Metafora Diri

Reads
445
Votes
6
Parts
6
Vote
Report
Penulis Othsha

Dewasa Bersama Luka

Waktu terus berjalan, tak terasa Kirana sudah menjadi gadis dewasa. Gadis dewasa dengan karakter keras, tetapi rapuh di dalam. Ia terlihat sangat indepen dan tak tersentuh. Kehidupan saat ia dewasa juga tidaklah mudah karena pada akhirnya, kedua orang tuanya bercerai dan Kirana selalu dijadikan kambing hitam perceraian.

Kirana dianggap anak yang tak berbakti karena berusaha membujuk sang ibu untuk meninggalkan sang ayah, padahal kenyataan yang terjadi sang ibu sudah beberapa kali mengajukan perceraian kepada sang ayah yang selalu gagal karena lelaki itu mengancam sang ibu dengan hak asuh dan pembagian harta.

Hingga pada akhirnya, sang ibu tetap memilih jalan perpisahan karena tak lagi mampu bertahan dengan semua hal yang dilakukan oleh lelaki itu kepadanya. Kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan bahkan pesugihan yang beberapa kali membahayakan ibu Kirana, telah menyebabkan kesehatan wanita paruh baya itu menurun.

"CUKUP SUDAH! KELAKUAN PAPA UDAH BUAT KAMI MENDERITA SELAMA BERPULUH TAHUN! MASIH KURANGKAH?! KAMI UDAH GEDE PA, MAU SAMPAI KAPAN KAMI NGELIAT PAPA NYIKSA MAMA KAYAK GINI?!" teriak Kirana di tengah amarah yang akhirnya pecah.

Suara gelas terlempar terdengar, tetapi hal itu tak lagi membuat Kirana ketakutan karena emosi sudah menguasai dirinya. Ia menatap wajah lelaki yang sangat dibencinya itu dengan tatapan nanar dan mengembun karena air mata yang membuat netra Kirana berkabut.

Nafasnya terengah karena berteriak keras ke arah sang ayah. Kirana melakukan hal itu karena, untuk kesekian kalinya tangan sang ayah mencekik leher sang ibu. Kirana berusaha melerai keduanya, tetapi sang ayah semakin menguatkan cengkeramannya di leher ibu Kirana. Kirana yang kalut akhirnya lepas kendali dan mengeluarkan semua perasaannya yang terpendam selama ini.

Pada hari itu juga, Kirana keluar dari rumah di usianya yang masih 21 tahun. Sang Ibu mengikuti langkah Kirana karena tak mampu lagi bertahan tinggal seatap dengan lelaki yang sudah menganiaya dirinya selama bertahun-tahun.

Kirana dan sang ibu, keluar tanpa membawa apapun selain pakaian yang bisa mereka kenakan. Sang ayah berusaha mencari mereka, tetapi mereka menyembunyikan diri dengan hidup berpindah-pindah. Mereka menumpang hidup di keluarga dan sahabat sang ibu selama beberapa bulan. Sampai akhirnya, proses perceraian kedua orang tua Kirana disahkan dengan catatan tak ada pembagian harta gono-gini yang disanggupi oleh sang ibu.

Kirana memilih tinggal bersama sang ibu, sedangkan saudaranya tinggal bersama sang ayah. Kirana dan sang ibu bertahan hidup dengan cara berdagang yang modal usahanya meminjam dari orang lain. Sang ibu dan Kirana berusaha tabah dan saling menguatkan walau kehidupan terasa berat saat itu.

Pada titik itu, hati Kirana diusik oleh sosok lelaki dari masa lalunya. Lelaki yang berulang kali menyatakan perasaannya sejak masih di bangku sekolah menengah atas, tetapi mendapat penolakan dari Kirana. Saat itu, Kirana memang tak ingin menjalan hubungan dengan siapa pun, walau perasaan suka sebenarnya ada.

Ia lebih memilih fokus pada pendidikannya. Ia cukup melihat banyak contoh dari teman-temannya yang menjalan hubungan dengan lawan jenisnya, lalu hubungan berakhir dan pendidikannya juga terganggu. Ia tidak ingin merasakan duka ditinggalkan, atau perasaan dilukai oleh lawan jenis. Trauma yang dirasakan Kirana merupakan rem yang ia gunakan untuk menghindari hubungan dengan lawan jenis.

Acapkali, Kirana memilih menjadi secret admirer bagi lelaki yang ia sukai. Ia sudah menerapkan hal ini sejak remaja bahkan sampai ia bekerja. Ia sangat sulit untuk membuka diri terhadap lawan jenis. Paras ayu Kirana membuka banyak lelaki yang mencoba merebut hati gadis itu, tetapi semuanya layu sebelum berkembang. Kirana langsung membuat batasan dan menolak dengan halus atau pun tegas terhadap pernyataan suka yang ditujukan kepadanya.

Hingga akhirnya dalam pelariannya dengan sang ibu, salah satu lelaki dari masa lalunya muncul dan berusaha untuk mendekatinya lagi.

"Aku dari keluarga broken home! Di usia aku ini, aku mencari suami bukan pacar! Jadi kalo kamu hanya datang untuk sekedar lalu nanti setelah rasa penasaran kamu hilang, lebih baik kamu mundur sekarang! Buat aku cukup mama yang ngerasakan semua kepahitan itu, jangan sampai kami anak perempuannya ngalamin hal yang sama! Cukup sampai di sini duka mama!" ujar Kirana tegas saat lelaki bernama Noah itu kembali mengutarakan rasanya.

Noah yang duduk di sebelah Kirana menatap gadis itu dengan lekat seolah sedang berusaha mencerna perkataan gadis itu, dan mencoba memberi jawaban tulus untuk menenangkan gadis yang masih dikuasai traumanya itu.

"Kasih aku waktu seminggu untuk berpikir, nanti aku berkabar, bisa?" balas Noah yang membuat Kirana menghela nafas panjang. Pada akhirnya, ia menganggukkan kepalanya.

Dalam hati Kirana meragukan ketulusan Noah, karena ia tak langsung menjawab dengan tegas sesuai dengan apa yang ada di hati gadis itu, tetapi sang ibu menasehati Kirana agar bersabar.

"Kira, engga semua laki-laki mau nerima kondisi kita. Lagian dia juga masih kuliah, dan kalian juga masih muda. Jadi kalo kamu ngomong kayak gitu ke dia, dianya pasti kaget.... Engga ada yang bisa dipaksa, Sayang! Kalo dia memang jodoh kamu, sejauh apa pun dia melangkah, dia akan balik ke kamu juga!" ucap sang ibu yang berbaring di samping Kirana, malam itu.

Kirana menatap langit kamar kos mereka sembari menimbang perkataan sang ibu.

"Ma, Kira sebenarnya takut! Kira takut sakit hati kalo ternyata dia engga sebaik yang Kirana pikir! Ma, Kira engga mau buat Mama sedih lagi kalo sampai Kira salah pilih dan akhirnya kami engga bahagia!" balas Kirana lirih. Ia mendadak merasa cemas dan sedih.

Sang ibu memeluk tubuh putrinya itu. Sembari menepuk pelan punggung gadis muda itu, seperti yang biasa ia lakukan saat menidurkan Kirana kecil. Kirana menangis dalam pelukan sang ibu. Ketakutan akan ketidakbahagiaan dan kehancuran dalam hubungan kedua orang tuanya kembali menghantuinya.

"Sayang, manusia hanya bisa berusaha untuk bahagia. Tapi yang namanya hidup sebahagia apapun, engga mungkin bahagia terus. Pasti kadang ada sedih dan duka yang harus kita rasakan. Mama juga engga seterusnya sedih kok, mama bahagia kalian hadir di hidup mama. Mama bahagia kalian tumbuh jadi anak-anak baik dan membanggakan Mama. Mama bahagia karena Kira terus nemanin Mama sampai sekarang! Hidup itu hanya perlu dijalani dan disyukuri, Sayang!"

Tangis Kirana semakin kencang, tanpa Kirana sadari ia takut kehilangan lelaki yang bernama Noah, sekaligus takut merasakan kepahitan dalam hubungan seperti yang dialami oleh sang ibu. Kirana mengalami dilema selama beberapa waktu. Hingga pada akhirnya lelaki yang bernama Noah itu, menyanggupi permintaan gadis itu.

Sang ibu adalah saksi kebersamaan Kirana dan Noah di awal hubungan mereka. Ia berbahagia untuk gadis kecilnya yang sudah bertumbuh dewasa itu. Ketakutannya bahwa sang Putri tak akan pernah menjalin hubungan dengan satu lelaki, pupus sudah. Kirana terlihat bahagia dengan hubungannya dengan Noah. Kesabaran dan sikap mengalah Noah telah berhasil memenangkan hati gadis itu.

Fase hidup terus berubah dari waktu ke waktu. Ketakutan tak akan pernah berhasil manusia taklukkan bila kita tak mencoba untuk menghadapinya. Kirana pun mencoba meraih kebahagiaannya sendiri, walau jalan hidupnya tetap tidak gampang untuk ia lalui. Banyak kerikil tajam yang senantiasa melukai dirinya.

Bahkan dalam hubungannya dengan Noah, yang selalu ia bawa dalam doa agar lelaki itu diberikan Tuhan menjadi jodoh seumur hidupnya, nyatanya tidak semanis yang ia harapkan. Banyak air mata yang tercurah saat ia menjalani hubungannya dengan Noah. Lelaki sabar dan lembut itu juga tak luput dari kekurangan. Hubungan jarak jauh yang mereka jalani membuat Kirana yang gampang curiga dan cemburu, berulang kali memutuskan hubungan mereka. Yang membuat Noah menjadi muak dan lelah karena gadis yang ia cintai itu terlalu gampang curiga.

Hubungan putus nyambung itu terjalin selama beberapa tahun. Dalam hati Kirana, ia sudah beberapa kali menyerah untuk memperjuangkan hubungan mereka karena trauma masa lalu terus saja menghantui yang membuat ia merasa dengan siapa pun ia menjalin hubungan tak akan pernah bertahan. Ia merasa bersalah kepada Noah karena mengekang kebebasan lelaki itu dengan mengatasnamakan kehidupan keluarga mereka yang broken home.

Ia juga tak ingin Noah menjadi muak terhadap dirinya. Ia ingin mereka bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing. Namun, kenyataannya Kirana tak pernah bisa melepas Noah. Setelah ia mengatakan putus, beberapa hari kemudian, ia akan kembali menghubungi lelaki itu untuk meminta maaf dan meminta lelaki itu tak marah dan meninggalkan dirinya.

Hubungan seperti itu mereka jalani bertahun-tahun. Puluhan kali kata "putus" keluar dari bibir Kirana dan puluhan kali juga Kirana tak berhasil melepaskan Noah dari kehidupannya. Kesabaran dan pengertian Noah, membuat mereka bertahan menjalin hubungan selama 6 tahun, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.







Other Stories
Mr. Perfectionist

Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...

Kado Dari Dunia Lain

Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Horor

horor ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Download Titik & Koma