Kilauan Minyak
Ratu Shima berhenti. Ia tidak berteriak. Ia tidak bergerak. Ia hanya berdiri mematung.
Senopati Wira, sang panglima perang yang biasanya selalu punya kata-kata tegas, tampak mematung. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak menatap kaki pangeran. Ia tampak shock, benar-benar tidak menyangka bahwa kekhawatirannya akan menjadi kenyataan dengan cara sekonyol ini. Wira tidak sanggup mengeluarkan suara. Ia hanya menggenggam hulu kerisnya hingga buku-buku jarinya memutih.
Waktu seperti terhenti, semua orang membeku. Meskipun demikian, dari sudut matanya, Bram menangkap gerakan cepat di kerumunan seberang. Tanpa pikir panjang, dia membidikkan kameranya untuk menangkap gerakan sosok itu.
KLIK! Layar kamera Chronos bergetar dan menunjukkan angka terakhir: 4%.
Rakyat di sekitar alun-alun mulai menunjukkan reaksi ketakutan yang luar biasa. Beberapa ibu menutup mata anak-anak mereka, yang lain bersujud sambil gemetar. Mereka tahu apa artinya ini. Di bawah hukum Ratu Shima, menyentuh barang ujian adalah pelanggaran berat yang setara dengan pencurian. Udara terasa tebal oleh rasa ngeri yang kolektif.
\"Ibu … \" Suara Narayana pecah, bergetar hebat.
Ratu Shima perlahan berbalik. Wajahnya tampak seperti pahatan batu es. \"Aku tidak melihat seorang putra di sini,\" ucapnya, suaranya sangat rendah sekaligus tajam hingga membuat orang-orang di barisan depan merinding. \"Aku melihat seorang pelanggar hukum Kalingga.\"
Gupita segera melangkah maju, mendekati Ratu. Ia tampak sangat sedih, wajahnya menunjukkan empati yang dalam. Ia memegang lengan Ratu Shima dengan lembut.
\"Gusti Ratu yang Mulia,\" bisik Gupita, cukup keras untuk didengar oleh orang-orang di sekitarnya. \"Mohon ampunkan hamba yang lancang ini. Bukankah Gusti Pangeran tidak sengaja? Pangeran hanya tergelincir. Mungkin Gusti bisa mempertimbangkan untuk memikirkan ulang keputusan ini ... demi kedamaian istana.\"
Kata-kata Gupita terdengar seperti pembelaan yang tulus. Namun bagi Ratu Shima, itu justru terdengar seperti ujian bagi integritasnya. Ratu melepaskan tangan Gupita dengan perlahan.
\"Hukum tidak mengenal \'tidak sengaja\' ketika kaki sudah menyentuh apa yang bukan miliknya,\" jawab Ratu Shima dengan suara bulat dan tak tergoyahkan. \"Jika aku memaafkan putraku hari ini, maka besok aku tidak punya hak untuk menghukum rakyatku yang mencuri karena lapar. Keadilan Kalingga harus tetap tegak, meski itu harus mematahkan hatiku sendiri.\"
\"Ibu! TIDAK! AKU TIDAK BERMAKSUD!\" Narayana tiba-tiba berteriak histeris. Ia mencoba lari ke arah ibunya, tapi para prajurit yang diliputi ketakutan segera menahannya.
\"Lepaskan aku! Wira! Tolong aku!\" Narayana meronta-ronta, air mata mengalir deras di pipinya yang tadi merah merona karena tawa. \"Ibu, lihat aku! Ini aku, Narayana! Aku tidak mencuri! Aku hanya tergelincir!\"
Pangeran yang tadinya begitu agung kini tampak seperti anak kecil yang ketakutan setengah mati. Suara teriakannya yang histeris membelah kesunyian alun-alun, membuat banyak rakyat mulai menangis sesenggukan. Mereka mencintai pangeran mereka, tapi mereka juga sangat takut pada hukum Ratu.
Ratu Shima menutup matanya sejenak, lalu membukanya kembali dengan sorot mata yang lebih keras dari baja. \"Bawa dia ke penjara bawah tanah. Besok, saat matahari tepat di puncaknya, hukuman akan dijatuhkan.\"
Wira masih diam membisu. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang mendalam, seolah ia baru saja melihat dunia yang ia jaga runtuh di depan matanya. Ia hanya memberikan isyarat lemah dengan tangannya kepada para prajurit.
Narayana diseret paksa. Suara cakaran sandalnya di atas lantai batu dan teriakan histerisnya yang memanggil nama ibunya terus bergema bahkan setelah ia menghilang di balik pintu gerbang istana. Suasana alun-alun berubah menjadi sangat mencekam. Rakyat bubar dengan terburu-buru. Takut jika mereka terlalu lama di sana, amarah hukum akan ikut menelan mereka.
Bram kembali ke paviliunnya dengan tubuh yang terasa sangat dingin. Ia mengunci pintu, tangannya gemetar hebat saat ia mengeluarkan kamera Chronos.
[Status Baterai: 4%]
Angka itu tampak seperti sisa waktu hidupnya. Ia membuka hasil jepretan terakhir. Sosok seorang wanita tertangkap di kamera itu. Wajahnya tertutup kain hitam, begitu juga dengan pakaiannya. Perawakannya nampak familier, tapi Bram tidak bisa mengingat dengan jelas di mana dia pernah melihatnya.
Bram menggeser ke hasil jepretan sebelumnya. Di sana, di tengah kekacauan momen itu, terlihat jelas kaki pangeran yang menyentuh kantong. Namun, di dekat undakan yang rendah itu, Bram melihat sesuatu yang tertangkap oleh sensor kamera masa depannya. Di antara pasir-pasir halus, ada lapisan tipis minyak yang membuat batu itu menjadi licin secara tidak wajar.
\"Ini bukan sekadar kecerobohan,\" bisik Bram. \"Seseorang telah melumasi lantai di sekitar kantong emas itu.\"
Bram terduduk di lantai, mendekap kameranya. Empat persen. Ia harus memutuskan, apakah ia akan menggunakan sisa dayanya untuk menyelidiki minyak itu dan menyelamatkan pangeran, atau menyimpannya untuk mencari cara agar dia bisa pulang ke tahun 2005?
Di luar, suara burung gagak mulai bersahut-sahutan, seolah sedang menyambut hari pengadilan yang akan menjadi sejarah paling kelam di tanah Kalingga.
***
Lilin-lilin di gedung tempat Bramantyo bermukim menari ditiup angin malam yang masuk melalui celah dinding kayu, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti raksasa yang sedang mengintai. Bram duduk di tepi bale-bale, menatap layar kamera Chronos yang kini menunjukkan angka 4%. Angka merah itu berkedip pelan, seolah-olah memberikan peringatan bahwa waktu bagi pangeran—dan waktu bagi Bram untuk kembali ke masa depan—hampir habis.
Pintu gedung berderit. Gupita masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sangat lelah. Ada gurat kesedihan yang mendalam di matanya, dan sisa-sisa air mata yang belum kering sepenuhnya.
\"Dia tidak mau makan,\" bisik Gupita sambil duduk di depan Bram. \"Gusti Pangeran hanya menangis di pojok penjara. Dan Gusti Ratu ... beliau mengurung diri di ruang peribadatan. Tidak ada yang berani mendekat.\"
Bram menatap Gupita dengan intens. Ia tidak bisa lagi menahan apa yang ia temukan. \"Gupita, dengarkan aku baik-baik. Kejadian tadi pagi bukan murni kecerobohan Pangeran Narayana. Dia dijebak.\"
Gupita tersentak, kepalanya mendongak cepat. \"Apa maksudmu? Seluruh rakyat melihatnya sendiri, Bram. Kakinya menyentuh kantong itu. Tidak ada yang mendorongnya, tidak ada yang menyentuhnya.\"
\"Memang tidak ada yang menyentuh pangeran, tapi ada yang \'menyentuh\' lantai di sekitar kantong emas itu,\" jawab Bram tegas. Ia mengeluarkan kamera Chronos dari tasnya, meski ia tahu menunjukkan benda ini adalah risiko besar. Ia menyalakan layar pratinjau dan memperbesar foto yang ia ambil. \"Lihat ini. Di sini, di bawah pantulan cahaya matahari, kau bisa melihat kilauan yang tidak wajar di atas lantai batu. Itu minyak, Gupita. Lantai di sekitar meja itu dilumasi secara sengaja agar siapa pun yang berjalan terlalu dekat akan kehilangan keseimbangan.\"
Gupita mendekat, matanya menyipit menatap layar kecil yang bercahaya biru itu. Tubuhnya menegang saat melihat detail yang ditunjukkan Bram. \"Minyak? Bagaimana mungkin? Siapa yang berani melakukan hal sekeji itu di bawah hidung para penjaga?\"
\"Siapa lagi?\" Bram berdiri, suaranya naik satu oktaf karena kemarahan yang meluap. \"Siapa yang paling sering mengeluhkan sifat santai pangeran? Siapa yang tadi pagi tampak sangat terkejut, tapi juga langsung sigap meminta pangeran diseret ke penjara? Ini pasti ulah Senopati Wira dan orang-orang bayarannya!\"
\"Jaga bicaramu, Bramantyo!\" Gupita berdiri, wajahnya memerah. \"Senopati Wira adalah pedang kerajaan ini! Dia sudah bersumpah setia pada Gusti Ratu sebelum kau lahir ke dunia ini. Menuduhnya melakukan makar tanpa bukti yang nyata adalah bunuh diri!\"
\"Bukti nyata? Ini adalah bukti nyata!\" Bram menunjuk kameranya. \"Aku melihatnya, Gupita! Kemarin aku melihat Wira berbicara dengan pria asing di barak. Mereka membicarakan tentang \'kesempatan terbaik\' untuk menegakkan hukum. Wira ingin pangeran jatuh agar dia bisa membuktikan bahwa Kalingga butuh pemimpin yang lebih keras, yang lebih mirip dengannya daripada pangeran yang ramah!\"
\"Kau salah paham pada ketegasannya!\" Gupita berteriak balik, suaranya bergetar hebat. \"Wira memang kaku, dia memang keras, tapi dia bukan penghianat! Dia mencintai pangeran dengan caranya sendiri yang kasar. Dia hanya ingin pangeran disiplin!\"
\"Disiplin tidak melibatkan pelumas di lantai, Gupita!\" Bram melangkah mendekati Gupita, mencoba meredam emosinya agar suaranya tidak keluar dari gedung.
“Dan ini,” lanjut Bram, menunjukkan foto terakhir yang diambilnya. “Wanita ini. Dia bertingkah aneh saat kejadian. Aku melihatnya menyelundup pergi saat semua orang terpaku. Dan aku baru ingat, sosoknya persis dengan yang kulihat malam itu mendekati kantong emas. Aku tidak tahu siapa dia, tapi pastilah dia utusan Wira yang diminta untuk melakukan pekerjaan kotor ini!”
Gupita terbelalak memandang foto wanita itu. Sudut bibirnya bergetar, tapi tidak ada kata-kata yang keluar lagi.
Other Stories
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Dua Tangkai Edelweis
Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...
Kumpulan Tulisan
Sebuah bentuk tulisan tentang pikiran-pikiran yang jenuh dan amarah yang terpendam. ...