Gadis Loak & Dua Pelita

Reads
1.9K
Votes
2
Parts
17
Vote
Report
Gadis loak & dua pelita
Gadis Loak & Dua Pelita
Penulis Indira Isvandiary

Impian & Cita-cita

Sepulang dari mengantar pisang goreng ke rumah Bima, Sekar melakukan aktivitas seperti biasanya kecuali membuat kue untuk dijual. Ini adalah hari kesekian dirinya vakum.

“Enak, Bu?”
Sekar menyuapi ibunya nasi dengan tempe goreng dan kecap di kursi depan rumah. Dua hari sekali Sekar rutin mengajak ibunya keluar agar terkena sinar matahari pagi dan udara segar.

Ibunya mengunyah tak berkomentar. Tatapan matanya kosong.

Sekar sedikit curhat pada ibunya tentang masing-masing tawaran Raksa dan ayah Bima. Meskipun dia tahu ibunya tak mengerti dan tak akan merespons.

“Sekar terima aja kali ya, Bu? Ikut ujian Paket B dan nyari barang loak bareng Bima. Uh, dua-duanya Sekar masih mikir, sih. Sekar takut gak bisa, terus ngecewain mereka.”

Usai mengurus sang ibu, Sekar kembali belajar di kamar sambil makan snack yang tempo hari diberikan oleh Rani dan lainnya saat bertandang ke rumah ini. Sekar lanjut mencicil mengerjakan soal ujian nasional tingkat SD yang diberikan Raksa. Nanti malam, dia akan datang lagi ke Balai Desa.

Ba’da Ashar setelah mandi dan sholat, Sekar memutuskan untuk keluar rumah. Memikirkan tawaran-tawaran itu dan menimpalinya dengan belajar, membuat pikirannya agak mumet. Dia melangkah tanpa tujuan. Hingga tanpa sadar tiba di dekat lapangan tanah. Terlihat bocah-bocah sedang bermain sepak bola.

Sekar berhenti tepat di tepi lapangan. Matanya memang terbawa menyaksikan pertandingan kecil itu, tetapi pikirannya terbang ke mana-mana.

***

“Sekar, saya boleh tahu nggak, apa impian kamu?”

Semalam, sebelum Raksa membahas soal ujian Paket B, lelaki itu sempat melontarkan pertanyaan tersebut kepadanya.

Tentu saja, Sekar tak langsung menjawab. Bahkan, dia tidak tahu apa itu impian. Kesulitan hidup seakan tak pernah membawa dirinya atau mengajarkannya untuk memilih dan memiliki keinginannya sendiri. Apalagi sampai harus meraihnya.

“Nggak tahu, Kak,” kata Sekar menjawab pertanyaan Raksa sambil menggeleng pelan.

Raksa berdeham. “Hm, atau enggak cita-cita, deh? Misalnya … mau punya toko kue sendiri?”

Sekar menatap wajah Raksa dengan tatapan polos sekaligus bingung. Dia menggeleng lagi karena tak pernah memikirkan apa itu cita-cita. Yang dia tahu, setiap harinya dia harus bertahan hidup dengan mencari uang dan merawat ibunya.

Raksa tersenyum. “Tapi, Sekar suka belajar, kan?”

Kali ini, Sekar mengangguk. “Iya, Kak. Suka.”

“Hmm, berarti, Sekar setidaknya punya impian jangka pendek sebelum menentukan cita-cita.”

“Apa itu, Kak Raksa?”

“Lanjutin sekolah, menyelesaikan pendidikan sampai lulus dan dapet ijazah.”

Mata Sekar membulat, seperti Raksa baru saja memberinya secercah cahaya yang menyusup langsung ke relung hatinya, menerangi sesuatu yang terkubur gelap di dalam sana.

“Uh, Sekar emang ada keinginan mau lanjut sekolah, sih. Hm, jadi itu namanya impian ya, Kak?”

Raksa tertawa. “Ya, keinginan sekecil apa pun, itu namanya impian, Sekar. Dan cita-cita adalah sesuatu yang lebih besar lagi. Jawaban kamu, menandakan bahwa kamu masih punya impian meskipun tadi … kamu kelihatan bingung.”

Wajah Sekar memerah. Dia agak malu karena ternyata Raksa sadar dirinya sempat kebingungan.

***

Pikiran Sekar kembali ke dunia nyata, bersamaan dengan seorang bocah yang berhasil mencetak gol ke dalam gawang yang dibuat dari sandal.

Gadis itu lalu bergumam, “Cita-cita ya ….”

Saat Raksa menyinggung tentang membuka toko kue, hati Sekar tak bergetar sedikitpun. Selama ini, Sekar berjualan kue bukan karena dia suka, tetapi karena harus menggantikan ibunya.

Namun, saat Sekar mengingat ucapan Raksa yang lain sewaktu sesi belajar di Balai Desa:
“Keren Sekar. Kamu kayaknya cocok deh ngajar anak-anak.”

Di saat itulah, Sekar bukan hanya malu-malu menanggapi ucapan Raksa, tetapi hatinya juga berdebar.

“Guru? Aku … mau jadi guru?”

“Sekar?” panggil seseorang mengejutkan Sekar.

Sekar langsung menoleh ke belakang. Itu Bima bersama gerobak loaknya.

“Ngapain di sini? Tumben amat,” kata Bima lagi.

“Bosen.” Sekar lalu menghampiri Bima. Dia melihat isi gerobak loak Bima karena penasaran apa yang didapat lelaki itu hari ini. Di sana, ada kipas angin, kardus lipat, peralatan dapur random, dan mainan anak-anak. “Ih, lucu amat ini!”

Sekar mengangkat mainan piano kecil itu, lalu menekan-nekan tutsnya.

“Mau aku cek dulu, masih nyala atau enggak,” timpal Bima. “Naik gih, Sekar. Aku anter pulang.”

“Eh, naik ke gerobak maksudnya?”

“Ho’oh," jawab Bima. Tenang aja, kamu gak bakal aku jual kok ke pengepul. Ayo, seru tau! Belom pernah, kan?”

Sekar mendengus mendengar ledekan Bima, tetapi dia juga tak bisa menolak karena penasaran. Akhirnya dia naik ke gerobak itu dan duduk di sebelah kipas angin.

“Ahaha, gak jeblos, kan?”

“Gak!” Bima ikut terkekeh. Dia mulai mengayuh gerobak loaknya.

“Bim, jalan-jalan dulu dong bentar,” pinta Sekar mulai keasyikan. “Berasa naik becak.”

“Yee, ngelunjak.”

Mereka pun berkeliling. Sekar tampak menikmati sepoi angin yang menerpa wajah dan rambut panjangnya. Di belakang, Bima tak bisa menahan senyuman yang terukir di wajahnya. Dia senang melihat Sekar senang.

“Bim, kamu punya impian gak? Atau cita-cita?” tanya Sekar tiba-tiba.

“Hah, apaan tuh? Penting emang?” Bima malah balik bertanya.

“Aku juga gak tau, sih. Tapi … kayaknya orang yang punya impian dan cita-cita tuh, keren.”

Bima berpikir sejenak. Dia cuman sekolah sampai kelas 4 SD. Selama ini, kerjaannya hanya membantu ayahnya mencari barang bekas. Mana kepikiran impian dan cita-cita?

“Apaan ya? Kalo nikah sama kamu, itu cita-cita bukan, Sekar?”

Sekar menoleh, menatap Bima. “Dih, aku aduin Pakde, loh.”

Bima langsung nyengir kuda. “Heee, jangan-jangan! Canda.”

Mpok Mina yang sedang menyapu lantai pelataran rumahnya, tanpa sengaja melihat mereka melintas. Ayunan sapu di tangannya sontak terhenti.

“Buset dah, itu si Sekar yang berendem di gerobak?” Matanya menegaskan. “Waduh, kelewatan bangat apa gua ya, bikin anak orang jadi gila?”

Setiba di depan rumahnya, Sekar turun dari gerobak loak Bima.

“Makasih ya, Bim.”

“Oke.” Bima lalu bertanya, “Terus, jadinya kamu mau terima tawaran Kak Raksa?”

“Mungkin. Kamu juga, kan?”

Bima mengangkat bahunya.

“Kenapa?”

“Hmm, gimana ya. Bukannya gak mau, tapi belom mau.”

“Gitu ya.” Sekar mengangguk pelan. “Tadinya, aku pikir kita bisa berjuang sama-sama, Bim.”

Mata Bima membulat setelah mendengar kalimat ‘berjuang bersama Sekar’.

“Eh, tapi aku pikir-pikir dulu deh. Sekalian tanya pendapat Bapak. Aku belom sempet bilang.”

Sekar tersenyum. “Oh ya, soal tawaran Pakde—”

“Sekar, kataku mah jangan,” sela Bima yang sudah mendengar juga soal tawaran ayahnya pada Sekar. “Nyari barang bekas itu bisa sampe seharian dan jauh. Panas. Nanti kamu kecapekan. Apalagi, kamu juga harus mantau ibu kamu, kan?”

Sekar terdiam. Apa yang dikatakan Bima ada benarnya. Namun, dia juga harus punya pemasukan karena uangnya kian menipis.

“Bim, izinin aku, nyoba sekali. Lagian, Pakde bilang aku cuman harus ikut kamu, kan? Jadi, aku gak perlu khawatir karena ada kamu.”

Bima termangu mendengar ucapan Sekar, seperti gadis itu benar-benar percaya padanya. Tangannya mengusap wajahnya yang kumal.

“Mau kapan?”

“Besok," jawab Sekar mantap.

Other Stories
Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

The Unkindled Of The Broken Soil

Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Download Titik & Koma