3. The Beginning
Kenapa kamu memandangi aku terus? Ganteng ya?\" Jo bertanya cuek.
\"Ihh siapa juga suka cowok letoy kaya lo! Baru sepuluh keliling udah teler!\" Ledek Riri.
\"Iiih dasar cewek nyebelin, udah gue temenin dihukum malah gue ditinggal! Dasar!\" Jo menggerutu panjang.
Kali ini Riri malah jadi tertawa lepas, \"Hahahaha Jo Jo, iya deh makasih ya sudah nemenin aku.\"
Riri memasang wajah manisnya eggak enak juga berantem terus dengan cowok tampan yang baru saja mengusik hatinya.
Wajah manis Riri sejenak membuat Jo terperangah tapi segera memalingkan ke tengah lapangan menyaksikan beberapa mahasiswa baru yang masih menjalankan hukuman.
“Hai Jo lo Fakultas Teknologi Industri kelas berapa?” tanya Riri, tiba-tiba kekesalannya sepertinya sudah menguap begitu saja.
Riri tidak bisa membohongi hatinya kalau cowok yang di depannya sekarang adalah cowok pertama yang telah menawan hatinya. Kalimat spontan Jo yang mengatakan namanya semanis pemiliknya tanpa dibuat-buat membuat Riri suka.
Tapi tentu saja Riri sudah berpikir waspada dari awal tadi untuk tidak menampakan kesukaan hatinya pada Jo. Mereka baru saja kenalan karena accident yang pasti menyebalkan buat Jo yang harus menemani lari mengitari sepuluh kali lapangan upacara kampus Lima Sila.
Masih tampak kelelahan tergurat di raut wajah Jo dan keringat yang mengucur.
“Nih...”Riri mengulurkan tisue kering.
“Thanks Ri,” Jojo mengambil beberapa lembar dan mengusapkan pada wajah dan lehernya.
Setiap detail perilaku Jo membuat ketertarikan tersendiri dan Riri yakin kalau hatinya suka Jo pada perkenalan pertama ini.
***
Sangat seru Ospek yang terlewati di hari kedua sampai hari keenam. Apalagi Riri ternyata beberapa kali bisa satu kelompok diskusi dengan Jo.
Ternyata Jo juga bukan cowok yang nyebelin seperti yang dibayangkan di awal perkenalan. Bahkan sebaliknya Jo menyenangkan dan suka bercanda, pembawaannya easy going makanya nggak hanya Riri juga yang dekat dengan Jo tetapi beberapa cewek-cewek satu angkatan juga suka memanggil-manggil Jo.
Jujur di awal Riri agak kaget juga ternyata Jo gampang dekat dengan siapa saja, tapi tetap hari selanjutnya Jo lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya. Riri sadar Jo memang supel dan juga penolong.
Dalam pandangan Riri, Jo seorang yang percaya diri dalam pembicaraan diskusi, beberapa kali Jo mengeluarkan pendapatnya dalam forum diskusi.
Hal yang paling menyenangkan bila Jo sudah berbicara dengan tenang di depan forum mengenai pendapatnya, pandangannya dan solusi yang dianggap paling tepat.
Tepuk tangan beberapa kali bergema mengakhiri diskusi yang dibawakan kelompok Jo, sementara Riri jujur tidak terlalu bisa bicara banyak di depan orang.
Berbicara berbeda dengan melakukan gerak tubuh atau pertandingan adu fisik di depan banyak orang.
Bersyukur dirinya beberapa kali tema diskusi menjadi kelompok Jo dan Jo mau mengerti saat Riri mengungkapkan ketegangannya kalau harus ngomong terlalu banyak di depan puluhan mata.
“Jo daripada aku terkencing-kencing mendingan aku jadi notulen saja ya di kelompok kita,” Riri menatap Jo penuh pinta.
Nyatanya Jo selalu meluluskan kemauannya.
Hari ketujuh dari Ospek ditutup dengan performance. Aduh Riri sudah pusing kalau acara performace. Jadi dalam setiap kelompok mahasiswa baru harus melakukan penampilan di malam terakhir acara Ospek.
Tidak mungkin jugakan Riri menampilkan keahliannya bermain silat atau memukul batako dan kikir besi seperti yang dilakukan dalam kegiatan olah raga pencak silat Merpati Putih.
Saat melakukan pemukulan batako atau pematahan kikir besi dengan tangan atau dahinya bila di kalangan teman-teman persilatannya adalah hal yang luar biasa, tapi ini di kampus awam.
Riri khawatir yang ada dia diketawain melakukan magic atau pamer kekuatan. Terlebih lagi akan ketahuan lagi kalau dirinya pesilat maka akan jauh dari cowok-cowok seperti di SMU.
Tidak ada satupun cowok berani mendekat walau bukan pencak silat juga yang menyebabkan dirinya jauh dari pacaran seperti yang dialami teman-teman cewek lainnya yang sudah mengalami cinta monyetlah atau cinta pertamalah.
Jujur Riri juga ingin mengalami hal itu semua. Mempunyai seorang pacar dan merasakan punya seseorang dekat di hati dalam hal ini sudah pasti bukan papa sepertinya akan membuat hidup berbeda.
“Ah mungkinkah Jo mau menjadi sosok yang aku idamkan, apaan sih Ri kamu berkhayal terlalu jauh!” Riri jadi senyum-senyum sendiri kalau sedang berangan-angan.
“Eiiih ini anak senyum-senyum sendiri lagi! Ri performance nanti kamu ada usul?“ tiba-tiba Jo duduk di sebelahnya sembari membawa mie ayam yang sudah penuh dengan saos tomat dan sambal.
“Apa ya Jo? Paling sih menyanyi sambil diiringi gitar kali ya,” usul Riri asal-asalan.
“Kamu yah nanti yang nyayi, dari kemarin kamu kan gak ada suaranya hanya nulis notulen terus. Nanti malam gantian ya!” kata Jo cuek sambil menyantap mie ayamnya.
“Aduh nggak! nggak! Aku sama sekali nggak bisa yang berhubungan tampil di depan banyak orang. Jangan aku ya pleaseeeee!” Kembali Riri memohon pada Jo akan kelemahannya.
“Hmmm ayo cobalah! Siapa tahu kamu punya bakat menyanyi selain menulis dan lari keliling lapangan!” goda Jo.
“Ihhh seneng banget ngeledek! Jadi apa dong performance nanti malam. Praktis sih nyanyi diiringi alat musik ya. Tapi siapa ya Jo?” tanya Riri lanjut.
“Iya boleh juga! Gitar atau keyboard aku bisa dan menyanyi pun bisa juga! tapi mosokaku juga yang mendominasi sih.” Jo mengernyipkan matanya yang agak sipit.
“Iya gak apa-apalah Jo...you’re the best!” Riri juga asik menikmati mie ayam cak Baron yang memang lezat.
“Kalau kamu sendiri sukanya apa sih Ri?”
“Serius lo mau tahu apa yang gue suka?” Riri berpikir ulang untuk berkata jujur apa yang dia tekuni selama ini.
“Iyalah, kita kan sudah menjadi sahabat dalam waktu mau seminggu ini. Mosok aku gak boleh tahu hobi kamu sih?”
“Aku sukanya berkelahi Jo, bertanding melawan musuh di arena pertandingan silat dan memukul batako atau kikir besi!” Riri menatap tajam Jo. Sekaligus geli melihat Jo yang tiba-tiba langsung tersedak.
“Hek hek...kamu tuh atlit karate apa pencak silat toh! Ooo I see pantesan lari sepuluh kali lapangan nggak ada artinya. Wow jadi takuuuuuut ampun aku jangan diapa-apain ya!” Jo merubah kekagetan dengan candaan.
“Hehehe jadi jangan paksa aku menyanyi, main musik, baca puisi ya soalnya aku nggak bisa! Aku jadi penikmat aja deh!” Riri tersenyum lega.
Entah kenapa dengan Jo, Riri ingin bebagi banyak tentang dirinya. Dan nampaknya Jo tidak mempermasalahkan apapun.
***
Masa orientasi mahasiswa kampus baruakan berakhir setelah bermaaf-maafan antar panitia dan mahasiswa baru. Acara puncaknya nanti malam dalam acara penutupan dengan penampilan mahasiswa baru untuk menghibur.
Malam yang cerah di pojokan dekat panggung yang tidak terlalu tinggi Riri duduk dengan memeluk kedua lututnya dalam balutan jeans dan atasan kaos ketat yang tertutup dengan jaket almamater.
Tatapan mata Riri tidak bisa beralih saat penampilan Jo dengan piano dan lagu thousand years dari film yang merupakan soundtrack film Twilight Breaking Dawn yang tengah sedang digandrungi penonton, “I have died everyday waiting for you...Darling don\'t be afraid I have loved you...For a thousand years...I\'ll love you for a thousand more...And all along I believed I would find you...Time has brought your heart to me...I have loved you for a thousand years ... I\'ll love you for a thousand more ...One step closer...One step closer.”
Riri jadi membayangkan Jo sebagai Edward yang diperankan Robert Pattinson sedangkan dirinya sebagai Bella yang diperankan Kristen Stewart sebagai kekasihnya. Keromantisan seorang remaja yang pindah ke kota Forks, Washington yang kehidupannya berubah ketika ia bertemu dengan Edward Cullen, seorang vampir \'vegetarian\' yang tidak meminum darah manusia.
Pastinya performance Jo malam ini bagi Riri malam yang menggetarkan hatinya apalagi tatapan Jo juga mengarah pada dirinya membuat Riri berdebar.
Setelah acara performance yang merupakan acara pertunjukan malam persahabatan atau keakraban selesai untuk pertama kali Jo mengantar dirinya pulang sampai depan asrama The Lady.
Kedinginan tengah malam yang menusuk dengan membonceng motor Ninja Jo, ingin rasanya Riri memeluk tubuh bidang yang menebarkan aroma Acqua di Gioia tapi nyatanya hatinya menolak keras melakukan hal itu.
Yang ada adalah jeritan hatinya yang melontarkan, “Jangan macam-macam Ri, Jo itu belum tentu merasakan apa yang kamu rasakan...Jo hanya bersikap sebagai seorang laki-laki yang mempunyai tanggung jawab mengantarkan sahabatnya pulang ke asrama dengan selamat.”
Dan Riri memutuskan untuk mengencangkan pegangannya di besi samping kanan kiri motor Ninja Kawasaki Jo, agar tidak terjungkal saat Jo tiba-tiba memacu motornya agak cepat.
Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...