Saat Cinta Itu Hadir

Reads
3K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

9. Meet You!

Tanpa terasa hampir setengah bulan dari perkawinan sakral yang hangat dengan tamu-tamu yang kekeluargaan. Zita tetap merasa tidak ada click dengan perkawinannya.
Tapi Zita bisa merasa tenang karena Fikri cukup mau bekerja sama atas kebohongan yang dia cipta. Semua demi kesehatan Ibu Farida dan juga demi egonya yang belum merasa adanya kehadiran cinta yang besar, tulus, dan mulia dari seorang Fikri.
Zita tetap ingin merasakan bebas seperti saat belum menikah, tapi ada warna yang lebih syahdu menyelusup relung jiwanya saat Fikri mengajaknya untuk menjalankan salat berjemaah, meskipun lebih sering Zita tolak karena merasa gengsi, akan tetapi diam-diam saat Fikri membaca ayat-ayat Allah, selalu ada kesejukan yang menyusup dan Zita merasa lebih adem.
***
Perpustakaan besar kampus menjadi tempat yang paling nyaman buat Zita merenungi segala permasalahan yang terjadi dengan dirinya.
Seperti sore ini Zita menatap laptop yang berisikan tulisan materi kuliah buat mahasiswanya, tapi pikirannya masih teringat perkataan ibunya tadi pagi.
“Zit, kamu kok nggak pernah buatin Fikri minuman pagi sih, meskipun ada Bibi Irah tapi ya mbok sekali-kali kamu buatin toh Nduk. Suami itu harus disayang biar lengket sama kamu. Coba Bapakmu itu kalau Ibu tidak ada beberapa jam aja dari pandangannya udah dicariin…” Kata Bu Farida sambil menyemprot pupuk pada koleksi bunga anggreknya.
“Iya toh Pak!” Zita menyapa bapaknya yang juga asyik berkebun. Bersyukur dan bahagia melihat kedua orang tuanya yang tetap saling mencintai hingga di usia senja. Andai Fauzi tidak berkhianat pasti kita bisa bahagia seperti mereka.
Kenapa masih saja Fauzi? Zita semakin resah dengan cerita yang dia dengar dari Ninda kalau Fauzi sekarang sendiri. Pernikahan dengan Riska hanya bertahan setengah tahun. Ninda tidak bercerita detail kenapa mereka berpisah, tapi kabar perceraian mantannya membuat Zita lebih bergairah untuk kembali ke kampus.
Awal-awal masuk Zita males untuk kembali mengajar pada universitas yang sama dengan Fauzi, tapi ikatan dinas membuat dia mau tidak mau harus melangkahkan ke kampus yang dua tahun ditinggalkan demi meraih Starat Dua di Australia.
Ada rasa berdebar bila tiba-tiba harus bertemu kembali dengannya. Zita merasa sangat terpuruk, terbukti dia sampai detik kembali ke Indonesia masih saja melajang. Walau sekarang dalam waktu tiga bulan statusnya telah berubah menjadi Nyonya Fikri Saputra, nyatanya Zita tetap merasa hampa dan tidak berarti.
Zita sudah berusaha merenungi kesalahan yang membuatnya terjebak dalam perkawinan pura-pura, seharusnya dia tidak perlu bersikap sekaku ini. Hanya saja Zita tidak bisa membohongi hatinya, hatinya yang masih saja mengabadikan cinta pertama.
Hampir delapan tahun yang mengkristal, nyatanya memang hanya nama Fauzi yang terukir. Tidak ada pria yang sesempurna Fauzi, walau dia jugalah yang menggoreskan kepedihan terdalam dengan pernikahannya bersama Riska.
Ironis, apa yang digoreskan ternyata tidak membuat bobol rasa cintanya. Sungguh rasa cinta yang aneh. Zita tidak menginginkan hal ini juga, hatinya merasa kasihan dengan Fikri yang telah jadi korbannya.
Zita juga menyayangkan sikap Fikri yang menyetujui pernikahan bohong ini. Benar-benar Zita tidak habis pikir bahkan menilai Fikri tidak ada harga dirinya, mau saja diinjak-injak olehnya.
***
“Zita!”
“Fauzi…” Zita tidak menyangka akan bertemu Fauzi di perpustakaan. Ah ada yang terlupakan memang, Fauzi suka sekali ke perpustakaan.
“Zita maaf aku tidak datang saat acara pernikahan kamu? Maaf… bagaimana kabarmu?” Fauzi tanpa canggung mencium pipi Zita.
Ternyata Zita tidak bisa menolak. Padahal dua tahun lalu Zita memaki habis, mengutuk, dan bersumpah tidak akan pernah mau berurusan apa pun dengannya.
Tapi apa? Mana? Rasa benci itu tidak ada sama sekali, bahkan yang kuat adalah debaran yang masih sama dirasakan bila Fauzi bersikap mesra dengannya dulu.
“Zita selamat juga untuk S2-nya ya, hebat kamu lulusan Melbourne. Mungkin aku baru bisa ke luar negeri untuk mengejar S3-ku,” Fauzi masih saja tenang dan tetap menjadi pria yang berambisi.
Zita tahu Fauzi mengambil S2 di sini saja dan berhasil lulus dengan cumlaude.
Fauzi masih saja ganteng menawan dan menggetarkan hatinya. Muka Zita rasanya memanas karena masih saja penuh kekaguman padanya.
“Zit, kamu baik-baik saja kan?” Fauzi tiba-tiba merasa khawatir karena Zita diam mematung dengan kalimat-kalimatnya.
Zita tidak menyangka sama sekali akan bertemu kembali di perpustakaan yang meninggalkan kenangan ini. Zita tahu cepat atau lambat akan bertemu kembali dengan Fauzi karena sama-sama menjadi dosen di almamater yang sama, tapi dirinya tidak menyangka akan secepat ini.
“Kamu masih ingat tentang kebiasaan kita di sini Zit? Kamu selalu memilih duduk di sini. Setelah kita berpisah dan kau pergi ke Australia, aku merasa kehilangan dirimu. Aku baru merasa banyak yang telah aku korbankan. Aku…,” Fauzi tidak meneruskan kalimat yang mengisyaratkan rasa kehilangannya.
“Sudahlah, itu hanya kenangan,” Zita mencoba tenang walau hatinya benar-benar campur aduk. Zita masih merasakan sakit, cinta dan harapan terpendam.
Diam-diam Zita berharap masih ada waktu yang membuat mereka bisa bersama lagi. Tapi yakinkah Zita bisa berkompromi dengan luka yang nyata-nyata Fauzi goreskan? Tapi Fauzi memang cinta pertamanya. But First Love Never Die!
Fauzi yang telah mengenalkan first kiss dan indahnya cinta. Fauzi terlalu menjelajah seluruh hatinya hingga tidak menyisakan tempat untuk pendatang yang mencoba bersemayam.
Fikri bagai tawanan yang dipaksa untuk bersemayam tanpa ada rasa cinta sedikitpun. Bahkan yang ada seperti dendam masa lalu. Dendam masa kecil yang telah membuat dirinya banyak menangis karena kenakalan yang dilakukan.
Zita bagai terhipnotis saat Fauzi menggenggam tangannya dan menggiringnya dalam sebuah restoran yang asri yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus.
Dalam mobil yang dikemudikan Fauzi, Zita tidak banyak bicara, hatinya tengah shocked dan ada rasa belum siap untuk bertemu kembali dengan lelaki yang amat dicintai sekaligus dibencinya.
Tapi tampaknya kebencian mengalahkan rasa cinta yang telah mengkristal. Bahkan Zita lebih dahaga untuk meraup cinta lamanya yang terenggut oleh orang ketiga yang tidak pernah terkalkulasi perhitungan hidupnya.
Riska mahasiswa yang kegatelan! Dan murahan! Itulah julukan paling pas buat mahasiwi penggoda Fauzi dan menyeretnya dalam perkawinan.
Tetapi sekarang ada tawa yang diam terbersit walau sungguh Zita tidak bermaksud mengolok-olok kegagalan Fauzi membina rumah tangganya.
Mungkin sesaat lagi Zita akan mendengar cerita-cerita kegagalan pernikahan Fauzi. Tapi untuk apa juga? Apakah untuk mengembalikan cintanya kembali. Apakah seutuhnya kembali? Tanpa ada syarat? Zita terpaku dalam bimbang.
Dan bagaimana hubungan sandiwara dirinya dengan Fikri suaminya? Aktor yang menjadi teman mainnya yang menerima perjodohan orang tua mereka demi menyelamatkan nyawa sang ibu yang ingin sekali putrinya bersanding dengan anak sahabat baiknya. Fikri dan Zita sebagai pemeran utama dalam sandiwara ini, kenyataan tanpa sadar seakan menjadikan Fikri dalam posisi peran pembantu.
Fikri yang malang, tapi siapa suruh dia mau melakukan perkawinan sandiwara dengannya. Zita mencoba membela diri dari sebuah kesalahan.

Other Stories
Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Mr. Perfectionist

Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...

Download Titik & Koma