The Innocent

Reads
364
Votes
2
Parts
10
Vote
Report
Penulis CaRyn

Bab 9 Saksi Tunggal (lagi)

Aku kembali duduk di kursi besi itu lagi. Di ruangan yang lembap dan pengap. Tidak ada jendela, hanya kaca tebal yang aku yakin itu adalah cermin dua arah. Lampu temaram di tengah ruangan masih menggantung malas. Semua sangat tidak asing. Aku pernah mengalami semua ini. Cara aku duduk pun terasa sama. Bahkan polisi berkumis tebal yang duduk di depanku semua persis seperti waktu itu. Namun, kali ini ekspresinya lebih muram, lebih kejam, seolah aku adalah tersangka. Bahkan tanganku diborgol. Padahal aku hanya saksi tunggal.

“Pak Rio tolong ceritakan sekali lagi tentang kejadian malam itu?”

Aku menghela napas Panjang.

“Saya dan Arya pulang lembur pukul sebelas. Kami melewati jalan pintas. Lalu di ujung gang ada dua orang mengikuti kami. Salah satunya memakai masker dan topi biru muda. Mereka menyerang. Saya pingsan dan saat bangun Arya sudah tak bernyawa.” Jawabku lancar, karena ini yang sering kudengar.

“Waktu itu anda mengatakan satu orang yang menyerang kalian. Dan anda tidak menyebut dia memakai masker. Mana yang benar?”

Aku terdiam sejenak. Mencoba menyusun potongan puzzle itu sekali lagi.

“Waktu itu saya tidak ingat ada dua orang. Namun setelah beberapa lama…itulah faktanya. Saya yakin itu.” Ucapku berusaha terdengar santai.

Polisi itu terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan.

“Baik. Apakah anda menemukan pisau ditempat kejadian?”

“Tidak. Tidak ada.” Jawabku terlalu cepat.

“Lalu, kenapa bisa ada sidik jari anda di pisau itu?” Tanyanya lagi.

Aku terdiam sebentar. Cukup lama untuk menyadari aku harus segera menjawab.

“Sidik jari bisa salah. Saya ada di tempat kejadian… itu wajar. Siapapun bisa menyentuh apa saja tanpa sadar.” Aku menelan pelan.

“Mungkin… mungkin pembunuhnya mencoba menjebak saya.”

Polisi itu menatapku lebih lama dari yang seharusnya. Seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak ia ucapkan.

“Ada laporan, bahwa anda menyembunyikan pisau itu di gudang kain.”

Jadi… ada seseorang yang melapor.

Atau… seseorang yang ingin aku terlihat bersalah.

“sudah saya katakan. Mungkin saya dijebak.” Jawabku masih datar, meski keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku.

“ada saksi pada malam kejadian itu. Dan ia tidak mengatakan hal yang sama dengan yang barusan anda ceritakan.”

“Tentu saja.” Aku tersenyum tipis. “Cerita bisa direkayasa, Pak. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi…”

Aku berhenti sejenak.

“…kecuali saya… dan Arya…”

Hening untuk sesaat. Bahkan, aku sendiri merasa kalimat itu terdengar aneh.

Polisi itu menghela napas Panjang, lalu menutup laptopnya perlahan.

“Baik, Pak Rio. Untuk sementara kami tidak bisa memulangkan anda. Semua bukti mengarah pada anda. Anda akan ditahan sampai ada keterangan selanjutnya.”

Ditahan.

Kata itu menggantung di kepalaku. Aneh… Karena yang kurasakan bukan takut. Tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa seperti gangguan. Seperti ada bagian dari cerita ini, yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

***

Udara dalam ruangan dengan terali besi itu terasa lebih dingin dari yang seharusnya. Dinding yang lembap dan bau kesunyian menyeruak. Aku terduduk di lantainya. Ini hanya sementara. Ini bukan sel tahanan yang sesungguhnya. Sebentar lagi mereka akan membebaskanku.

Hari berganti pagi… aku terbangun oleh suara bising kegiatan di kantor polisi saat pagi. Entah ini hari ke berapa aku terbangun di sel ini. Belum ada kepastian…tapi aku tidak bersalah. Sebentar lagi mereka akan membebaskanku….

Pagi yang sama. Kebisingan yang sama. Suara pendingin ruangan dinyalakan, suara mesin ketik. Suara cangkir yang terisi kopi. Beberapa melontarkan humor yang nyaris tidak lucu, tapi mereka terbahak. Dan aku… hanya diam. Mengamati semuanya. Sampai akhirnya suara derap langkah yang asing terdengar. Seseorang memakai setelan jas yang rapi berdiri di depan selku.

“Selamat siang pak Rio, Saya Arif. Pengacara umum yang ditunjuk oleh kejaksaan untuk membela anda di persidangan.”

Persidangan. 

Kata itu tampak asing di telingaku. Aku tak menyangka akan sejauh ini. Aku berdiri perlahan. Seorang polisi membukakan pintu selku. Lalu mereka membawaku ke sebuah ruangan tertutup. Hanya aku dan pengacara itu. Ruangan ini lebih hangat. Atau mungkin… hanya tak sedingin sel tadi. Ia duduk terlebih dahulu. Aku menyusul. Beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Dia membuka map dihadapannya. Sangat rapi. Seolah semua yang ada di dalamnya sudah memiliki tempat…termasuk aku.

“Pak Rio,” Katanya akhirnya, suaranya tenang. “Saya akan bantu anda.”

Aku mengangguk kecil.

“Tapi saya butuh anda jujur.”

Aku tersenyum tipis.

“Saya sudah jujur.”

Jawaban itu keluar tanpa berpikir. Ringan, seolah memang tidak ada pilihan lain.

Dia tidak langsung menanggapi. Hanya mengamatiku sebentar, lalu menarik napas pelan.

“Baik,” Katanya. “Kita mulai dari yang sederhana saja.”

Ia mendorong satu lembar foto ke arahku.

Aku tidak langsung melihatnya. Bukan karena takut. Hanya… tidak perlu.

“Ini pisau yang ditemukan di gudang kain dengan sidik jari anda di dalamnya. Tidak ada sidik jari lain.” Lanjutnya.

Aku tetap diam.

“Dan ini,” jarinya mengetuk pelan meja, “Luka tusuk pada korban. Berdasarkan hasil forensik, polanya cocok.”

Aku akhirnya menunduk. Melihat. Sekilas…lalu lebih lama.

Wajah Arya. Torehan itu…terlalu familiar. Bau amisnya seperti ikut naik dari kertas foto. Tajam. Menempel di tenggorokan. Aku menggeleng pelan.

“Itu bukan pisau saya.”

Kali ini lebih pelan, lebih hati-hati, ia menatapku lurus. Tidak ada emosi, tidak ada tekanan. Justru itu yang membuatnya terasa…berat.

“Saya belum bilang itu pisau anda, Pak Rio.”

Aku menarik napas pendek. Kesalahan kecil. Tapi cukup untuk membuat sesuatu bergerak… di dalam kepalaku. Sesuatu yang tidak nyaman.

“Saya hanya ingin tahu,” lanjutnya, “kenapa anda menjawab secepat itu.”

Aku tersenyum lagi, tipis. Terlatih.

“Karena saya memang tidak melakukan apa-apa. Saya hanya berada di waktu dan tempat yang salah.”

Ia mengangguk. Menutup map-nya perlahan.

“Kalau begitu,” katanya, “ini akan jadi jauh lebih sulit.”

“Sulit untuk siapa?” tanyaku.

Dia menatapku beberapa detik. Lama. Seolah sedang meninmbang sesuatu.

“Untuk anda.” Jawabnya akhirnya.

Aku bersandar.

Tidak ada yang berubah.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Semua…masih terkendali.


Other Stories
(bukan) Tentang Kita

Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Liburan kelulusan SMA membawa Cakra Abiyoga dan sahabat-sahabatnya ke Pantai Parangtritis. ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Download Titik & Koma