Bab 1 Saksi Tunggal
Udara dingin menusuk sampai ke tulang, lembap. Bau rumput basah menggantung dikeheningan malam. Aku membuka mata perlahan… gelap. Tubuhku tertimbun sesuatu yang berat, aku hampir tidak bisa bergerak. Kepalaku berdenyut, seperti menolak untuk berpikir. Aku mencoba menggerakan diri, pelan, memaksa otot-ototku bekerja meski terasa asing. Sesuatu itu masih menahanku, dengan sisa tenaga aku mendorongnya. Butuh waktu beberapa menit, atau mungkin hanya beberapa detik, aku tak yakin. Akhirnya beban itu bergeser.
Aku bangkit setengah tersandung, napasku kacau. Aku memaksanya kembali stabil, Ketika pandanganku jatuh pada sesuatu disampingku… seseorang.
Tubuh itu tergeletak diam. Aku berhenti bergerak.
Baru kusadari, yang tadi menimpaku… adalah tubuhnya.
Bau amis itu langsung kukenali, pelan, lalu semakin jelas. Aku menoleh lagi, kali ini lebih lama. Darah… terlalu banyak.
Bajuku terkena darah, wajar…tubuh itu tadi berada tepat di atasku. Aku memperhatikannya sebentar, lalu mengulurkan tangan ke gagang pisau yang masih menancap di dadanya. Kutarik perlahan, darah mengalir lebih banyak. Aku menatapnya sejenak. Ini harus disingkirkan…
Bukan apa-apa, hanya untuk memastikan tidak ada hal yang bisa disalahartikan. Sidik jari, misanya.
Aku tidak tahu siapa yang melakukan ini. Tapi aku tahu bagaimana orang akan melihatnya. Setelah tenagaku cukup stabil, aku merogoh saku celana, mengambil ponsel, lalu menghubungi polisi.
***
Ruangan itu lembap dan pengap. Tidak ada jendela, hanya kaca tebal di satu sisinya, seperti cermin dua arah. Lampu temaram di tengah ruangan menggantung malas. Aku duduk di kursi besi yang berdecit nyaring saat digeser. Di depanku, seorang polisi berkumis lebat, menatap layar laptopnya, siap mencatat apa pun apa yang akan kuucapkan mala mini.
“Jadi, bisa anda ceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam ini, Pak Rio?”
Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Saya… kami pulang lembur. Waktu itu gelap. Kami memilih jalan pintas. Di ujung gang, ada seseorang mengikuti kami. Kami mempercepat Langkah, sampai di lapangan berumput dekat sungai.”
Aku berhenti sejenak.
“Semuanya terjadi begitu cepat. Seseorang memukul ke arah kami…lalu saya tidak ingat apa-apa. Sepertinya saya pingsan. Saat sadar, tubuh Arya sudah berada di atas saya.”
“Jadi, anda mengenal korban?”
“Iya. Kami rekan kerja.”
Hening sesaat.
“Apakah anda lihat siapa yang menyerang?”
“Tidak terlalu jelas… Seseorang dengan topi biru muda. Sepertinya memakai jaket hijau army.”
“Menarik.” Kata polisi itu, “anda bilang tadi gelap.”
“Gelap bukan berarti tidak terlihat sama sekali,” jawabku ringan. “Kadang mata hanya butuh waktu untuk terbiasa.”
Polisi itu mengangguk.
“Kalian pulang lembur sekitar pukul sebelas?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Dan kejadian sekitar tengah malam.”
Ia mengetik sesuatu.
“Luka korban akibat tusukkan benda tajam. Apakah anda melihat pelaku menusuk korban?”
“Tidak. Sepertinya dia langsung membuang pisaunya.”
Jemarinya berhenti di atas keyboard.
“Saya tidak menyebutkan itu pisau.”
“Maksud saya…lukanya terlihat seperti tusukan pisau.”
Telapak tanganku mulai basah.
“Apakah korban pernah bercerita tentang masalah pribadi, ancaman atau musuh? Atau apa kalian memiliki musuh?”
“Saya tidak punya. Tapi…ada seseorang di tempat kerja kami yang tidak menyukai Arya.”
“Apakah anda menyentuh atau memindahkan benda apa pun di TKP?” Tanyanya lagi.
“Tidak.” Jawabku cepat. “Selain tubuh Arya yang sempat menindih saya. Setelah sadar saya langsung menelpon polisi…dan menunggu.”
“Apakah ada hal lain yang anda ingat? Sekecil apa pun yang menurut anda aneh?” lanjutnya.
Hening sejenak.
Aku menggeleng pelan. “Tidak ada.”
Ia menatapku beberapa detik lebih lama, seolah menimbang sesuatu.
“Apakah anda bersedia memberikan keterangan tambahan jika dibutuhkan?”
“Tentu saja.” Ucapku berusaha terdengar kooperatif. Aku hanya ingin ini segera berakhir.
Beberapa detik kemudian ia menutup laptopnya.
“Baik. Untuk sementara cukup. Anda boleh pulang.”
Udara di luar masih dingin, tapi langit mulai berubah warna, semburat kemerahan tipis di ujung cakrawala. Pagi hampir datang.
Aku melangkah keluar dari kantor polisi.
Dada ini tidak sepenuhnya lega.
Tapi…semua berjalan sebagaimana mestinya.
Seharusnya tidak ada yang salah.
Other Stories
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
The Pavilion
35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...
Ilusi Yang Sama
Jatuh cinta pada wanita yang selalu tersakiti, Rian bertekad menjadi pria yang berbeda. Na ...
KEDUNG
aku adalah dia yang tertutup ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Conclusion
Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...