9. Pulang
“Tidakkah kita tetap berteman, walau mungkin raga ini tak bisa engkau miliki, tapi hati ini tetap menyayangimu.”
“Mas Juna aku harus pulang, memang aku sudah hampir empat tahun tak pulang sama sekali ke Pati. Barusan dikabari kalau bapak kurang sehat dan ibunya Banyu meninggal. Mereka menginginkan aku untuk pulang, setidaknya menguatkan Banyu,” Kidung menelepon Arjuna yang sedang sibuk di kantornya karena sebagai manager keuangan dirinya juga sedang dikejar laporan akhir tahun. Belum lagi ada urusan pribadi yang harus dituntaskan, urusan pribadi menyakut keluarga besar dirinya sebagai anak tunggal, papa mamanya berharap banyak dirinya segera menikah.
“Iya Dung, aku ingin sebenarnya mengantarkan kamu tapi maaf urusan kantor aku lagi padat sekali. Kamu gak apa-apakan pulang sendiri?” jawab Arjuna dari ponsel yang dijepit di antara telinga dan bahu kirinya, sementara tangannya tak lepas dari tuts laptopnya.
“Ia, aku sebenarnya ingin mengajak Mas, hubungan kita sudah berjalan dua tahun dan aku ingin Mas tahu keadaan aku yang sebenarnya,” harap Kidung dari seberang telepon genggamnya.
“Iya Mas janji akan meluangkan waktu, hanya saja tak bisa sekarang. Hemmm Banyu pasti butuh kamu, sahabat kecil yang mengerti diri dia sepenuhnya ... hai sebenarnya aku gak rela melepas kamu pergi sendiri! Apalagi kamu ada misi untuk Banyu khusus! Meskipun dia cerita kamu autis, tapi aku tetap cemburu!” ucap Arjuna dengan nada yang terdengar cemburu di telinga Kidung.
“Mas, memang Banyu sangat mempesona tapi kamu lebih jauh mempesona buatku sekarang. Kamu adalah lelaki vaniliku. Banyu tetap sahabat vanili entah sampai kapan?” jawab Kidung berusaha meyakinkan Arjuna kepulangannya tak perlu dikhawatirkan.
“Aku percaya kamu Sayang, ok take care ya ... salam buat Bapak dari hemmm kekasih putrinya yang selalu beraroma vanili dan sudah buat jatuh hati Arjuna Mahardika. Jangan lama-lama di hutan vanili nanti kamu tersesat gak balik Jakarta,” lagi-lagi Arjuna menggodanya.
“Iya Mas, aku pulang dulu ya,” dan Kidung menutup telepon genggamnya, segera memasukan beberapa potong baju dan buku yang bisa dibaca di kereta.
Terbayang kesedihan yang akan dijumpai, Ibu Mutia istri Pak Karmui yang sabar baru saja dimakamkan karena sakit tiba-tiba yang di deritanya. Entah bagaimana kesedihan Banyu Biru sepeninggal ibundanya. Ibu yang sangat menyayanginya dengan segala kekurangan putra tunggalnya.
Ibunyalah yang dengan tekun mengajarkan Banyu dalam pelajaran bersama guru yang dipanggil di rumah. Selain itu juga Bu Mutia mengajarkan merawat vanili didampingi Pak Karmui yang mulai dekat dengan putranya, setelah kejadian penemuan Kidung di waktu lalu yang membuat Banyu lebih bisa tenang bersikap. Perubahan sikap Banyu menyadarkan kalau dirinya salah menyembunyikan Banyu hampir sembilan tahun di kamar atas tanpa ada interaksi.
Hal yang tak pernah terduga Kidung yang seumuran bisa menjadikan Banyu teman bermain, bahkan mereka sangat dekat hingga remaja. Diam-diam sebenarnya Pak Karmui berharap banyak terhadap Kidung untuk menjaga Banyu Biru selamanya.
Karena memang hanya Kidunglah yang membuat Banyu menjadi tenang. Pak Karmui tak meragukan rasa sayang yang ada di hati Kidung. Dan sepertinya Banyu pun paham akan rasa sayang mungkin cinta seiring dirinya yang tumbuh juga menjadi remaja yang secara fisik membuat Pak Karmui bisa berbangga hati.
Banyu Biru sangat tampan gambar perwujudan fisik yang sangat sempurna. Kulit tidak terlalu hitam dan tidak juga putih, alis tebal, mata besar tajam pandangannya, hidung macung, bibir sedang, dan tubuh yang tinggi besar.
Andai saja Banyu Biru tak sebodoh manusia dia sudah menjadi orang yanga sempurna dengan fisiknya yang ganteng pasti sangat gampang menaklukan wanita. Yakin sekali wanita akan banyak yang mencintainya.
Tapi mungkin inilah takdir Banyu Biru, pasti Tuhan sudah memperhitungkan semua. Bisa saja kalau Banyu sempurna yang ada sifat buruk yang ada dalam dirinya yang muncul. Banyu Biru tampan mempesona, anak orang kaya, dan pintar dengan mudah mempermainkan perasaan perempuan bahkan bisa jadi sombong. Ini memang hanya kemungkinan, tapi kemunginan yang rasional. Dan Allah sudah tahu hal itu, karena sayang-Nya maka jadilah Banyu yang memiliki kekurangan untuk menghindari menjadi manusia sempurna.
Lagi-lagi kesempurnaan hanya milik Allah semata.
***
Pak Karmui tak bisa menenangkan Banyu yang biasanya diam, asik dengan dunianya bersama tumbuhan-tumbuhan vanili tersadar saat ibunya harus dimakamkan tiba-tiba histeris dan membanting barang-barang yang ada di dekatnya. Sama persis sewaktu berumur sebelas tahun, marah tanpa kontrol.
Dibantu dengan Mang Dawi yang masih menjadi sopir keluarga memaksa Banyu masuk ke kamarnya yang memang tak ada lagi barang-barang pecah belah dan berharga. Kamar Banyu hanya meja kayu dan tempat tidur, adapun peralatan makan dari plastik.
Di kamar Banyu hanya akan teriak-teriak memukul tangannya ke meja, ekspresi kesedihan kehilangan ibu yang amat menyayangi secara mendadak membuat dirinya merasa sangat kehilangan tiba-tiba.
Kedekatan selama ini dengan bapaknya ternyata tidak sedalam dengan kedekatan ibunya. Pak Karmui selalu merasa bingung dan gelisah jika Banyu sudah mulai mengamuk. Banyu tak lagi ngamuk-ngamuk sejak mengenal Kidung, salahkah bagai seorang bapak berharap Kidung yang sudah hampir empat tahun merantau demi mengejar sebagai calon insinyur pertanian pulang.
Entahlah, pulanglah saja dan membuat perkebunan vanili ini ceria seperti saat lalu ketika Kidung kecil dan putranya berlarian, tertawa-tawa berkejaran di kebun vanili. Mereka tidak hanya tertawa-tawa bermain tapi juga belajar menyayangi dan merawat pohon-pohon vanilinya. Kidung dan Banyu dibantu dan diajari juga oleh para petani yang bekerja di kebunnya.
Banyu semakin ahli merawat tumbuhan-tumbuhan vanili karena memang hanya itu-itu saja kegiatan yang dikerjakan setiap hari, bagai terisolasi dunia luar dan Banyu memang mendapatkan pendidikan pun dengan masih selamanya mendatangkan guru sampai sekarang.
Banyu hanya berteman dengan lingkungan perkebunan, dengan para petani tapi di sinilah dia memang menemukan ketenangan. Tak sekalipun terlintas di benaknya untuk mengenal dunia luar, dunia di luar perkebunan vanili.
Saat Kidung mengejar S1 nya, Banyu masih saja menghafal huruf tapi sebenarnya ini adalah sudah jauh disebut sebagai kemajuan karena Banyu mulai bisa membaca. Dan diam-diam setahun ini Bayu semakin larut juga dengan buku-buku, hal yang tak bisa disangkal ternyata rutinitas belajar mendatangkan guru yang sabar dan terus melakukan hal yang sama setiap hari membentuk kebiasaan baik buat Banyu Biru. Lagi-lagi karena usaha keras ibunya yang setiap saat sangat telaten mengulang-mengulan apa yang diajarkan Pak Akabar guru yang sangat sabar terhadap Banyu.
Banyu sudah bisa membaca dan bacaan Banyu beragam, tapi memang perihal tumbuh-tumbuhan yang paling Banyu suka. Walau Banyu sangat pendiam, tapi dia tekun dan memang Banyu memilih tak pernah bersuara dengan sekelilingnya.
Dia masih berbicara dengan dunianya, dunia yang ia cipta. Terkadang Banyu bisa tersenyum, tertawa, terpekur, dan terdiam sendiri.
Dan orang-orang yang awam akan Banyu, petani baru merasa aneh dengan sikap Banyu, tapi buat yang sudah lama bekerja di kebun vanili Pak Karmui sudah paham Banyu adalah anak autis, tapi bukan autis yang 100 persen bodoh.
Banyu masih punya kepintaran dalam diam dunianya. Mungkin yang tahu pun hanya Banyu, tapi bapaknya senang karena Banyu mulai membaca buku diam-diam dan dirinya tak mau banyak mengomentari.
Ketika semua terasa damai ternyata Ibu Mutia dipanggil oleh Yang Maha Penyayang dengan tiba-tiba, kesedihan mendalam dirasakan dua lelaki yang mencintainya. Dua lelaki bapak dan anak yang selalu merasa hangat jika berada di dekatnya. Dan kehangatan itu sudah tak ada lagi.
Saat Banyu mengurung di kamarnya, Pak Karmui memilih duduk di teras mengingat hari-hari lalu bersama istrinya terbiasa duduk di teras sambil menikmati minuman hangat. Isterinya terkadang membuatkan beragam minuman hangat dan menyesap di teras yang dikelilingi pohon vanili.
***
Setelah hampir sepuluh jam menghabiskan waktu perjalanan Jakarta ke kampung Bageng Pati, Kidung sampai ke kampung dan semakin dekat dengan rumahnya.
Aroma vanili serasa tercium lagi, bagai dejavu yang mengingatkan masa empat tahun lalu yang sudah hampir terlupakan. Aroma alam vanili yang tergantikan dengan aroma vanili dalam vanili latte yang setiap malam dibuatnya. Ternyata aroma vanili di mana pun dalam bentuk apa pun hadir tetaplah sama khasnya, vanili tak pernah bisa melebur dengan bahan lain yang membuat dirinya berubah aroma, filosofinya vanili tak pernah kehilangan jati diri, dia selalu punya identitas di mana pun berada.
Vanili terpaku sejenak beberapa meter di depan gubuknya yang ternyata tetap terawat. Bapaknya benar-benar menjaga semua kenangan bersama dengan ibunya yang telah tiada saat dirinya berumur sebelas tahun. Dan sekarang sudah dua puluh satu tahun umur dirinya, keberadaan ibunya sudah sepuluh tahun tak ada. Tapi sepertinya baru kemarin semua itu terasa.
“Assalamualaikum ....” Kidung mengucap salam dan menyembul wajah bapaknya yang hampir empat tahun tak bertemu.
“Bapak,” Kidung mencium punggung tangan bapaknya yang sudah menggurat keriput dan agak kasar.
Rasa rindu tertumpah dalam pelukan, bau khas bapaknya yang tiba-tiba mengingatkan masa kecil ketika sebelum tidur becerita kisah-kisah wayang di sebelahnya. Bau bapaknya yang berkeringat seharian berjibaku dengan perkebunan vanili. Aroma keringat bapak yang bercampur aroma vanili yang sempat hilang karena bapak dipecat dengan tidak jelas lalu berubah menjadi pemabuk. Aroma Vanili masih ada saja, walau bapak mabuk sempat menguarkan bau alkohol. Vanili tetap menguar khas tak terpengaruh bau alkohol.
Saat itu kebencian Kidung memuncak karena ibunya meninggal setelah Bapak menamparnya dengan tanpa sadar. Kidung saat itu tak ingin memaafkan dan sangat membenci bapak, hingga Pak Karmui yang datang menolongnya, beliau yang bebaskan bapak dari penjara dan mengembalikan bapak dengan pekerjaan yang dicintainya sebagai petani vanili hingga sekarang.
Kidung tak mengingkari bapaknya sebagai petani vanili masih saja mengirim uang untuk mambantu dirinya kuliah, walau Kidung sudah tak berharap bantuan lagi. Gajinya sekarang sebagai manajer di Cafe Cita Rasa cukup menghidupinya, yah setelah hampir empat tahun dari masa mulai kuliah hingga sekarang bekerja di Cafe Cita Rasa tak terasa karirnya samapai pada manajer walau hanya pada sebuah cafe minuman yang unggulannya adalah vanili latte. Bukan cafe yang besar tapi Kidung senang bekerja di sini karena lingkungan yang kekeluargaan. Kidung merasa nyaman ditambah kekasihnya Juna juga mendukung untuk tetap bertahan bekerja di sini sambil mengejar wisuda yang tak lama lagi.
“Bapak bagaimana keadaannya? Bapak sudah baikan?” Kidung sudah mandi dan akan bersiap ke rumah Banyu baru bisa duduk sambil membawa dua hangat vanili latte untuk bapak dan dirinya di bale-bale depan rumah.
Sebentar lagi akan senja, tapi sepertinya dirinya tak bisa menikmati senja dulu sebelum ketemu Banyu. Perasaannya tidak terlalu enak akan Banyu, entahlah.
“Dung, Bapak baik apalagi kamu datang rasanya setelah hampir empat tahun kamu merantau hari ini kamu datang kerinduan Bapak terobati. Tapi Dung segeralah ke rumah Pak Karmui temui Banyu dulu ya, kasihan dia ... sudah dua hari ini dia tak mau makan. Coba kamu bujuklah, sana pergi sebelum malam datang. Pulanglah setelah senja menjadi petang ya Dung,” kata Pak Sugi.
“Baiklah, kalau gitu Kidung ke rumah Banyu dulu ya. Ayah habiskan vanili lattenya ya ....” kata Kidung.
“Iki jenenge apa Dung?” Pak Sugi merasa asing denan minuman yang baru saja Kidung sebut.
“Ini vanili latte Pak, nanti Kidung ceritain apa itu vanilli late dan gimana buatnya. Ini kerjaan Kidung sehari-hari di Jakarta buat minuman ini untuk para pelanggan cafe,” kata Kidung singkat dan segera berlari ke rumah Banyu.
Dirinya juga rindu dengan kebun vanili yang dilewati masa anak dan remajanya di sini. Banyak cerita dirinya dan Banyu Biru, yang diam-diam waktu kecil membuat Kidung terpesona akan lelaki.
Banyu Biru lelakinya masa kecil dan remaja, lelaki yang pertama kali dikenalnya, lelaki istimewa dengan segala keistimewaan yang melekat juga pada diri Banyu. Kidung sudah paham Banyu dan tidak mengurangi rasa sayangnya. Tapi tidak sama lagi saat ini karena Kidung dewasa sudah menemukan Arjuna Mahardika. Lelaki yang mencintainya karena racikan vanilli lattenya dan aroma vanili yang menguar dari dirinya yang selalu memilih minyak wangi beraroma vanili.
Pak Karmui sangat senang dengan kedatangan Kidung. Kidung banyak berubah tak lagi gadis yang berambut gimbal dan kulit yang sawo matang tapi gadis Jakarta yang rambutnya bak gadis sunslik dan kulitnya masih eksotis tapi tak lagi kusam. Kidung sudah menjadi perempuan dewasa.
“Kidung, temui Banyu di kamarnya ... bujuklah untuk mau minum setidaknya. Bapak minta tolong ya ....” Pak Karmui berharap pada Kidung.
Semua masih sama dengan empat tahun lalu, Kidung perlahan naik ke kamar Banyu dan mengetuk perlahan.
“Banyu ... masih ingatkah denganku?”
Dan ternyata Banyu tak butuh waktu lama membukakan pintu, menatap Kidung sejenak, melihat perubahannya dan memeluknya.
Senja itu Kidung bisa menenangkan Banyu tanpa banyak kata, menikmati senja sambari Kidung memperkenalkan vanili latte seduhannya yang sengaja dibawa dari Cafe Cita Rasa. Dan Banyu ternyata menyukainya, aroma vanili yang hadir dalam sebuah minuman yang selama ini Banyu belum pernah nikmati.
Senja tenggelam dan Kidung berpamitan untuk pulang, masih sama seperti waktu lalu jika senja habis maka Kidung harus pulang dan menjalankan salat Magrib bersama bapaknya.
Banyu masih mengingat kebiasaan itu, Banyu melepas Kidung dengan sebuah senyum, dia yakin pasti besok siang seperti waktu lalu pulang sekolah Kidung akan menghabiskan waktu bersamanya di perkebunan.
Other Stories
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...