Rest Area

Reads
216
Votes
28
Parts
7
Vote
Report
Penulis Kata Aksara

Epilog; Hidup Harus Tetap Berjalan

Langit sore itu berwarna jingga pucat ketika panggung mulai dipenuhi cahaya lampu. Di lapangan kota yang biasanya digunakan untuk upacara atau bazar sekolah, malam itu berdiri sebuah panggung besar dengan banner festival musik tahunan yang tergantung di bagian atasnya.

Orang-orang mulai berdatangan sejak matahari belum sepenuhnya tenggelam. Ada yang datang bersama teman, ada yang datang bersama pasangan, ada yang datang dengan keluarga, dan ada juga yang hanya berdiri sendiri sambil memegang ponsel, menunggu band favorit mereka tampil.

Suara check sound terdengar berulang kali dari panggung. Denting gitar listrik yang dipetik sebentar, ketukan drum yang dicoba satu dua kali, dan suara mikrofon yang diuji dengan kata-kata pendek.

Di belakang panggung, empat orang berdiri dalam lingkaran kecil.

Kael memandang panggung dari balik tirai hitam yang sedikit terbuka. Lampu-lampu sorot membuat panggung itu terlihat jauh lebih besar daripada biasanya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

“Masih gugup?” Suara Ian terdengar dari sampingnya membuat Kael sontak menoleh. Anak itu menyunggingkan senyum tipis sebelum menggenggam erat kedua tangannya.

“Sedikit,” jawab Kael pelan.

Alen yang sedang memutar-mutar stik drumnya di jari ikut tertawa kecil. “Sedikit katanya. Dari tadi jalan bolak-balik tujuh kali kayak orang tawaf.”

“Gue cuma pemanasan,” protes Kael.

“Pemanasan buat apa? Lomba lari?” sahut Alen cepat.

Mereka bertiga tertawa, meskipun tawa itu tidak sepenuhnya lepas. Di sisi lain ruangan, Eska sedang menyetem gitarnya dengan tenang. Jarinya bergerak pelan di atas senar, memastikan setiap nada terdengar tepat. Ia terlihat seperti biasa. Tenang, fokus, dan sedikit lebih dewasa daripada yang lain. Mungkin karena memang dia yang paling tua di antara mereka.

Eska mengangkat kepalanya ketika menyadari tiga pasang mata sedang menatapnya. “Kenapa?” tanyanya santai.

“Enggak apa-apa,” jawab Ian cepat.

Kael mengalihkan pandangannya kembali ke panggung. Ia tahu kalau terus menatap Eska, pikirannya akan kembali pada hal yang sejak tadi ia coba abaikan.

Malam ini bukan hanya festival musik. Malam ini adalah malam terakhir mereka tampil bersama dengan formasi yang sama.

Beberapa hari yang lalu, Eska resmi dinyatakan lulus dari sekolah mereka. Kelulusan itu seharusnya menjadi kabar baik. Dan, memang begitu. Semua orang memberi selamat. Semua orang mengatakan bahwa masa depan sedang menunggu.

Namun, bagi mereka bertiga, kabar itu juga berarti sesuatu yang lain. Tidak ada yang benar-benar mengatakannya secara langsung, tetapi mereka semua tahu bahwa setelah ini semuanya tidak akan persis sama seperti dulu.

Seorang panitia masuk ke ruangan belakang panggung sambil membawa clipboard.

“Rest Area, lima menit lagi ya,” katanya.

Ian mengangguk. “Siap, Kak.”

Ketika panitia itu pergi, ruangan kembali sunyi sejenak.

Alen berdiri lebih dulu. “Daripada kepikiran terus, mending kita main aja yang bagus.”

“Kayak biasanya,” tambah Ian.

Eska akhirnya ikut berdiri, menggantungkan gitarnya di bahu.

Kael memandang mereka satu per satu. Entah sejak kapan, orang-orang ini menjadi bagian dari hidupnya dengan cara yang begitu alami.

Dulu mereka hanya empat anak yang sama-sama menyukai musik. Empat anak yang sama-sama mencari tempat untuk bernapas di tengah kehidupan yang tidak selalu ramah. Tanpa mereka sadari, kebersamaan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti. Tempat di mana mereka bisa berhenti sebentar dari semua hal yang melelahkan.

Lampu panggung menyala lebih terang ketika nama band mereka akhirnya dipanggil.

“Selamat malam! Berikutnya kita sambut … Rest Area!”

Suara penonton menyambut mereka ketika keempatnya berjalan naik ke atas panggung.

Lampu sorot membuat lapangan terlihat seperti lautan wajah yang bergerak-gerak. Kael berdiri di depan mikrofon, sementara yang lain mengambil posisi masing-masing.

Alen menghitung dengan stik drumnya.

“Satu … dua … tiga ….”

Musik langsung mengalir.

Gitar Eska membuka lagu pertama dengan nada yang tajam, disusul dengan ketukan drum Alen dan diseimbangkan oleh gitar bass milik Ian.

Kael mulai bernyanyi. Suaranya mungkin tidak sempurna, tetapi malam itu ia bernyanyi dengan sesuatu yang lebih penting daripada teknik.

Setiap lagu yang mereka mainkan terasa seperti potongan perjalanan yang pernah mereka lalui bersama. Dari latihan pertama yang kacau, lomba band yang berakhir dengan kekalahan memalukan, hingga hari ketika mereka akhirnya menang untuk pertama kalinya.

Penonton bertepuk tangan, beberapa ikut bernyanyi, beberapa lagi hanya mengangguk mengikuti irama.

Bagi mereka berempat, panggung malam itu terasa lebih sunyi daripada yang terlihat dari luar. Karena mereka tahu bahwa setiap detik yang berlalu membawa mereka semakin dekat pada akhir.

Lagu terakhir dimulai lebih pelan. Ketika lagu itu berakhir, tepuk tangan penonton terdengar lebih keras dari sebelumnya.

Kael memegang mikrofon sedikit lebih lama sebelum berbicara.

“Makasih sudah dengerin kami malam ini,” katanya. Ia berhenti sebentar, menoleh ke arah teman-temannya. “Kadang perjalanan itu panjang banget. Kadang juga capek, tapi selama masih ada tempat buat berhenti sebentar, perjalanan itu jadi lebih gampang dilanjutin.”

Kael menarik napas panjang sebelum mengembuskan pelan. Ia menatap ketiga temannya bergantian. Membiarkan Alen mengambil alih suasana dengan mengetuk stik drum di udara hingga membentuk sebuah nada. Sampai akhirnya, ia berbalik dan menatap seluruh pengunjung yang ada.

“Dan buat kami … tempat berhenti itu ya, band ini.”

Penonton kembali bertepuk tangan, meskipun mungkin tidak semua benar-benar mengerti maksudnya.

Setelah lampu panggung padam dan mereka turun dari panggung, suasana kembali menjadi lebih tenang. Orang-orang mulai membereskan alat. Panitia berjalan ke sana kemari. Musik dari band berikutnya terdengar samar dari kejauhan.

Empat orang itu berdiri lagi di belakang panggung. Tidak ada yang langsung berbicara.

Akhirnya Alen menghela napas panjang. “Festival terakhir kita.”

“Belum tentu terakhir,” kata Ian cepat.

Eska tersenyum tipis. “Benar. Cuma mungkin nggak sesering dulu.”

Kael menatap mereka bertiga. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa sedikit lebih tenang. Karena sekarang ia mengerti bahwa perjalanan memang tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.

Kadang orang harus berpisah jalan. Kadang waktu memaksa semua orang untuk bergerak ke arah yang berbeda. Namun, itu tidak berarti perjalanan yang pernah dilalui bersama menjadi sia-sia. Karena kenangan tentang tempat singgah itu akan selalu ada. Selama kenangan itu masih ada, seseorang tidak pernah benar-benar kehilangan jalannya.

Kael memandang panggung yang sekarang mulai kosong. Lalu ia tersenyum kecil. Perjalanan mereka mungkin akan berubah setelah malam ini.

Akan tetapi, satu hal yang pasti. Hidup akan terus berjalan. Dan, suatu hari nanti, entah di mana, mereka mungkin akan menemukan rest area lain di sepanjang perjalanan itu.

[]


Other Stories
Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

The Pavilion

35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...

Separuh Dzarrah

Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...

Aswin, Kami Menyayangimu

Aswin adalah remaja bermasalah yang terpaksa tinggal di sebuah panti asuhan karena ia tak ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Download Titik & Koma