Bab 5 : Tempat Tinggal Baru.
Bab 5 : Tempat tinggal baru.
Perlu waktu sekitar 2 jam dari stasiun untuk sampai ke kontrakan yang akan ditinggali keluarga Amara. Mata Amara lelah memandangi keindahan kota dari kaca mobil, hingga ia memutuskan bersandar ke kursi dan fokus ke depan menatap jalanan. Bunda terus mengawasi Amara dari kaca depan mobil sampai akhirnya Amara terlelap.
Saat Amara tidur, kedua orang tuanya ternyata membicarakan rencana ke depan.
“Pekerjaanmu bagaimana, Yah?” tanya Bunda serius.
“Sudah dikonfirmasi, tinggal menunggu panggilan kerja. Sekolah Amara kita urus besok.”
“Sebulan berapa harga sewa kontrakannya?”
“1,4 juta, sudah ada dua kamar dan bagasi.”
“Wah, murah ya? Tapi aman, kan?”
“Aman kok, banyak penyewanya juga. Ramah-ramah katanya.”
“Tapi masa iya ada bagasi pribadi?”
“Bagasinya dipakai bersama. Kalau cari yang ada bagasi pribadi susah.”
“Kan, apa aku bilang. Tidak mungkin kontrakan murah bagasinya pribadi.”
“Hehehe… mau bagaimana lagi? Menyesuaikan modal, hehehe…” gurau Ayah menahan malu karena modal pindah rumah pas-pasan.
“Tidak apa-apa, yang penting lingkungannya aman dan ramah. Itu saja sudah cukup,” Bunda tak pernah meminta lebih, yang terpenting adalah fungsi.
“Makasih, ya, Bun, sudah mau menerimaku dengan segala kekuranganku,” Ayah tiba-tiba saja mengucapkan kalimat yang membuat Bunda tersentuh.
“Hei, tidak apa-apa. Toh, kamu juga rutin memberi nafkah yang cukup bagi keluarga. Itu saja sudah bagus. Aku tidak mau menuntut terlalu banyak, aku tahu kamu pasti juga sedang kesusahan dalam berjuang. Yang penting kamu terus menjalankan kewajibanmu sebagai kepala keluarga.”
Degg…
Kalimat ini…
Kalimat yang tiba-tiba membuat genangan air di kedua mata Ayah. Bukan tangis sedih, tapi haru. Siapa yang tidak bersyukur mempunyai keluarga yang saling mengerti seperti mereka? Aku rasa kalian pasti menginginkan hal yang sama, begitu pun aku.
Tangis haru tak mampu dibendung. Sambil menyetir, Ayah menyeka tetes air mata dengan tangannya.
“Kenapa menangis? Kamu laki-laki, loh! Sudah nangisnya, nanti kalau Amara bangun dan melihat ayahnya menangis, pasti mengira Ayah cemen,” tambah Bunda menyemangati.
Air matanya berhenti. Ayah ingat bahwa ia adalah kepala keluarga yang harus kuat layaknya pondasi yang menopang bangunan besar.
“Doakan aku selalu menghadapi cobaan-Nya. Semoga rumah impian itu bisa terwujud. Aamiin…”
“Aamiin… Aku selalu mendoakanmu tiada henti, Yah.”
“Bun, ingat lagu lama yang sering kita dengarkan saat Amara baru lahir?”
“Ingat, aku ingat. Memangnya kenapa?”
“Di dalam lagu itu liriknya bilang, ‘takkan terganti’. Kamu tahu tidak artinya apa buat aku?”
“Memangnya apa?”
“Jika hidup diulang berkali-kali, aku akan tetap memilihmu sebagai pendamping hidupku dan Amara sebagai anakku.
“Iih, Ayah bisa saja deh,” Bunda tertawa mendengar gombalan Ayah.
“Serius, Bun.”
Lamanya perbincangan dan canda tawa antara Ayah dan Bunda tidak sedikit pun mengusik Amara. Ia tetap tenang dalam tidurnya. Dari matanya sudah tergambar jelas, ia pulas karena kelelahan. Bunda terus mengajak Ayah mengobrol agar Ayah tidak lengah dalam mengemudi.
Mobil berjalan semakin pelan, dan Amara terbangun. Setelah melewati beribu kilometer panjangnya rel kereta api dan jalan raya, akhirnya mereka sampai di tempat tinggal baru. Ayah menurunkan semua koper dan barang dari mobil. Lalu menelpon pemilik kontrakan untuk mengambil kunci.
Suara gemerincing kunci terdengar bersamaan dengan seretan sandal jepit yang semakin dekat. Terlihat dari kejauhan, seorang ibu mengenakan daster warna biru langit bercorak hitam. Ia berkacamata, rambutnya dijepit, dan terpasang koyo di samping kedua matanya. Ia menyerahkan kunci rumah kepada ayah. Meskipun kontrakan itu nampak bersih dan terawat, nyonya rumah itu tetap menaruh harap agar mereka bisa merawatnya dengan baik.
Ceklekk…
Pintu terbuka seperti memberi ucapan selamat datang pada mereka.
“Tempatnya bersih sekali ya? Seperti baru saja disewa,” kagum Bunda.
“Sepertinya memang baru saja ditinggali,” terka Ayah.
Amara memandangi setiap sudut rumah tersebut, matanya tak sengaja menangkap sebuah benda lebar berwarna hitam.
“Televisi! Itu televisi!” seru Amara tak sabar ingin menonton serial di dalamnya. Ia berlari menuju benda itu dengan bersemangat.
“Amara mau lihat televisi?” tanya Bunda.
“Mau!” jawab Amara antusias.
“Nanti saja ya? Istirahat dulu baru nanti lihat televisi,” suruh Bunda agar Amara bisa merehatkan badan.
“Sekarang saja, Bun” ucap Amara tak sabar.
“Istirahat dulu, Nak. Kamu kan capek, kasihan badanmu butuh istirahat,” Ayah menasihati Amara dengan lembut.
“Tapi, aku maunya sekarang.”
“Istirahat dulu, nanti biar dicek Ayah dulu. Takutnya televisinya rusak,” ucap Bunda.
“Baiklah kalau begitu,” Amara menjawab dengan mulut ditekuk tanda kecewa.
Bunda mengajak Amara untuk membersihkan diri. Mereka mencari kamar mandi di tempat tinggal baru tersebut. Ternyata kamar mandinya bersih, tidak seperti yang Bunda bayangkan. Airnya pun jernih tidak berbau. Bunda bersyukur menemukan kontrakan murah dengan kondisi yang sangat layak ditinggali.
Mungkinkah kehangatan keluarga ini akan kembali terasa di atap yang berbeda? Atau justru berpindah rumah malah menghancurkan keharmonisan ini?
Perlu waktu sekitar 2 jam dari stasiun untuk sampai ke kontrakan yang akan ditinggali keluarga Amara. Mata Amara lelah memandangi keindahan kota dari kaca mobil, hingga ia memutuskan bersandar ke kursi dan fokus ke depan menatap jalanan. Bunda terus mengawasi Amara dari kaca depan mobil sampai akhirnya Amara terlelap.
Saat Amara tidur, kedua orang tuanya ternyata membicarakan rencana ke depan.
“Pekerjaanmu bagaimana, Yah?” tanya Bunda serius.
“Sudah dikonfirmasi, tinggal menunggu panggilan kerja. Sekolah Amara kita urus besok.”
“Sebulan berapa harga sewa kontrakannya?”
“1,4 juta, sudah ada dua kamar dan bagasi.”
“Wah, murah ya? Tapi aman, kan?”
“Aman kok, banyak penyewanya juga. Ramah-ramah katanya.”
“Tapi masa iya ada bagasi pribadi?”
“Bagasinya dipakai bersama. Kalau cari yang ada bagasi pribadi susah.”
“Kan, apa aku bilang. Tidak mungkin kontrakan murah bagasinya pribadi.”
“Hehehe… mau bagaimana lagi? Menyesuaikan modal, hehehe…” gurau Ayah menahan malu karena modal pindah rumah pas-pasan.
“Tidak apa-apa, yang penting lingkungannya aman dan ramah. Itu saja sudah cukup,” Bunda tak pernah meminta lebih, yang terpenting adalah fungsi.
“Makasih, ya, Bun, sudah mau menerimaku dengan segala kekuranganku,” Ayah tiba-tiba saja mengucapkan kalimat yang membuat Bunda tersentuh.
“Hei, tidak apa-apa. Toh, kamu juga rutin memberi nafkah yang cukup bagi keluarga. Itu saja sudah bagus. Aku tidak mau menuntut terlalu banyak, aku tahu kamu pasti juga sedang kesusahan dalam berjuang. Yang penting kamu terus menjalankan kewajibanmu sebagai kepala keluarga.”
Degg…
Kalimat ini…
Kalimat yang tiba-tiba membuat genangan air di kedua mata Ayah. Bukan tangis sedih, tapi haru. Siapa yang tidak bersyukur mempunyai keluarga yang saling mengerti seperti mereka? Aku rasa kalian pasti menginginkan hal yang sama, begitu pun aku.
Tangis haru tak mampu dibendung. Sambil menyetir, Ayah menyeka tetes air mata dengan tangannya.
“Kenapa menangis? Kamu laki-laki, loh! Sudah nangisnya, nanti kalau Amara bangun dan melihat ayahnya menangis, pasti mengira Ayah cemen,” tambah Bunda menyemangati.
Air matanya berhenti. Ayah ingat bahwa ia adalah kepala keluarga yang harus kuat layaknya pondasi yang menopang bangunan besar.
“Doakan aku selalu menghadapi cobaan-Nya. Semoga rumah impian itu bisa terwujud. Aamiin…”
“Aamiin… Aku selalu mendoakanmu tiada henti, Yah.”
“Bun, ingat lagu lama yang sering kita dengarkan saat Amara baru lahir?”
“Ingat, aku ingat. Memangnya kenapa?”
“Di dalam lagu itu liriknya bilang, ‘takkan terganti’. Kamu tahu tidak artinya apa buat aku?”
“Memangnya apa?”
“Jika hidup diulang berkali-kali, aku akan tetap memilihmu sebagai pendamping hidupku dan Amara sebagai anakku.
“Iih, Ayah bisa saja deh,” Bunda tertawa mendengar gombalan Ayah.
“Serius, Bun.”
Lamanya perbincangan dan canda tawa antara Ayah dan Bunda tidak sedikit pun mengusik Amara. Ia tetap tenang dalam tidurnya. Dari matanya sudah tergambar jelas, ia pulas karena kelelahan. Bunda terus mengajak Ayah mengobrol agar Ayah tidak lengah dalam mengemudi.
Mobil berjalan semakin pelan, dan Amara terbangun. Setelah melewati beribu kilometer panjangnya rel kereta api dan jalan raya, akhirnya mereka sampai di tempat tinggal baru. Ayah menurunkan semua koper dan barang dari mobil. Lalu menelpon pemilik kontrakan untuk mengambil kunci.
Suara gemerincing kunci terdengar bersamaan dengan seretan sandal jepit yang semakin dekat. Terlihat dari kejauhan, seorang ibu mengenakan daster warna biru langit bercorak hitam. Ia berkacamata, rambutnya dijepit, dan terpasang koyo di samping kedua matanya. Ia menyerahkan kunci rumah kepada ayah. Meskipun kontrakan itu nampak bersih dan terawat, nyonya rumah itu tetap menaruh harap agar mereka bisa merawatnya dengan baik.
Ceklekk…
Pintu terbuka seperti memberi ucapan selamat datang pada mereka.
“Tempatnya bersih sekali ya? Seperti baru saja disewa,” kagum Bunda.
“Sepertinya memang baru saja ditinggali,” terka Ayah.
Amara memandangi setiap sudut rumah tersebut, matanya tak sengaja menangkap sebuah benda lebar berwarna hitam.
“Televisi! Itu televisi!” seru Amara tak sabar ingin menonton serial di dalamnya. Ia berlari menuju benda itu dengan bersemangat.
“Amara mau lihat televisi?” tanya Bunda.
“Mau!” jawab Amara antusias.
“Nanti saja ya? Istirahat dulu baru nanti lihat televisi,” suruh Bunda agar Amara bisa merehatkan badan.
“Sekarang saja, Bun” ucap Amara tak sabar.
“Istirahat dulu, Nak. Kamu kan capek, kasihan badanmu butuh istirahat,” Ayah menasihati Amara dengan lembut.
“Tapi, aku maunya sekarang.”
“Istirahat dulu, nanti biar dicek Ayah dulu. Takutnya televisinya rusak,” ucap Bunda.
“Baiklah kalau begitu,” Amara menjawab dengan mulut ditekuk tanda kecewa.
Bunda mengajak Amara untuk membersihkan diri. Mereka mencari kamar mandi di tempat tinggal baru tersebut. Ternyata kamar mandinya bersih, tidak seperti yang Bunda bayangkan. Airnya pun jernih tidak berbau. Bunda bersyukur menemukan kontrakan murah dengan kondisi yang sangat layak ditinggali.
Mungkinkah kehangatan keluarga ini akan kembali terasa di atap yang berbeda? Atau justru berpindah rumah malah menghancurkan keharmonisan ini?
Other Stories
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
Sang Maestro
Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Cinta Di Ibukota
Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...
Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan Kisah
Bagaimana jika kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ternyata datang setelah semuanya ter ...