Gema Dari Masa Lalu
Cahaya jingga kemerahan mulai tenggelam di cakrawala Pulau Rante, membasuh pasir pantai dengan warna yang hangat. Di teras sebuah resort kayu yang tenang, Randa, seorang karyawan swasta dari kota besar, menutup buku tua bersampul kulit kusam yang ia temukan di pojok perpustakaan kecil resort tersebut.
Napasnya tertahan. Baris terakhir kisah Putri Raisa, Pangeran Bhima, dan pengorbanan Arutala masih terngiang di kepalanya.
Randa datang ke pulau ini dengan sisa-sisa kewarasan yang hampir habis. Sudah bertahun-tahun ia terjebak dalam ruang yang dingin, menghadapi atasan yang manipulatif, dan sistem kantor yang tidak adil. Ia sering melihat rekan kerjanya yang jujur didepak, sementara mereka yang penjilat naik takhta. Ia merasa seperti Raisa yang terbuang, atau mungkin seperti Arutala, seseorang yang bekerja keras dengan kesetiaan penuh, namun akhirnya "dieksekusi" secara mental oleh sistem yang kejam.
"Ternyata, ketidakadilan kekuasaan itu sudah ada sejak zaman legenda," bisik Randa pada angin laut.
Ia memandang ke arah bukit hijau di tengah pulau, tempat yang dalam buku itu disebut sebagai lokasi pondok Raisa dan Bhima. Legenda itu memberinya sebuah tamparan keras. Raisa lebih memilih hidup di pulau terpencil daripada kembali ke istana yang megah namun busuk. Bhima lebih memilih meninggalkan status pangerannya daripada tunduk pada hukum yang membunuh cinta. Dan Arutala... ia mati demi sebuah keyakinan.
Randa mengambil ponselnya yang sejak awal liburan ia matikan. Layarnya menyala, menampilkan puluhan notifikasi pesan singkat dari grup kantor dan email dari bosnya yang menuntut laporan segera setelah ia kembali.
Ia tersenyum getir. Penat dan frustasi yang membukal di dadanya selama ini tiba-tiba terasa ringan. Ia menyadari bahwa selama ini ia membiarkan dirinya "dirantai" oleh ketakutan akan kehilangan pekerjaan, sama seperti rakyat Prabha yang ketakutan pada kutukan yang sebenarnya tidak ada.
Dengan jemari yang mantap, Randa mulai mengetik sebuah surat elektronik. Bukan laporan yang diminta atasannya, melainkan sebuah surat pengunduran diri.
“Cinta dan kesetiaan tidak seharusnya berjalan beriringan dengan ketidakadilan,” tulisnya, mengutip kalimat dari bagian akhir legenda yang baru ia baca.
Setelah menekan tombol send, Randa menarik napas dalam-dalam. Udara Pulau Rante yang bersih memenuhi paru-parunya. Besok, ia akan pulang bukan untuk kembali ke rutinitas pekerjaannya melainkan untuk memulai hidup baru yang lebih adil bagi dirinya sendiri.
Legenda Putri Raisa dan Arutala mungkin berakhir tragis di masa lalu, namun di tangan Randa, kisah itu menjadi kunci pembuka belenggu masa depannya. Di tepi pantai Pulau Rante, Randa akhirnya menemukan kembali alasan hidupnya yang sesungguhnya.
Napasnya tertahan. Baris terakhir kisah Putri Raisa, Pangeran Bhima, dan pengorbanan Arutala masih terngiang di kepalanya.
Randa datang ke pulau ini dengan sisa-sisa kewarasan yang hampir habis. Sudah bertahun-tahun ia terjebak dalam ruang yang dingin, menghadapi atasan yang manipulatif, dan sistem kantor yang tidak adil. Ia sering melihat rekan kerjanya yang jujur didepak, sementara mereka yang penjilat naik takhta. Ia merasa seperti Raisa yang terbuang, atau mungkin seperti Arutala, seseorang yang bekerja keras dengan kesetiaan penuh, namun akhirnya "dieksekusi" secara mental oleh sistem yang kejam.
"Ternyata, ketidakadilan kekuasaan itu sudah ada sejak zaman legenda," bisik Randa pada angin laut.
Ia memandang ke arah bukit hijau di tengah pulau, tempat yang dalam buku itu disebut sebagai lokasi pondok Raisa dan Bhima. Legenda itu memberinya sebuah tamparan keras. Raisa lebih memilih hidup di pulau terpencil daripada kembali ke istana yang megah namun busuk. Bhima lebih memilih meninggalkan status pangerannya daripada tunduk pada hukum yang membunuh cinta. Dan Arutala... ia mati demi sebuah keyakinan.
Randa mengambil ponselnya yang sejak awal liburan ia matikan. Layarnya menyala, menampilkan puluhan notifikasi pesan singkat dari grup kantor dan email dari bosnya yang menuntut laporan segera setelah ia kembali.
Ia tersenyum getir. Penat dan frustasi yang membukal di dadanya selama ini tiba-tiba terasa ringan. Ia menyadari bahwa selama ini ia membiarkan dirinya "dirantai" oleh ketakutan akan kehilangan pekerjaan, sama seperti rakyat Prabha yang ketakutan pada kutukan yang sebenarnya tidak ada.
Dengan jemari yang mantap, Randa mulai mengetik sebuah surat elektronik. Bukan laporan yang diminta atasannya, melainkan sebuah surat pengunduran diri.
“Cinta dan kesetiaan tidak seharusnya berjalan beriringan dengan ketidakadilan,” tulisnya, mengutip kalimat dari bagian akhir legenda yang baru ia baca.
Setelah menekan tombol send, Randa menarik napas dalam-dalam. Udara Pulau Rante yang bersih memenuhi paru-parunya. Besok, ia akan pulang bukan untuk kembali ke rutinitas pekerjaannya melainkan untuk memulai hidup baru yang lebih adil bagi dirinya sendiri.
Legenda Putri Raisa dan Arutala mungkin berakhir tragis di masa lalu, namun di tangan Randa, kisah itu menjadi kunci pembuka belenggu masa depannya. Di tepi pantai Pulau Rante, Randa akhirnya menemukan kembali alasan hidupnya yang sesungguhnya.
Other Stories
Cowok Hujan
Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Aru Dan Memoar Yang Hilang
Manusia bisa lebih berbahaya dari makhluk apa pun di alam ini. Bertahun-tahun lalu, manusi ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...