1. Melankolia Akhir Mei
TIDAK ada yang ingin kulakukan hari ini kecuali berdiam diri. Hujan gerimis di sepanjang hari tadi semakin membuatku enggan pergi ke mana pun. Fakta bahwa diriku sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun tambah memperparah keadaan.
Aku sedang sangat kesepian. Tetapi aku sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemaniku. Sekadar mengajakku berbincang pun tidak. Kejadian semalam seakan melempar tubuhku ke lembah penderitaan tanpa batas. Aku kecewa. Ya, dan aku benar-benar sangat terluka. Lelaki itu
Aku tidak terlalu suka minum kopi. Apalagi merokok, sudah berhenti sebenarnya. Sekali ini aku sedang melakukannya. Merokok membuat tenggorokanku gatal. Aku terbatuk berkali-kali. Harusnya aku menghentikan kegilaan ini. Alih-alih menghentikannya, kucoba untuk menikmati setiap isapan asapnya dengan memejamkan mata. Ketenangan sesaat. Selebihnya, pikiran itu kembali.
Ada apa dengan diriku?
Aku sangat tahu jawabannya. Sebisa mungkin aku tidak ingin membahasnya. Semua orang tidak berhak tahu dengan apa yang kualami. Aku ingin melupakannya, secepat yang aku bisa.
“Kau merokok lagi? Tidak biasanya. Apa yang sedang terjadi, Manisku?” Mama orang yang sangat peduli setiap perubahan yang terjadi pada diriku, sekecil apa pun itu, beliau akan mengetahuinya.
Itu hari kesekian aku merokok setelah beberapa hari lalu aku memulainya lagi, tentu saja Mama memarahiku ketika anak gadisnya mulai merokok setelah sekian lama berhenti. Aku berjanji akan menghentikannya setelah aku tenang. Mama berusaha memakluminya, meski itu berat. Ada perasaan bersalah. Mama hanya mampu menggeleng tanpa ingin mendesakku. Aku hanya mengatakannya dengan lirih. “Tidak ada, Ma. Aku baik-baik saja.”
Mama tahu aku sedang berbohong. Beliau membelai rambutku dengan hangat. “Jika ingin membicarakannya, temui Mama,” ujarnya sebelum pergi.
“Baiklah, Ma. Maafkan aku.” Mama hanya mengangguk. Beliau segera bergegas.
Ada apa dengan diriku?
Berkali-kali, sepanjang hari ini, aku bertanya kepada diriku sendiri. Jelas-jelas aku mengetahui inti permasalahannya. Aku hanya menanyakannya sekadar menegaskan bahwa semua ini adalah nyata. Bukan ilusi.
Other Stories
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...