Ratu Sesungguhnya
Pangeran Bhima tidak tega meninggalkan Raisa dalam kondisi seperti itu. Ia tahu, jika ia kembali ke kerajaannya sendiri sekarang, ia tidak akan pernah bisa membawa Raisa bersamanya karena aturan diplomasi yang rumit. Maka, Bhima mengambil keputusan besar. Ia mengirim kapalnya pulang dengan pesan bahwa ia akan menetap di Pulau Rante sampai waktu yang tidak ditentukan.
"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi, seperti yang ia lakukan," janji Bhima.
Selama berbulan-bulan, Bhima dengan sabar merawat Raisa. Ia meminumkan ramuan kuno yang ia bawa, yang perlahan-lahan mulai memudarkan luka-luka di kulit Raisa hingga pulih sepenuhnya. Namun, meskipun kecantikan fisik Raisa telah kembali, ada sesuatu yang telah mati di dalam dirinya.
Raisa kini sembuh, namun ia menolak untuk kembali ke Kerajaan Prabha. Baginya, tembok istana itu kini hanya melambangkan kekejaman dan ketidakadilan. Ia membenci kekuasaan yang lebih mementingkan martabat dan ketakutan daripada cinta dan kesetiaan seorang rakyat jelata seperti Arutala.
Di pulau yang subur itu, Raisa dan Bhima akhirnya membangun kehidupan baru. Mereka hidup dari hasil tanah yang dulu digarap Arutala. Meski Bhima mencintainya, Raisa menjalani hari-harinya dengan bayang-bayang masa lalu. Setiap kali ia melihat tanaman yang tumbuh subur di pulau itu, ia teringat bahwa setiap helai daunnya adalah warisan dari tangan Arutala.
Ia tinggal di sana, menjadi ratu tanpa mahkota di sebuah pulau terpencil, memilih untuk mengasingkan diri selamanya dari dunia yang telah membunuh cinta sejatinya demi sebuah aturan yang tak masuk akal. Pulau Rante tak lagi menjadi tempat pembuangan, melainkan saksi bisu tentang cinta yang dikalahkan oleh kekuasaan, dan kesembuhan yang datang terlambat bersama penyesalan.
"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi, seperti yang ia lakukan," janji Bhima.
Selama berbulan-bulan, Bhima dengan sabar merawat Raisa. Ia meminumkan ramuan kuno yang ia bawa, yang perlahan-lahan mulai memudarkan luka-luka di kulit Raisa hingga pulih sepenuhnya. Namun, meskipun kecantikan fisik Raisa telah kembali, ada sesuatu yang telah mati di dalam dirinya.
Raisa kini sembuh, namun ia menolak untuk kembali ke Kerajaan Prabha. Baginya, tembok istana itu kini hanya melambangkan kekejaman dan ketidakadilan. Ia membenci kekuasaan yang lebih mementingkan martabat dan ketakutan daripada cinta dan kesetiaan seorang rakyat jelata seperti Arutala.
Di pulau yang subur itu, Raisa dan Bhima akhirnya membangun kehidupan baru. Mereka hidup dari hasil tanah yang dulu digarap Arutala. Meski Bhima mencintainya, Raisa menjalani hari-harinya dengan bayang-bayang masa lalu. Setiap kali ia melihat tanaman yang tumbuh subur di pulau itu, ia teringat bahwa setiap helai daunnya adalah warisan dari tangan Arutala.
Ia tinggal di sana, menjadi ratu tanpa mahkota di sebuah pulau terpencil, memilih untuk mengasingkan diri selamanya dari dunia yang telah membunuh cinta sejatinya demi sebuah aturan yang tak masuk akal. Pulau Rante tak lagi menjadi tempat pembuangan, melainkan saksi bisu tentang cinta yang dikalahkan oleh kekuasaan, dan kesembuhan yang datang terlambat bersama penyesalan.
Other Stories
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...
Di Luar Rencana
Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...