Camara Derie

Reads
5
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Hard Day

Zola dan kelompoknya berjuang melalui keadaan sulit. Mereka rasa takut dan kecemasan yang konstan. Namun, mereka tetap bertahan, berjuang untuk bertahan hidup dan mencari harapan di tengah kekacauan.

Mereka bangun dengan perasaan yang berat di hati. Mereka melihat sekeliling mereka, melihat reruntuhan dan kehancuran yang ditinggalkan oleh badai dahsyat. Bangunan-bangunan roboh, jalan-jalan yang tertutup puing-puing, dan lingkungan yang hancur menjadi pemandangan sehari-hari mereka.

Mencari makanan dan air menjadi tantangan yang tak terelakkan. Pasokan makanan yang mereka bawa dari sebelumnya semakin menipis, dan mereka harus bergantung pada apa pun yang bisa mereka temukan. Mereka mencari di reruntuhan toko-toko dan rumah-rumah yang masih berdiri, berharap menemukan sisa-sisa makanan yang bisa mereka konsumsi. Namun, seringkali mereka hanya menemukan tempat yang sudah dijarah oleh orang lain yang juga berjuang untuk bertahan hidup.

Menghadapi cuaca yang ekstrem juga menjadi ujian berat bagi mereka. Badai berkekuatan tinggi masih sering melanda daerah mereka, menghancurkan apa pun yang tersisa. Hujan deras dan angin kencang membuat mereka terus-menerus basah kuyup dan kedinginan. Mereka harus mencari perlindungan sementara, membangun tenda darurat atau mencari tempat perlindungan yang relatif aman dari elemen-elemen yang mengancam.

Tak hanya itu, rasa takut dan kecemasan juga menghantui mereka setiap saat. Mereka selalu waspada terhadap kemungkinan bahaya yang mungkin muncul. Suara angin yang bertiup keras atau gemuruh petir membuat mereka melompat ketakutan. Mereka hidup dalam ketidakpastian, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan apakah mereka akan selamat.

Zola duduk di antara Namdi dan Maldra di sekitar api unggun. Mereka terlihat lelah dan penuh kekhawatiran setelah mencari makanan sepanjang hari. Alex, dan Nora bergabung dengan mereka, membawa sedikit hasil tangkapan ikan dan beberapa tanaman liar yang mereka temukan.

“Hari ini benar-benar sulit, ya? Kita semakin kekurangan makanan.” Zola berkata lirih melihat apa yang diperoleh.

Namdi menggenggam tangan Zola dengan lembut, mencoba memberikan dukungan. “Ya, Zola. Tapi kita tidak boleh menyerah. Kita harus tetap bersatu dan mencari cara untuk bertahan.”

Maldra mengangguk, menatap api unggun dengan pandangan penuh tekad. “Benar, Namdi. Kita harus tetap kuat dan berusaha sekuat tenaga. Kita tidak boleh menyerah pada keputusasaan.”

Namdi yang duduk di samping Alex melihat ke sekeliling dengan pandangan yang penuh perhatian. “Mungkin kita bisa mencari sumber makanan lain. Apa yang bisa kita temukan di sekitar sini?” katanya dengan optimis.

Nora mengangkat ikan yang ditangkapnya dan berujar, “Saya dan Alex menemukan beberapa ikan di sungai. Ini bisa memberi kita sedikit makanan tambahan.”

Semua yang ada di sana melihat beberapa ekor ikan itu. Mereka tidak berkomentar apapun juga. Mengeluh karena hanya hasil yang tidak seberapa tentu hanya akan menjadi bumerang di tengah situasi sekarang. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah menerima dengan apa adanya.

Maldra mengangguk sambil berkata, “Ya, Alex dan Nora juga menemukan beberapa tanaman liar yang bisa kita makan. Ini mungkin bisa membantu kita bertahan sementara.”

Mendengar kata ‘bertahan sementara’ ada sekelompok laki-laki yang mendengkus. Hal itu tentu saja didengar oleh sebagian dari mereka. Namun, tidak ada yang mampu mengucapkan apa-apa lagi. Sekali lagi mereka cuma bisa menerima dengan apa adanya.

Mereka tidak lebih dari tiga puluh orang, sepuluh di antaranya hanyalah anak-anak kecil berusia di bawah sepuluh tahun. Dengan kesigapan penghuni Ocean Shack, setidaknya mereka dapat bertahan sampai bantuan yang diharapkan benar-benar tiba.

Ini adalah kelompok survivor lainnya yang ditemukan oleh Zola dan kawan-kawan ketika menuju tempat perlindungan. Semuanya berkumpul di sebuah rumah yang tampaknya merupakan homestay besar karena lantai satunya tidak mengalami dampak parah seperti bangunan lainnya.

Akhirnya mereka semua kembali ke pusat penampungan karena jauh lebih aman bersatu dengan korban lainnya. Ditambah Zola yang menggendong bayi kecil merasa sebaiknya lebih dekat ke pusat penampungan yang jauh lebih steril dibanding tempat berteduh lainnya.

Alex menunjukkan tanaman liar. “Ini adalah tanaman yang biasa tumbuh di hutan ini. Beberapa di antaranya bisa dimakan.”

Nora berkata dengan semangat, “Kita harus tetap mencari dan memanfaatkan semua sumber daya yang tersedia. Kita tidak boleh menyerah.”

Zola mengangguk, menghela nafas dalam-dalam. “Kita harus mencoba. Kita tidak punya pilihan lain.,” katanya dengan suara lemah, pertanda dia sudah lelah. Tangannya menggendong bayi laki-laki yang tampak terlelap.

Namdi menggenggam tangan Zola dengan erat dan berkata, “Kita akan melakukannya bersama-sama, Zola. Kita adalah keluarga.”

Di tengah semua kesulitan itu, mereka menemukan kekuatan dalam persatuan dan solidaritas. Mereka saling mendukung dan bekerja sama untuk menghadapi tantangan yang mereka hadapi. Mereka berbagi sumber daya yang mereka miliki, berbagi makanan dan air, dan saling memberikan dukungan emosional. Mereka membentuk komunitas yang kuat, di mana setiap anggota memiliki peran dan tanggung jawabnya sendiri.

Mereka juga menemukan harapan di tengah kekacauan. Mereka membangun mimpi tentang masa depan yang lebih baik, di mana mereka bisa bangkit dari puing-puing dan memulai kehidupan baru. Mereka berusaha untuk tetap optimis dan melihat setiap kesulitan sebagai peluang untuk tumbuh dan belajar.

Hari-hari sulit terus berlalu, tetapi Zola dan kelompoknya tidak pernah menyerah. Mereka terus berjuang, terus mencari makanan dan air, terus melawan cuaca yang ekstrem, dan terus melawan rasa takut dan kecemasan. Mereka tahu bahwa di tengah kegelapan, ada cahaya yang masih bersinar. Mereka tahu bahwa dengan kekuatan komunitas dan tekad yang kuat, mereka dapat menghadapi segala tantangan yang ada di depan mereka.


Other Stories
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

Menjamah Jauh: Tentang Kota Dan Kenangan

Kadang, cerita liburan tak selalu berakhir indah. Musim panas tahun lalu di Malang, Tama m ...

Reuni Mantan

Arif datang ke vila terpencil bersama para mantan Sarah lainnya. Ketika seorang pembunuh m ...

Cowok Hujan

Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Download Titik & Koma