. “Lo yang paling sering ngomong soal band. Kasih nama.”
Kael mengerjap, sedikit terkejut. “Kok gue?”
“Si paling anak band.”
Tak dipungkiri, Kael pun terdiam beberapa saat. Ia memandang sekeliling garasi yang masih cukup berantakan itu sebab belum usai merenovasi. Banyak kabel yang masih berserakan di mana-mana. Alat musik pun belum tersusun sempurna. Bahkan, perabot seperti meja dan kayu belum ada. Hanya lantai yang dicor menggunakan semen yang dilapisi karpet tipis bekas Tante Alen berjualan. Tempat itu jelas bukan rumah siapa pun dari mereka, tetapi entah kenapa mereka selalu kembali ke sana setiap selesai sekolah.
Untuk sejenak, Kael mengangkat bahunya acuh. Ia membaringkan tubuhnya di atas karpet, menatap langit-langit garasi itu saksama.
“Rest Area.”
Tiga orang lainnya menatapnya bersamaan.
“Lo pikir lagi bangun jalan tol? Kenapa malah jadi rest area, Kupret.” Ian lebih dulu melempar kardus bekas rak mengenai lengan Kael.
“Serius?” tanya Alen.
Kael tersenyum kecil. Ia kemudian bangkit dan menatap tiga temannya satu persatu.
“Lo lihat muka gue apakah ada wajah bercanda? Seriuslah.”
“Yang estetik dikitlah. Masa rest area sih?”
Eska–yang paling tua di antara mereka terlihat menimbang usulan Kael. Ia mengetuk jemarinya di atas buku latihan soal olimpiade yang dia bawa ke mana-mana. “Tapi … ada benernya juga. Cuma enggak juga. Cari nama lain coba.”
Lagi-lagi embusan napas menguar dari bibir si pencetus ide. “Tadi nyuruh bikin nama. Giliran dibikinin gak setuju. Serah lo pada deh.”
“Ya, bukan gitu, El.”
“Terus?” Kael menatap lekat ke arah teman-temannya. “Ibaratnya kalau hidup itu perjalanan jauh, ya band ini rest area-nya.”
Hening sejenak memenuhi ruangan. Sampai suara petikan gitar milik Eska kembali terdengar.
“Yaudah,” katanya. “Rest Area.”
“Ya iya sih. Gue paham apa yang lo maksud. Cuma …”
“Yang gak setuju bisa out sekarang.” Kael menatap ke arah Ian yang hendak menyela lagi.
Tanpa mereka sadari, nama itu akhirnya melekat sampai saat ini. Memang, mulanya hanya berangkat dari gurauan kecil. Namun, suatu hari nanti akan berarti jauh lebih dalam dari yang pernah mereka bayangkan.
-
Kael membuka matanya kembali. Lampu panggung masih menyala, musik masih berjalan, dan suara warga desa masih terdengar dari bawah panggung. Namun, sesuatu dalam dirinya masih terasa berbeda. Nama yang tadi dipanggil pembawa acara tidak lagi terasa seperti sekadar nama band.
Alen, Ian, dan Eska sudah lebih dari itu. Band-nya bukan hanya menjadi tempat singgah sementara. Kael tiba-tiba menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan dengan jelas. Mereka bertiga bukan hanya teman. Mereka adalah tempat ia berhenti ketika hidup terlalu berat. Mereka adalah tempat ia kembali ketika dunia terasa terlalu jauh. Mereka adalah tempatnya beristirahat sejenak dari setumpuk realita.
Tepat saat kesadaran itu muncul, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Lampu-lampu panggung masih menyala, tetapi cahayanya terlihat lebih redup. Suara penonton yang tadi ramai tiba-tiba terasa menjauh.
Kael berhenti bernyanyi.
“El?” suara Ian terdengar bingung di belakang.
Tak ada jawaban dari Kael. Ia justru memandang sesuatu di tepi lapangan. Seorang pria berdiri di sana dengan wajah yang sangat familiar. Namun, entah ia lupa bertemu di mana.
Pria itu memandang panggung dengan ekspresi dingin sebelum perlahan menggelengkan kepala.
Dalam sekejap bayangan itu berubah mencekam. Alen terbaring di ranjang rumah sakit. Ian duduk di kursi roda dengan kaki yang tidak bergerak. Dan, Eska berjalan menjauh tanpa menoleh sama sekali.
Denyut menyakitkan tiba-tiba menyerang. Kael mengerlingkan pandangan dan tidak menemukan satu orang pun di depannya. Hanya ada panggung kosong, serta satu microphone yang masih berdiri.
Napasnya menjadi tidak teratur. Ia mulai takut sesuatu buruk terjadi.
“Ini … apa … Yan? Alen? Bang Eska, kalian di mana? Jangan main-main dong!”
Tangannya gemetar. Kakinya mundur satu langkah ketika standing mic yang sebelumnya berdiri kokoh ikut terjatuh.
Suara benturan keras tiba-tiba menyergap rungunya. Sebuah ingatan bak kaset rusak tiba-tiba berputar di kepalanya. Bus terguling, kaca pecah, dan ia dapat merasakan tubuhnya terlempar ke sana ke mari diiringi jerit tangis orang-orang.
Kael jatuh berlutut. Ia menutup kedua telinga erat-erat begitu mendengar teriakan Ian, Alen, dan Eska yang tak tahu darimana asalnya.
Kenangan demi kenangan muncul di kepalanya seperti film yang diputar terlalu cepat. Pertemuan pertama mereka, berbagi kesamaan mereka pada musik, lalu ketika membuat studio musik dari garasi bekas yang hingga kini menjadi basecamp utama, kekalahan lomba pertama mereka, sampai kemenangan pertama yang tak pernah bisa terlupakan. Semua momen itu datang bersamaan.
“Kael! El! Sadar!”
Seseorang mengguncang bahunya.
“Kael, bangun!”
Kael membuka mata dengan napas tersengal. Ia bahkan lupa cara meraup oksigen yang baik dan benar seperti apa. Tangannya reflek memegang dada seolah ada bebatuan besar yang menimpanya.
“El, sadar, El. Hey, lo kenapa?” Eska menepuk pipi Kael dengan perasaan cemas. “Napas yang bener, El! Lo kenapa?”
Masih tak ada jawaban. Kael menatap liar ke sekelilingnya dan merasakan hawa yang berbeda. Kali ini, air matanya tak bisa dibendung. Ia mendadak cengeng.
Tanpa basa-basi, Eska memeluk raga kecil di depannya itu. Ia merasakan tubuh Kael bergetar hebat.
“It’s okay. Lo aman sama kita. Kita di sini semua sama lo! Tenang, oke? Napas yang bener dulu, El!”
Ian dan Alen menatap pemandangan di depannya seketika bergantian menepuk punggung sahabatnya pelan.
Kael berada di dalam pelukan Eska beberapa saat sampai anak itu tenang. Anak itu mulai bernapas dengan lega dan meninggalkan jejak sembab di matanya.
Sepasang sklera milik Kael berhasil menatap jelas tiga temannya. Ada Eska di depannya tepat, lalu di sampingnya Ian dan Alen berdiri tidak jauh.
Langit malam terlihat di atasnya, tetapi kali ini bukan langit desa yang tenang. Lampu kendaraan menyala terang di sekitar jalan, dan suara orang-orang berbicara panik terdengar di sekelilingnya.
Ia beralih menatap papan nama bertuliskan kilometer 245. Lalu, menatap Eska kembali. Lelaki di depannya itu terlihat sangat khawatir.
“Kalian nggak akan ninggalin gue, kan?” Pertanyaan itu mencelos dari bibirnya tanpa aba-aba.
“Kayaknya beneran deh, El. Abis ini lo kudu ke rumah sakit dan cek otak lo. Takutnya beneran geser,” jawab Ian asal.
Alen yang berdiri tidak jauh seketika menghadiahi geplakan pada temannya itu.
“Gak usah didengerin, El. Lo gak apa-apa? Lo bikin khawatir kita semua tau gak!”
“Hah? Bukannya kalian ya, yang bikin gue khawatir. Gue takut banget kalian ninggalin gue sendirian.”
Eska tertawa kecil, lantas mengusap pucuk kepala Kael pelan.
“Lo tadi tabrakan sama orang yang lagi benerin atap pas mau ke kamar mandi. Terus pingsan.” kata Eska pelan.
“Hah?”
Ian menggelengkan kepalanya. “Hah heh hoh? Beneran geser otaknya nih anak.”
“Iya. Lo pingsan lama banget.”
Kael menatap mereka satu per satu. “Bukannya bus yang kita tumpangi kecelakaan?”
“Mulutnya!” kali ini Eska bersuara. “Udah. Abis ini nunggu orang jemput, kita ke RS.”
Jantungnya masih berdetak cepat, tetapi untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu ia merasa napasnya kembali lega.
“Jadi …?” Kael menghentikan ucapannya.
“Nggak ada. Kita semua aman. Lo aja tadi yang jatuh. Lagian masih ngantuk asal pergi aja, gitu kan jadinya.”
Kael menunduk sebentar sebelum akhirnya tertawa kecil—tawa yang terdengar hampir seperti tangisan.
Alen menatapnya bingung. “Malah ketawa. Otak lo beneran geser deh, El.”
Kael menggeleng pelan. “Gue gak apa-apa. Gue bersyukur kalian masih ada di sini. Masih sama gue. Gue takut banget tadi kalau kehilangan kalian.”
Ia memasukkan tangan kiri yang terbebas dari gips pertolongan pertama ke saku hoodie dan merasakan sesuatu yang dingin di telapak tangannya. Batu biru itu masih ada di sana. Kael menggenggamnya sebentar sebelum menatap tiga orang di depannya.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari sesuatu. Mereka bukan sekadar band. Bukan juga teman. Mereka adalah tempat ia berhenti sejenak dari semua hal yang melelahkan dalam hidup.
“Gue bersyukur banget masih ada kalian. Kalaupun gue terluka, yang penting kalian masih ada. Gue akui kalau gue egois dan gue nggak peduli akan hal itu. Jangan tinggalin gue! Gue nggak akan bisa hidup tanpa kalian!”
-END-
Other Stories
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Teka-teki Surat Merah
Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...