Di Balik Bayang (21 +)
Lampu yang padam total membuat seisi rumah hanya diterangi oleh kilatan petir yang sesekali menyambar. Di dalam kegelapan itu, Aruna tidak lagi bisa membedakan mana moralitas dan mana gairah. Samudra tidak membiarkannya berpikir, ia hanya ingin Aruna merasakan. Samudra, berdiri di depannya seperti predator yang haus. Tubuhnya yang tinggi 185 cm, dada bidang dengan tato naga melingkar di bahu kanan, dan celana jeans ketat yang menonjolkan tonjolan besar di selangkangannya, membuat Aruna sulit bernapas. Samudra bukan lagi pria sopan yang ia kenal, matanya gelap penuh nafsu terlarang. Ia tahu Aruna sudah lama tergoda olehnya ,
"Lampu mati total, Una," gumam Samudra dengan suara serak, suaranya bergema di dapur luas yang diterangi kilatan petir. "Tidak ada yang melihat. Hanya kita." Ia melangkah mendekat, aroma maskulinnya campuran keringat, cologne kayu cendana, dan hujan menyelimuti Aruna seperti kabut afrodisiak. Aruna mundur sampai punggungnya menyentuh meja marmer dapur yang besar dan dingin seperti es. Moralitasnya berteriak:”Saka suamimu. Ini salah.” Tapi gairahnya membara, Samudra adalah api liar yang kontras dengan Saka yang selalu terkendali, dingin, dan perfeksionis
Samudra tidak memberinya waktu berpikir. Dengan gerakan penuh tenaga kasar ia mengangkat Aruna ke atas meja. Tubuh Aruna yang ringan terangkat mudah, kakinya terbuka lebar secara insting, roknya tersingkap hingga memperlihatkan celana dalam renda hitam yang sudah basah oleh campuran hujan dan cairan tubuhnya sendiri. Marmer dingin menusuk pantat telanjangnya yang bulat dan kenyal, membuat putingnya mengeras di balik bra sutra. panas membara dari dada Samudra yang menekan tubuhnya.
Tangan Samudra yang kasar dan jarinya merambat masuk ke balik blus sutra Aruna. Ia meremas pinggang rampingnya dengan posesif, jempolnya mengelus tepi tulang pinggul, lalu naik ke perut rata yang bergetar. "Katakan siapa yang kau inginkan sekarang, Una," bisiknya tepat di depan bibir Aruna, napas panasnya menyapu bibir merah montok istrinya kakaknya. "Sebut namaku, bukan namanya. Bukan Saka yang selalu sibuk dengan urusannya."
Aruna tidak menjawab dengan kata-kata. Nafsunya sudah menguasai. Ia menarik tengkuk Samudra yang tebal, jari-jarinya mencengkeram rambut hitam pendeknya, dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman liar seperti binatang buas. Lidah Samudra langsung menyerbu mulutnya, menari ganas dengan lidah Aruna, menghisap nektar manisnya sambil menggigit bibir bawahnya hingga sedikit berdarah. Suara erangan rendah Samudra bergema, getarannya menjalar ke dada Aruna. Tangannya dengan cekatan membuka kancing blus sutra satu per satu hingga membiarkan kain halus itu terbuka lebar, jatuh ke lantai seperti daun kering. Bra hitam renda terlihat jelas, payudara Aruna naik-turun cepat, puting cokelat muda menonjol menggoda.
Kilatan petir menerangi tubuh mereka, Samudra menunduk, bibirnya menelusuri leher panjang Aruna, menggigit kulit halus di tulang selangka hingga meninggalkan tanda merah. Lidahnya menjilat garam keringat di antara belahan payudaranya, lalu merenggut bra ke bawah dengan satu tarikan kasar. Payudara montok Aruna terlonlok keluar, bergoyang bebas. Samudra langsung menyergap satu puting dengan mulutnya, menghisap keras seperti bayi kelaparan, gigi menjepit lembut sambil lidahnya berputar-putar. Tangan satunya meremas payudara satunya, jari menggenggam daging lembut itu hingga memerah, sementara tangan kirinya merayap ke bawah, menyusup ke rok Aruna.
Aruna melengkungkan punggungnya, punggungnya bergesek marmer dingin, erangannya pecah di kegelapan: "Ahh... Sam... lebih..." Jari Samudra merobek celana dalamnya, renda robek dengan suara rrrt yang memekakkan telinga di tengah deru hujan. Vaginanya yang sudah basah kuyup terbuka lebar, bibir luar montok berdenyut, klitoris membengkak menunggu sentuhan. Dua jari tebal Samudra langsung menusuk masuk, mengaduk-aduk dinding berlapis madu panasnya dengan ritme kasar, bunyi slurpp basah bergema. "Kau basah sekali, Una. Ini untukku, ya? Bukan untuk kakakku yang kaku itu," ejek Samudra sambil menambah jari ketiga, meregangkan lubang ketat Aruna hingga ia menjerit nikmat.
Dalam keheningan yang hanya dipecah deru hujan deras dan petir menggelegar, Samudra mengeksplorasi setiap inci kulit Aruna. Ia turun ke perut, lidahnya menjilat pusar dalam-dalam, lalu ke paha dalam yang gemetar. Ia membuka kaki Aruna lebar-lebar, lututnya menekan meja, dan menyelam wajahnya ke selangkangan. Lidah panjangnya menjilat klitoris dengan lembut dulu, lalu menyedotnya seperti vakum, gigi menggigit ringan hingga Aruna menggeliat liar, tangannya mencengkeram pinggir meja hingga kuku patah. "Rasakan ini, Una... lidahku lebih tahu caranya bikin kau gila," gumamnya sebelum menusuk lidah ke dalam lubang vaginanya, mengaduk cairan kenikmatan yang mengalir deras ke marmer.
Aruna sudah hilang kendali. Ia menarik Samudra naik, merobek kemeja denimnya hingga kancing beterbangan, memperlihatkan dada berotot penuh keringat. Tangannya meraih ritsleting celana jeans, menariknya turun dengan tergesa. Penis Samudra meloncat keluar, panjang 20 cm, tebal seperti pergelangan tangan, urat-urat menonjol,. Aruna menggenggamnya, mengocok keras sambil menjilat bibir: "Masukin sekarang... aku mau kau hancurkan aku."
Di atas meja itu, di rumah yang dibangun oleh Saka, Aruna membiarkan Samudra menghancurkan sisa-sisa kesetiaannya. Samudra mengarahkan penisnya ke lubang basah Aruna, menusuk masuk dengan satu dorongan brutal. "Fuuuck... ketat banget!" erangnya. Dinding vagina Aruna merangkul batangnya erat, meregang hingga terasa sakit nikmat. Samudra menghantam keras, pinggulnya beradu plak-plak-plak dengan pantat Aruna, meja bergoyang seperti akan roboh. Setiap dorongan menyentuh titik G, membuat Aruna menjerit: "Ya! Lebih dalam, Sam! Kau lebih besar dari Saka... ahhh!" Tangan Samudra meremas payudaranya kasar, meninggalkan bekas jari, sementara ia mengecup lehernya penuh gigitan.
Mereka berganti posisi Aruna dibalik, pantatnya ke atas, Samudra menghantam dari belakang seperti anjing liar. Penisnya mengiris dalam-dalam menghantam klitoris, cairan mereka bercampur mengalir ke paha. Aruna orgasme seperti tsunami, tubuhnya kejang, vagina berdenyut menyemprotkan squirt basah ke marmer. Samudra tak berhenti, malah tambah cepat, tangannya meremas klitoris sambil jari telunjuk menusuk anus ketat Aruna, meregangkannya pelan. "Nanti aku isi belakang juga, Una... kau milikku sekarang
Orgasm kedua, ketiga... Aruna tak ingat berapa kali. Penyatuan mereka berlangsung hampir satu jam, penuh erangan, jeritan, dan bau seks yang memenuhi udara. Akhirnya, Samudra mengerang keras, penisnya membengkak, menyemburkan sperma panas deras ke dalam rahim Aruna, gelombang demi gelombang, meluap keluar bercampur darah tipis dari gesekan kasar. Mereka ambruk di lantai dapur, tubuh telanjang saling bertautan, napas tersengal di tengah genangan cairan mereka.
Ketika cahaya abu-abu fajar mulai menyelinap masuk melalui jendela yang pecah, Aruna terbangun di sofa ruang tamu dengan selimut wol menyelimuti tubuhnya yang polos. Samudra tidak ada di sana.
Ia bangkit dengan tubuh yang terasa nyeri namun sekaligus ringan, seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya. Namun, perasaan lega itu hanya bertahan sesaat. Di atas meja kopi, terdapat selembar kertas catatan kecil dengan tulisan tangan yang rapi,tulisan tangan yang sangat ia kenali.
"Aku sudah pulang sejak jam dua pagi tadi, Una. Aku melihat semuanya dari kegelapan. Ternyata benar, kau memang lebih cantik saat kau hancur. - Saka"
Darah Aruna terasa membeku. Ia menoleh ke arah tangga dan melihat Saka berdiri di sana, mengenakan kemeja putih bersih tanpa noda sedikit pun, menatapnya dengan senyum lembut yang paling mengerikan yang pernah ia lihat. Di sampingnya, Samudra berdiri dengan tangan terborgol ke pagar tangga, wajahnya lebam dan penuh kemarahan yang tertahan.
"Selamat pagi, Sayang," ujar Saka tenang. "Sekarang, mari kita bicara tentang bagaimana cara memperbaiki rumah kita yang rusak ini.
Other Stories
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...