Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.8K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

5. Lamaran Ala Rayhan

Aku tidak tahu orang gila mana yang baru punya HP dan menemukan nomorku di HP tersebut sampai-sampai meneleponku berkali-kali di pagi buta. Oh, please! Apakah di rumahnya tidak punya jam hingga buta waktu macam itu? Tidak tahukah dia jika aku baru bisa tidur pukul 1 dini hari setelah mendengarkan curhatan teman lama yang sedang menjalani LDR alias Long Distance Relationship? Sial sekali nasibku!
Dengan kemalasan tingkat tinggi, kuraba permukaan nakas di samping tempat tidur. Jika tidak salah ingat, kuletakkan ponsel di sana semalam. Ya, semoga saja tetap di sana agar aku tidak perlu beranjak ke mana-mana untuk menemukannya. Menyebalkan!
“Halo?” Sedikit membentak kusapa penelepon. Biar saja. Biar tahu apa yang dia lakukan ini mengganggu kehidupan seseorang. Oke, mengganggu masa PW[1]-ku pada pagi hari.
“Galak banget, sih. Baru bangun, ya?” Aku melentingkan tubuh. Terlonjak begitu mendengar pemilik suara yang amat kukenal—yang akhir-akhir ini sangat tidak ingin kutemui batang hidungnya. Tidak peduli bagaimana dia membuatku seperti maling—kucing-kucingan tidak jelas untuk sampai di ruang on air.
“Ngapain kamu nelepon?” tanyaku masih bernada ketus. “Tunggu. Dari mana kamu tahu nomor hape-ku?” Siapa pun yang memberikan nomorku pada makhluk tengil ini akan kupastikan besok masuk ke liang lahat.
“Bosmu. Pak Lik Waluyo,” jawabnya yang seketika memerosotkan bahu sekaligus membelalakkan mataku. Tentu saja sangat tidak mungkin membuat Pak Waluyo masuk ke liang lahat. Bisa masuk jeruji besi nanti.
Aku menghela napas sebal. Tentu saja makhluk tengil ini bisa dengan mudah mendapatkan nomorku. Bosku adalah pamannya. Argh!
“Mau apa?” tanyaku masih dengan nada ketus. Jangan sekali-kali memberi peluang untuk bocah sepertinya masuk ke kehidupanku. Masalahnya, kuakui si tengil ini memilki aura yang kuat. Jika aku tidak menahan diri, bisa jadi jatuh dalam pelukannya.
“Dengerin radio sekarang.”
Bagus. Setelah bicara seenaknya, sekarang bocah ini berani memerintah. Benar-benar anak sekarang tidak tahu sopan santun.
“Nggak minat. Malas.”
Aku kembali berbaring dan menarik selimut hingga ke leher. Membiarkan ponsel menempel di telinga, berharap tanpa sadar aku ketiduran.
“Ika, please! Nyalain Rhayya Radio sekarang. Aku mau nunjukkin sesuatu ke kamu.” Kali ini nadanya merengek. Benar-benar kekanakan. Eh, dia memang masih anak-anak, ‘kan?
“Ada apa, sih? Mau nunjukkin apa? Bisa bilang sekarang aja, ‘kan?” tuntutku masih tidak beranjak, Ya, kali semudah itu diperintah bocah. Memangnya aku dungu apa?
“Makanya, nyalain radio biar kamu tahu apa yang aku lakuin.”
Aku mendengus. Oke, selain tengil bocah ini pintar membuat orang terbujuk.
Kusingkap selimut dengan kasar. Malas-malasan beranjak menuju ruang keluarga. Satu-satunya radio yang kumiliki diletakkan di sana. Kulihat Mama sibuk di dapur. Semoga saja bocah tengil ini tidak melakukan sesuatu yang konyol.
Kunyalakan segera radio dan mencari frekuensi Rhayya Radio. Pagi hari begini biasanya yang siaran Mas Al, panjangannya Aliyuddin. Salah satu penyiar senior Rhayya Radio yang punya suara halus. Bahkan suara Mbak Kinar saja kalah halus dari suara Mas Al. Dia membawakan acara berita pagi sekaligus memutar lagu-lagu keroncong khas Yogyakarta maupun Jawa Timur-an. Yang kuperhatikan selama mendengar siarannya, kebanyakan ibu-ibu yang menelepon untuk me-request. Ya, mungkin karena suara halusnya itu. Mas Al masih bujangan di usianya yang ke-30 tahun. Ada kabar kalau sebenarnya Mas Al sedang PDKT dengan Mbak Kinar.
Lima menit berlalu, hanya saja tidak terdengar suara apa pun atau siapa pun dari radio. Eh? Apa radionya yang rusak? Tidak mungkin. Semalam masih baik-baik saja, kok. Atau memang tidak ada yang siaran? Kalau pun tidak ada yang siaran seharusnya dialihkan ke acara pengganti yang sudah diset. Lagi pula, kenapa sampai tidak ada yang siaran? Seingatku, kantor sedang tidak memiliki agenda di luar. Ada yang tidak beres, nih.
Baru saja ingin kuhampiri radio tersebut saat sebuah suara aneh mengisi keheningan sejak pagi. Aku kembali duduk, menunggu kelanjutan dari suara aneh tersebut.
“Selamat pagi, salam sejahtera untuk warga Yogyakarta di mana pun saat ini,” katanya memulai. Aku menahan tawa demi mendengar kalimat pembuka tersebut. Tidak salah lagi jika suara itu milik si bocah tengil Rayhan. Entah kenapa aku menunggu kelanjutan kalimat Rayhan dengan dada berdebar. Bukan apa-apa. Bocah ini bisa melakukan apa saja yang membuatku terlempar ke dunia yang bukan duniaku.
“Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mas Al yang sudah mengizinkan saya menyabotase acaranya,” lanjutnya.
Nah, benar, ‘kan? Entah apa yang dilakukan bocah ini sampai Mas Al mau menuruti keinginannya.
“Sopo iku sing siaran?[2] Kok, bukan suara Mas Al?” tanya Mama yang keluar dari dapur menuju meja makan. Meletakkan piring yang kupikir berisi lauk.
Aku mengangkat bahu. Kuberi tahu pun Mama mana tahu jika suara yang saat ini siaran adalah suara bocah tengil bernama Rayhan sedang berusaha mendekati putrinya.
“Mungkin orang baru,” kataku sekenanya.
“Kok, suarane kayak bocah, Ik?[3]” Mama kembali bertanya. Telinganya cukup peka untuk membedakan suara berdasarkan usia.
Kembali hanya angkatan bahu untuk menjawab pertanyaan Mama.
“Bukan tanpa alasan saya menyabotase sementara acara Mas Al. Cuma, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada seseorang. Tantang perasaan saya untuknya. Tentang bagaimana dia yang hadir telah membuat saya menjadi orang bodohh karena terus memikirkan dia.”
“Nopo kui maksude? Mau nembak cewek? Masih bocah, kok, nembak-nembak wedok.”[4]Mama menceletuk yang justru membuatku menahan gigil. Aku memiliki firasat jika seseorang yang dimaksud Rayhan adalah aku. Matilah kau, Ika!
“Cah[5] zaman sekarang kelakuannya ada-ada saja.” Mama ngeloyor kembali masuk ke dapur.
Sementara aku masih menunggu dengan waspada apa yang akan dilakukan Rayhan.
“Berhubung sabotase berbatas waktu, saya akan langsung ke inti masalah, Niatnya, sih, saya mau nyanyi sendiri. Cuma, Mas Al tidak mengizinkan karena takut kaca-kaca di kantor siaran pecah. Ya, menurut beliau suara saya itu luar biasa. Luar biasa menghancurkan.” Sebuah kekehan terdengar. Membuatku mau tidak mau ikut tersenyum. Lucu juga ini bocah.
“Ini lagu untuk Ika. Dahliany Wiskasari. Gadis yang sudah membuat saya senyum-senyum tidak jelas akhir-akhir ini. Yang membuat saya mendadak jadi pujangga paling romantis. Saya serius jatuh cinta padamu, Dahliany Wiskasari.”
Allah, lempar aku ke Kawah Bromo saat ini juga! Ini bocah benar-benar minta dimutilasi, ya? Apa-apaan itu?
“Tunggu, tunggu. Dahliany Wiskasari? Kok, namanya persis namamu, Ik?” Mama mengerutkan kening seraya menatapku. Tamat riwayatku kalau begini.
“Ini ....” Belum selesai aku menjelaskan duduk perkara bocah tengil ini, sebuah lagu mengalun. Nada-nada melow memenuhi ruangan. Aku meringis ke arah Mama yang makin memperdalam kerutan di keningnya. Persis baju tidak disetrika berbulan-bulan.
Dengarkanlah wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
‘Tuk yang petama dan terakhir
Aku melirik Mama yang masih berdiri di samping. Sebelah tangan berkacak pinggang dan tangan lainnya memegang spatula berminyak. Semoga saja itu minyak tidak panas. Kepalanya kini menggeleng-geleng aneh. Oh, please! Rayhan benar-benar membuatku dalam masalah.
“Yang siaran ndak punya jam, Ik,” kata Mama.
“Eh? Kok, bisa?”
“Lah, ya, iya. Seharusnya, lagu itu diputer pas malam. Tuh, liriknya tadi bilang ‘malam ini akan kusampaikan’, ndak cocoklah sama waktu sekarang. Bocah nggendeng[6] pasti.” Dengan masih menggeleng-gelengkan kepala, Mama kembali ke dapur.
Nyaris aku terjungkal karena terbahak mendengar pendapat Mama. Mengabaikan begitu saja lagu yang menurut sebagian anak muda romantis. Lagu yang diimpikan cewek-cewek bau kencur dinyanyikan gebetannya—aku pernah mendengar selentingan ini di bus kota.
Kembali aku fokus ke lagu yang menyisakan bagian akhir. Bocah gendeng satu ini benar-benar biang onar. Harus bagaimana aku menunjukkan muka nanti siang di kantor? Aku perlu memasang urat malu tambahan di leher. []
[1]Posisi Wenak
[2]“Siapa itu yang siaran?”
[3]“Kok, suaranya seperti bocah, Ik?”
[4]“Apa itu maksudnya? Mau nembak cewek? Masih bocah, kok, nembak-nembak cewek.”
[5]Bocah atau anak
[6]Tidak benar alias gila

Other Stories
Kado Dari Dunia Lain

Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Hanya Ibu

Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...

FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Cicak Di Dinding ( Halusinada )

Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...

Bisikan Lada

Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...

Download Titik & Koma