Tawa Penjajah
Kata orang, tawa itu perwakilan dari bahasa ke dalam rasa. Namun, sampai tulisan ini dibuat, aku tidak tahu rasa apa yang mewakilkan tawaku. Dia seolah menjadi bahagia, di tengah lara yang diam-diam menikam secara utuh denyut nadiku.
Lalu, aku merasa hampa, padahal di luar aku terasa bak putri dalam suatu singgasana. Tawaku pudar saat waktu menunjukkan puku 01:00. Sepi menyelimuti batinku dan aku terseret dalam detak-detak masa lalu.
Biasanya, saat hal itu terjadi aku akan kalah. Air mataku tumpah, saat kenangan terjajah sejarah. Namun, aku akan membuat perbedaan dalam cerita malam ini.
Tidak akan ada lagi yang tumpah, kalah, atau terjajah dalam sejarah. Hari ini masa laluku tak akan mengusikku. Untuk alasan apapun, tidak akan ada lagi yang menangis saat matahari mulai menepi dari langit, atau yang terbangun dengan mata bengkak karena mengenang kisah-kisah dengan kepedihan yang beriak.
Setiap orang pasti punya luka dalam hatinya, tak salah jika dia meronta akibat efek dari rasa sakitnya. Yang membuat salah, saat ia harus terus terpuruk, melemah, dan kalah. Kemudian dia lupa, bahwa masa depannya menunggu untuk diperjuangkan dan dia harus segera meninggalkan jajahan masa lalunya. Karena setiap manusia adalah pejuang untuk hidupnya.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Desa Seribu Sesajen
"Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan." Liburan semester enam mahasis ...
Dia Bukan Aksara
Kiara masih mengalami nestapa semenjak kehilangan adiknya, Aksara saat liburan tahun lalu. ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...