Ritual Tanam Benih

Reads
0
Votes
0
Parts
1
Vote
Report
ritual tanam benih
Ritual Tanam Benih
Penulis Adrian Corvus

Chapter 1

Lima pasang penari sudah berada di atas panggung saat aku tiba di barisan penonton. Obor-obor bambu berjajar di sepanjang tepi lapangan, apinya bergoyang pelan setiap kali angin malam lewat, melemparkan bayangan panjang ke wajah-wajah di sekitarku.

Di sini, hampir semua orang memakai topeng. Termasuk aku. Topeng kayu yang kubeli dari lapak dekat gerbang masuk terasa asing di kulit.

Malam ini, para penari wanita mengenakan gaun putih semi-transparan yang jauh lebih terbuka dibanding malam-malam sebelumnya—menyilang tipis di dada, diikat longgar di pinggang, lalu jatuh panjang dengan belahan tinggi yang menyingkap kaki setiap kali mereka melangkah.

Musik gamelan mengalun cepat, ditingkahi suara gendang yang menuntun gerakan lima pasang penari itu.

Pandanganku, entah kenapa, kembali tertahan pada penari wanita yang tubuhnya paling berisi dibanding yang lain. Bukan gemuk—berisi, dengan lekuk yang tegas di pinggang dan pinggul, jenis tubuh yang membuat setiap gerakan tari terasa lebih penuh, lebih berat, lebih ... hidup.

Saat ia memutar tubuh, kain di pinggulnya bergerak setengah detik lebih lambat dari tubuhnya sendiri, dan aku merasakan sesuatu yang panas menjalar di dadaku

Aku terangsang. Aku tidak bisa membantahnya pada diriku sendiri—meski aku berusaha berkata bahwa ini hanya reaksi wajar seorang pria normal yang sedang menonton tarian yang memang dirancang untuk memancing reaksi semacam ini.

Aku melirik ke kanan dan ke kiri. Ternyata bukan cuma aku. Beberapa pria di sekitarku juga mengarahkan pandangan ke perempuan yang sama, diam-diam, dengan cara yang berusaha tidak kentara tapi gagal. Ada yang bersandar sedikit ke depan. Ada yang berbisik pada temannya sambil menunjuk dengan dagu.

Anehnya, alih-alih membuatku kehilangan minat—karena, ya, kalau semua orang menyukai sesuatu, biasanya itu jadi terasa lebih murah—reaksi mereka justru membuatku semakin sadar pada daya tarik perempuan itu. Seolah tatapan orang lain menjadi semacam pengesahan: kau tidak salah menilai, tubuh penari yang kau sukai memang seindah itu.

Aku mulai bertanya-tanya siapa wanita itu. Bagaimana rupanya. Bagaimana senyumnya. Bagaimana—ah, aku sudah punya istri. Jangan tertarik pada wanita lain!
Lalu, sesuatu yang lain muncul, tiba-tiba, tanpa aku minta.

Cara tubuhnya berpindah ketika berputar. Cara bahunya bergerak sepersekian detik sebelum lengannya menyusul. Ritme langkahnya—pendek, ringan, tapi mantap. Dan cara ia berhenti sesaat sebelum mengikuti gerakan pasangannya, seperti menahan napas dulu sebelum melompat.

Aku mengenal ritme itu. Bulan. Istriku.

Batinku menolaknya secepat pikiran itu muncul.

\"Nggak mungkin,\" gumamku, nyaris tak terdengar di bawah suara gamelan.

Aku mencari alasan, satu demi satu, seperti menyusun batu bata untuk menutup lubang yang baru saja terbuka.

Banyak perempuan punya bentuk tubuh seperti itu. Dan Argasari bukan desa kecil. Ada ratusan perempuan di sini yang mungkin saja punya lekuk tubuh serupa. Banyak perempuan yang juga bisa bergerak dengan cara yang mirip; toh gerakan tari memang dilatih, dibentuk, diseragamkan oleh koreografi yang sama.

Dan yang paling penting: istriku tidak mungkin melakukan sesuatu seperti ini. Sebab, Bulan selalu mengenakan hijab setiap kali berada di tempat umum. Bahkan, aku ingat betul ia pernah marah karena aku mempersilakan seorang tamu pria masuk saat dia belum sempat memakai hijab.

Perempuan macam itu tidak akan pernah berdiri di panggung terbuka, dengan busana yang memperlihatkan sebagian besar tubuhnya, di depan lebih dari ribuan pasang mata.

Ck, aku merasa bodoh karena tadi sempat, meski sekilas, menghubungkan penari itu dengan istriku sendiri. Kubuang pikiran itu, kupaksa perhatianku kembali sepenuhnya ke panggung.

Di sana, tanpa beban rasa bersalah yang tadi sempat menggangguku, aku membiarkan diriku membayangkannya sebagai perempuan asing yang sangat menarik.

Aku membayangkan bagaimana rasanya kalau perempuan bertopeng itu ada di atas tubuhku, bergerak indah dalam tarian gairah bersama. Bayangan itu datang begitu saja, deras, dan aku membiarkannya sebentar sebelum rasa malu samar-samar menegurku dari dalam.

Musik mulai berubah. Temponya melambat, gendang dipukul lebih jarang, lebih berat, seperti detak jantung yang sengaja diperlambat untuk menaikkan ketegangan. Gerakan kelima pasang penari ikut melambat.

Perhatian penonton di sekelilingku mengetat, seperti seluruh lapangan menahan napas bersama.

Di sekelilingku, beberapa orang mulai berbisik-bisik. \"Semoga yang itu,\" kata seseorang di belakangku, suaranya rendah tapi terdengar cukup jelas. \"Yang badannya paling berisi. Cocok jadi Dewi Kesuburan,\" kata yang lain. Disusul gumaman setuju dari beberapa arah.

Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang menyusup di antara gairah yang sudah kubangun sejak tadi—semacam harapan kecil yang datang tanpa kuminta: semoga dia tidak terpilih.

Aku sendiri tidak tahu dari mana harapan itu berasal, atau kenapa tiba-tiba muncul, mengingat aku bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya.

Aku menepis pemikiran itu secepat ia muncul. Konyol. Aku baru saja meyakinkan diri sendiri bahwa perempuan itu bukan siapa-siapa yang kukenal.

Aku menatap kembali perempuan bertopeng yang sejak tadi tidak bisa kulepaskan dari pandanganku, dan menyadari harapan orang-orang di sekitarku ternyata sejalan dengan apa yang, entah kenapa, mulai kuharapkan juga.

Kelima penari wanita itu berlutut dalam satu garis. Seorang panitia berjalan di hadapan mereka, memberikan masing-masing selembar daun bertuliskan angka—wanita montok itu mendapat nomor lima.

Setelah semuanya menerima nomor, para pria mengambil posisi di belakang pasangan masing-masing.

Aku memperhatikan mereka satu per satu—tinggi badan, postur, cara berdiri—sebelum mataku kembali, seperti magnet, ke perempuan yang tubuhnya paling menarik perhatianku sejak awal.

Sebuah pikiran yang tadinya hanya berupa fantasi kini mulai terasa seperti kemungkinan nyata: bagaimana kalau perempuan itu yang terpilih?

Aku membayangkan dia menjadi pusat dari seluruh ritual ini—digilir lima laki-laki, menjadi sesuatu yang dipuja sekaligus dinikmati oleh seluruh desa.

Coba langsung lima sekaligus, kata suara dalam diriku.

Aku tidak mengerti kenapa bayangan itu membuat pikiranku semakin liar, bukannya semakin risih. Tubuhku bereaksi tanpa bisa kukendalikan; aku merasa diriku semakin tegang di bawah sana.

Beberapa tokoh ritual lain memasuki panggung. Salah satunya membawa sebuah wadah kecil, yang kuyakin berisi batu-batu undian. Yang lainnya berdiri beberapa langkah di belakangnya, menunggu aba-aba.

Aku kembali menatap penari nomor lima. Perempuan itu masih berlutut dengan kepala sedikit tertunduk. Penari pria di belakangnya berdiri tegak, kedua tangannya berada di sisi tubuh.

Dalam hati aku berharap, dengan cara yang membuatku sedikit terkejut pada diriku sendiri: semoga dia.

Lalu, pikiran lain menyusul, lebih tenang, lebih ingin tahu. Siapa sebenarnya perempuan di balik topeng itu? Apakah ia gadis muda yang baru menikah? Ibu rumah tangga biasa yang sehari-hari sibuk di dapur dan sawah? Seorang janda yang sudah lama sendiri? Atau—

Aku berhenti sejenak pada kemungkinan terakhir: perempuan yang sudah bersuami.

Kalau memang begitu, bagaimana perasaan suaminya, melihat istrinya berdiri di sana, ditonton oleh lebih dari seribu pasang mata, menunggu untuk mungkin dipilih menjadi bagian dari ritual yang akan segera terjadi di atas kasur beralas mawar itu?

Pertanyaan itu terasa aneh bagiku sendiri—aku tidak tahu kenapa pikiranku tiba-tiba berputar ke arah laki-laki yang bahkan mungkin tidak nyata itu.

Kemudian, kemungkinan lain yang jauh lebih mengganggu muncul begitu saja: bagaimana kalau suami perempuan itu sedang berdiri di antara kerumunan ini, di suatu tempat, menonton hal yang sama sepertiku?

Aku menyapukan pandangan ke kerumunan di sekitar, ke wajah-wajah bertopeng yang tidak bisa kubaca ekspresinya. Aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi laki-laki itu—menonton istri sendiri, tanpa bisa berbuat apa-apa, sementara seluruh desa menunggu untuk melihatnya \"dipilih\".

Entah kenapa, dari bayangan itu, pikiranku melompat lagi ke arah yang berlawanan. Aku membayangkan diriku menjadi pria yang menikmati—menikmati istri orang lain, tanpa harus menanggung apa pun setelahnya.

Aku memfokuskan kembali perhatianku pada penari montok itu. Tanganku mengepal erat di sisi tubuh tanpa kusadari. Ada ketegangan aneh yang menjalar di dadaku, semacam menunggu hasil undian sebuah lomba yang taruhannya tidak sepenuhnya kupahami.

Pemimpin ritual mengangkat tangan.

Suara gamelan berhenti sepenuhnya.

Seluruh lapangan mendadak hening.

Aku merasakan telapak tanganku mulai berkeringat.

Seorang tetua melangkah menuju wadah batu undian.

Tangannya terangkat perlahan.

Lalu, tangan itu masuk ke wadah.

BACA SELENGKAPNYA DI https://lynk.id/adriancorvus 


Other Stories
Rana Takdir

"Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang hanya melihat. Sejarah ditulis oleh mereka ...

Di Luar Rencana

Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

First Love Fall

Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...

Seribu Wajah Venus

Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...

Mimi & Peri

Mimi, seorang gadis pecinta alam dari pesisir Bali, menghabiskan liburan sekolahnya di Flo ...

Download Titik & Koma