Pasti Dia
“Usir dia!”
“Asingkan dia!”
“Bau… menjijikkan!”
Teriakan itu kini sering terdengar di Kerajaan Prabha. Rakyat yang dulu memuji Putri Raisa mulai takut padanya. Karena tidak ada yang tahu penyakitnya, banyak orang percaya itu adalah kutukan yang bisa membawa bencana bagi kerajaan.
Di pasar dan jalanan, orang-orang mulai menuntut agar sang putri diasingkan demi keselamatan rakyat.
Di rumah kecil di pinggir ladang, Arutala mendengar kabar itu. Tanpa ragu ia ingin pergi ke istana.
Namun ibunya, Mbok Iyem, mencoba menghentikannya.
“Jangan ke sana. Keadaan berbahaya,” katanya cemas.
“Tapi Raisa sendirian,” jawab Arutala. “Aku tidak bisa meninggalkannya, aku sudah janji.”
Sebelum ibunya sempat menahan lagi, Arutala berlari menuju istana di tengah hujan.
Saat tiba di gerbang, para penjaga menghentikannya.
“Aku harus bertemu Putri Raisa,” katanya.
“Perintah raja. Tidak seorang pun boleh masuk,” jawab penjaga.
Keributan itu sampai ke telinga Raja Khandra. Ketika raja datang, Arutala memohon agar diizinkan menemui Raisa.
Namun raja menolak keras.
“Usir dia,” perintahnya.
Para penjaga mendorong Arutala keluar dari gerbang istana. Ia jatuh di batu basah, tetapi tetap bangkit dan berdiri di depan gerbang meski hujan semakin deras.
Di salah satu jendela istana, Raisa berdiri diam melihatnya dari jauh.
Arutala tetap menunggu di luar, tidak pergi.
Untuk sesaat hati Raisa bergetar, ada seseorang yang masih datang dan tidak menjauhinya. Namun luka dan kepedihan dalam dirinya terlalu besar.
Ia memalingkan wajah dan menutup tirai.
Di luar, Arutala tetap berdiri di bawah hujan.
Dan di dalam kamar gelapnya, Raisa hanya bisa memikirkan satu pertanyaan yang menyakitkan.
Mengapa mereka begitu jahat padaku?
“Asingkan dia!”
“Bau… menjijikkan!”
Teriakan itu kini sering terdengar di Kerajaan Prabha. Rakyat yang dulu memuji Putri Raisa mulai takut padanya. Karena tidak ada yang tahu penyakitnya, banyak orang percaya itu adalah kutukan yang bisa membawa bencana bagi kerajaan.
Di pasar dan jalanan, orang-orang mulai menuntut agar sang putri diasingkan demi keselamatan rakyat.
Di rumah kecil di pinggir ladang, Arutala mendengar kabar itu. Tanpa ragu ia ingin pergi ke istana.
Namun ibunya, Mbok Iyem, mencoba menghentikannya.
“Jangan ke sana. Keadaan berbahaya,” katanya cemas.
“Tapi Raisa sendirian,” jawab Arutala. “Aku tidak bisa meninggalkannya, aku sudah janji.”
Sebelum ibunya sempat menahan lagi, Arutala berlari menuju istana di tengah hujan.
Saat tiba di gerbang, para penjaga menghentikannya.
“Aku harus bertemu Putri Raisa,” katanya.
“Perintah raja. Tidak seorang pun boleh masuk,” jawab penjaga.
Keributan itu sampai ke telinga Raja Khandra. Ketika raja datang, Arutala memohon agar diizinkan menemui Raisa.
Namun raja menolak keras.
“Usir dia,” perintahnya.
Para penjaga mendorong Arutala keluar dari gerbang istana. Ia jatuh di batu basah, tetapi tetap bangkit dan berdiri di depan gerbang meski hujan semakin deras.
Di salah satu jendela istana, Raisa berdiri diam melihatnya dari jauh.
Arutala tetap menunggu di luar, tidak pergi.
Untuk sesaat hati Raisa bergetar, ada seseorang yang masih datang dan tidak menjauhinya. Namun luka dan kepedihan dalam dirinya terlalu besar.
Ia memalingkan wajah dan menutup tirai.
Di luar, Arutala tetap berdiri di bawah hujan.
Dan di dalam kamar gelapnya, Raisa hanya bisa memikirkan satu pertanyaan yang menyakitkan.
Mengapa mereka begitu jahat padaku?
Other Stories
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...