Bab 63 - Keputusan Tanpa Kepastian
“Jangan sembarangan bicara, Rumsun. Hemy bukan anak seperti itu.” Suara Ratu Huji jatuh tegas, dingin, dan tak menyisakan ruang tawar. Kali ini, amarahnya nyata. Ia tidak lagi memanggil Rumsun dengan sapaan akrab. Tidak ada nada kekeluargaan di sana. Yang berbicara adalah seorang Ratu, berdiri penuh dalam otoritasnya.
Hubungan antara keluarga Huji dan Thungsiruv memang tak pernah benar-benar berjalan seiring. Retakan itu bermula enam puluh tahun lalu, ketika ayah Thungsiruv terpilih menjadi Raja, mengungguli ayah Rumsun dan Huji dalam keputusan rakyat. Sebuah pemilihan yang kala itu mengguncang lingkaran elite Porkah dan meninggalkan luka yang sulit dilupakan bagi Rumsun sekeluarga termasuk Huji.
Waktu berjalan, namun luka tidak sepenuhnya menutup. Dua puluh dua tahun lalu, ayah Thungsiruv wafat di usia senja kekuasaannya. Pada hari itulah estafet tahta berpindah tangan. Suami Huji, yang sebelumnya hanya salah satu kandidat terkuat, muncul sebagai pemenang pemilu dan dinobatkan sebagai Raja Kerajaan Porkah.
Sejak saat itu, Huji bukan lagi sekadar nama dari keluarga yang pernah kalah. Ia berdiri sebagai Ratu di pusat kekuasaan. Sementara Thungsiruv hidup sebagai anak dari Raja yang perlahan berubah menjadi bagian dari sejarah. Demokrasi memang menjaga kestabilan negeri, tetapi garis-garis lama tidak pernah sepenuhnya lenyap.
Ironisnya, jauh sebelum tahta dan pemilu memisahkan mereka, sebuah pernikahan justru telah lebih dulu menyatukan dua keluarga itu. Thungsiruv menikahi sepupu Huji pada masa ketika ayahnya belum menjadi Raja, di waktu kekuasaan belum mengubah hubungan menjadi kalkulasi dingin. Bagi bangsa Porkah, pertalian darah dan pernikahan adalah fondasi yang dijaga tanpa kompromi. Perbedaan boleh ada, pendapat bisa berseberangan, kecurigaan pun wajar, namun kehormatan keluarga tetap dijunjung tinggi.
Karena itulah, Huji tidak sepenuhnya berpihak pada Rumsun, kakaknya sendiri.
Rumsun menarik napas, lalu menunduk sedikit.
“Maaf, Baginda Ratu,” katanya dengan suara yang lebih terkontrol.
“Rumor itu… mempengaruhi hamba. Membuat hamba tidak berpikir jernih.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, lebih hati-hati.
“Bahkan Ketua Thungsiruv tadi mengatakan bahwa beliau merasakan ada sesuatu yang janggal pada Komandan Mynhemeni.” Suasana ruangan berubah. Kehangatan keluarga yang sempat terasa kini menguap, digantikan ketegangan jabatan dan kepentingan. Rumsun melirik Huji sekilas, seolah berharap dukungan. Bukankah sudah sewajarnya seorang adik berdiri di pihak kakaknya?
Thungsiruv segera angkat bicara sebelum jarak di antara mereka melebar.
“Iya, walaupun begitu,” ucapnya tenang, suaranya berat namun menenangkan, “apa pun yang dilakukan Hemy pasti untuk kebaikan kita semua. Kita harus mempercayakan penuh tindakannya.” Nada bicaranya berbeda. Ia tidak berbicara sebagai Wakil Ketua Distrik, melainkan sebagai suami dari sepupu Huji, sebagai keluarga yang mencoba menjaga keseimbangan.
Huji menghela napas. Amarah di wajahnya mereda, meski belum sepenuhnya hilang.
“Betul, Kak... Walaupun rumor itu benar, aku yakin Hemy melakukannya bukan untuk mengkhianati bangsanya sendiri. Ia pasti berusaha menjaga kita semua,” katanya akhirnya.
Namun pelunakan itu sama sekali tidak menenangkan Rumsun. Di balik wajah tenangnya, kegelisahan justru semakin menguat. Hasratnya untuk menguasai Cakra berdenyut semakin keras. Ia tidak ingin Mynhemeni yang memegang kendali atas anak manusia darat itu. Ia bahkan belum sempat menyampaikan niat dan rencananya kepada Huji. Langkahnya selalu selangkah terlambat, tersalip oleh Thungsiruv, lagi dan lagi.
Padahal, ketika ia hendak berteleportasi menemui adiknya, pesan dari Huji sudah lebih dulu tiba. Sang Ratu berada di Nor dan meminta Rumsun datang secepatnya. Bukan sebagai pemimpin distrik, bukan sebagai Wakil Ketua, melainkan sebagai saudara. Thungsiruv yang memintanya, dengan nada meminta tolong, bukan diplomasi.
Kini, Rumsun hanya bisa menahan semua niat itu di dalam dadanya. Sejak tadi, hanya Thungsiruv yang memaparkan tentang anak manusia darat itu di hadapan Huji. Thungsiruv pula yang meminta agar Huji tidak gegabah, agar perkara ini tidak sampai ke telinga Raja, suaminya atau Perdana Menteri.
Permintaan itu murni datang sebagai keluarga. Jika kabar tentang manusia darat tersebut sampai ke pusat kekuasaan, Huji diharapkan mampu menjadi jembatan. Memberi pengertian pada Raja, meredam kepanikan seluruh bangsa Porkah yang telah lama hidup dalam bayang-bayang ancaman masa lalu.
Rumsun menggenggam tangannya sendiri. Kini kegelisahan itu terasa nyata. Harapannya tinggal satu, Olhuioruik.
Sementara itu, Yermi, kecerdasan penjaga ruang kerja Rumsun yang bernama Mergin, aktif. Tiga puluh tujuh detik setelah Olhuioruik memasuki ruang tunggu kantor Rumsun, suara Mergin bergema.
“Petugas Olhuioruik. Anda diminta oleh Wakil Ketua Rumsun untuk segera menuju ruang kerja Ketua Thungsiruv.”
Tanpa ragu, Olhuioruik bergerak. Tubuhnya melayang cepat meninggalkan ruang tunggu, melesat menyusuri lorong bercahaya menuju sayap seberang, tempat ruang Thungsiruv berada.
Sementara itu, Rumsun menatap kosong ke depan. Permainannya belum selesai.
“Selamat datang, Petugas Olhuioruik. Anda sudah ditunggu oleh Ratu, Ketua, dan Wakil Ketua. Silakan masuk.” Suara Yermi ruang kerja Thungsiruv bergema tenang. Begitu kalimat itu berakhir, dinding berwarna kuning keemasan di hadapan Olhuioruik bergetar pelan. Permukaannya bergerak seperti lapisan mutiara cair, lalu terbelah, menghadirkan gelombang air yang berputar rapi sebelum menyatu kembali menjadi ambang pintu.
Olhuioruik tidak membuang waktu. Dengan langkah terburu-buru, ia melayang masuk. Udara di dalam ruangan terasa padat, seolah tekanan laut ikut merayap ke dadanya, meski lantainya kokoh seperti daratan.
“Maaf, Baginda Ratu. Ketua. Wakil Ketua.” Ia membungkuk singkat, lalu langsung melapor begitu Huji mengisyaratkan untuk ia mendekat.
“Hamba ingin melaporkan adanya indikasi kuat bahwa Komandan Mynhemeni dan anak manusia darat itu berada di Distrik Anap.” Ia mengedipkan matanya. Seketika, layar hologram casvet memancar di udara. Data-data berlapis muncul, pola gelombang energi, jejak teleportasi, serta satu titik yang berdenyut samar. Nama Georu tertera jelas. Kemunculannya di Anap tercatat tak lama setelah teleportasi terakhir.
Thungsiruv bereaksi seketika. Matanya melebar, alisnya terangkat tajam. Tubuhnya sedikit tersentak sebelum kembali kaku.
“Mereka pasti berada di kediaman Ketua Distrik Anap, Juylastraz,” gumamnya pelan, namun cukup terdengar. Suaranya tegang, seolah potongan terakhir teka-teki baru saja jatuh ke tempatnya.
Ratu Huji menoleh cepat ke arahnya.
“Di kediaman Ketua Juylastraz?” tanyanya.
“Bukankah Ketua dan Wakil Ketua Distrik Anap sedang berada di Saturnus. Baginda Raja baru saja bercerita tentang keberangkatan mereka hari ini.” Keheningan menyelimuti ruangan sesaat. Arus cahaya di dinding berdenyut pelan, seperti napas laut yang tertahan.
Huji kemudian menegakkan bahunya.
“Baiklah. Terima kasih atas laporan ini. Kami akan mengambil alih sepenuhnya.” Suara Ratu Huji terdengar tenang, namun ketegasannya menutup ruang bantahan apa pun. Tatapannya mengunci Olhuioruik sesaat, lalu bergeser ke arah Thungsiruv. Perpindahan pandangan itu sederhana, tetapi sarat makna. Sebuah keputusan telah diambil.
Olhuioruik kembali membungkuk singkat. Namun kali ini ia tidak segera beranjak. Tidak ada perintah untuk keluar. Ia memilih tetap berdiri di tempat, tubuhnya tegap, kesadarannya siaga. Sebagai petugas, ia tahu kapan harus pergi. Sebagai saksi sejarah, ia tahu kapan harus diam dan menyimak.
“Aku akan mengakses Distrik Anap dan meminta pengamat distrik membuka seluruh akses,” ujar Ratu Huji. Suaranya tenang, tetapi mengandung perintah yang tak bisa ditawar.
“Termasuk ruang kediaman Ketua Distrik Anap.”
Ia menggerakkan kepalanya sedikit. Dari balik matanya, butiran casvet muncul, berkilau seperti serpihan cahaya laut yang terperangkap. Partikel itu melayang sesaat, lalu menghantam ruang di hadapan mereka. Hologram pun terbuka, menampilkan ruang kerja pribadi milik orang tua Saljiva.
Mynhemeni berdiri di sisi ruangan, sikapnya fokus dan terkendali. Saljiva berada tak jauh darinya, dikelilingi perangkat analisis yang memancarkan cahaya lembut. Sementara itu, Georu dan Cakra justru melesat turun dari atap ruangan, tubuh mereka melayang ringan bersama kursi-kursi yang ikut terbawa, seolah gravitasi hanya saran belaka di tempat itu.
“Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya Ratu Huji. Ia menegakkan tubuh dari sandaran sofa. Sofa itu ikut menyesuaikan, bergeser pelan mengikuti pergerakan sang Ratu agar tetap nyaman. Tatapannya tajam, penuh tanda tanya.
“Sepertinya Hemy sedang menganalisis anak itu,” jawab Thungsiruv mantap. Ia ikut sedikit condong ke depan, matanya tak lepas dari hologram. Ada keyakinan di sana, keyakinan yang dibangun dari bertahun-tahun mengenal Mynhemeni.
“Kalau begitu, segera kumpulkan pasukan ke ruang pertemuan utama,” seru Rumsun. Nada suaranya terlalu bersemangat untuk situasi seperti ini.
Ratu Huji dan Thungsiruv saling pandang. Kening mereka mengerut hampir bersamaan.
“Tunggu,” kata Thungsiruv.
“Untuk apa mengumpulkan pasukan? Bukankah kita hanya perlu menunggu hasil analisis Hemy?” Ia menoleh ke arah Rumsun, jelas menangkap kegelisahan di balik sikap impulsif itu. Seolah Wakil Ketua tersebut ingin bertindak sebelum alasan benar-benar terbentuk.
“Bagaimana kalau Hemy berniat membawa kabur anak itu lagi?” balas Rumsun. Suaranya terdengar ragu, tidak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya sendiri. Ia berhenti sejenak, memilih berhati-hati. Ada terlalu banyak hal yang ingin ia sampaikan, tetapi tidak di hadapan Thungsiruv.
Ratu Huji memiringkan kepala.
“Untuk apa dia membawa kabur lagi,” katanya perlahan, “kalau status anak itu sudah jelas?”
Ia kembali menatap hologram. “Jika anak itu memang ancaman, Hemy pasti akan menahannya. Memerangkapnya. Bukan membiarkannya bergerak bebas.”
Ia menoleh ke Thungsiruv. “Benar begitu, sepupu ipar?”
“Tentu,” jawab Thungsiruv tanpa ragu.
“Aku yakin Hemy sudah menyiapkan langkah lain jika anak itu berbahaya.” Ia mengangkat tangan sedikit, menunjuk ke arah hologram.
“Lihat mereka. Tidak ada tanda siaga tempur. Tidak ada kepanikan. Mereka tidak terlihat seperti sedang menghadapi ancaman.”
Keheningan singkat menyelimuti ruangan. Arus cahaya di dinding berdenyut pelan, seperti laut yang menahan ombaknya sendiri. Bagi Huji dan Thungsiruv, satu hal terasa pasti. Apa pun yang dilakukan Mynhemeni, itu bukan pengkhianatan.
Bagi Rumsun, justru itulah yang paling mengganggu.
“Tapi bagaimana kalau justru sebaliknya,” suara Olhuioruik memotong perdebatan yang mulai berputar di tempat. Nada suaranya tidak tinggi, namun cukup tajam untuk membuat ruangan mendadak sunyi.
“Bagaimana kalau anak itu sudah menguasai Komandan Mynhemeni dan semua orang di sana, Ketua? Bagaimana kalau Sanvar dan kesadaran mereka sudah diambil olehnya?” Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan tidak nyaman. Satu per satu kepala menoleh ke arahnya. Bahkan aliran cahaya di dinding ruangan seolah melambat, berdenyut pelan seperti arus laut yang tiba-tiba menahan napas.
Raut wajah Huji berubah. Dahinya mengerut, matanya menyipit. Olhuioruik seharusnya sudah meninggalkan ruangan sejak tadi. Pertanyaan itu jelas terbaca di wajahnya, meski tak satu kata pun terucap.
“Nah. Itu dia...” Keheningan itu pecah oleh Rumsun. Ucapnya cepat, seperti menemukan pijakan di tengah kekhawatirannya sendiri. Ia mencondongkan tubuhnya setengah langkah ke depan, bahunya menegang.
“Bagaimana kalau anak itu sama sekali tidak sedang dianalisis? Bagaimana kalau justru dia menyabotase ruangan itu untuk menghubungi koloninya?” Ia menoleh tajam ke arah hologram, seakan bisa menembus dinding dan melihat apa yang sesungguhnya terjadi di Distrik Anap.
“Kita semua terlalu fokus pada asumsi bahwa Mynhemeni memegang kendali,” lanjutnya.
“Padahal, bisa jadi kendali itu sudah berpindah tangan.”
“Kalau begitu, aku akan menghubungi Hemy,” ujar Thungsiruv. Tubuhnya hampir bangkit dari tempat duduknya.
“Jangan.” Suara Rumsun menyambar cepat. Tangannya terangkat refleks, berhenti di udara di antara mereka, cukup dekat untuk menghentikan gerak Thungsiruv tanpa menyentuhnya.
“Saat ini Hemy mudah dilacak karena ia tidak mengaktifkan mode penyamaran. Begitu kamu menghubunginya, Mynhemeni akan langsung tahu,” lanjutnya, lebih tenang namun penuh tekanan.
Ia menarik napas singkat.
“Dan saat itu terjadi, mereka akan menghilang dari radar kita... Lagi...” Thungsiruv membeku di tempat. Cahaya di dinding beriak pelan, seperti permukaan laut yang terganggu arus dalam. Tak ada yang buru-buru menyela. Pikiran mereka bergerak ke arah yang sama, membayangkan titik cahaya yang tiba-tiba padam, jejak yang kembali lenyap.
“Kita tidak boleh memberi mereka peringatan,” kata Rumsun akhirnya. Nadanya mengeras.
“Kita harus ke sana sekarang juga.”
Ia menatap satu per satu wajah di ruangan itu, memastikan setiap kata menancap.
“Kita sergap mereka dengan pasukan penuh.” Kali ini, usulannya terdengar terlalu masuk akal untuk ditolak.
Keraguan kembali menyebar, dingin dan senyap, seperti arus laut dalam yang perlahan menarik siapa pun yang berdiri terlalu lama di tepinya.
Hubungan antara keluarga Huji dan Thungsiruv memang tak pernah benar-benar berjalan seiring. Retakan itu bermula enam puluh tahun lalu, ketika ayah Thungsiruv terpilih menjadi Raja, mengungguli ayah Rumsun dan Huji dalam keputusan rakyat. Sebuah pemilihan yang kala itu mengguncang lingkaran elite Porkah dan meninggalkan luka yang sulit dilupakan bagi Rumsun sekeluarga termasuk Huji.
Waktu berjalan, namun luka tidak sepenuhnya menutup. Dua puluh dua tahun lalu, ayah Thungsiruv wafat di usia senja kekuasaannya. Pada hari itulah estafet tahta berpindah tangan. Suami Huji, yang sebelumnya hanya salah satu kandidat terkuat, muncul sebagai pemenang pemilu dan dinobatkan sebagai Raja Kerajaan Porkah.
Sejak saat itu, Huji bukan lagi sekadar nama dari keluarga yang pernah kalah. Ia berdiri sebagai Ratu di pusat kekuasaan. Sementara Thungsiruv hidup sebagai anak dari Raja yang perlahan berubah menjadi bagian dari sejarah. Demokrasi memang menjaga kestabilan negeri, tetapi garis-garis lama tidak pernah sepenuhnya lenyap.
Ironisnya, jauh sebelum tahta dan pemilu memisahkan mereka, sebuah pernikahan justru telah lebih dulu menyatukan dua keluarga itu. Thungsiruv menikahi sepupu Huji pada masa ketika ayahnya belum menjadi Raja, di waktu kekuasaan belum mengubah hubungan menjadi kalkulasi dingin. Bagi bangsa Porkah, pertalian darah dan pernikahan adalah fondasi yang dijaga tanpa kompromi. Perbedaan boleh ada, pendapat bisa berseberangan, kecurigaan pun wajar, namun kehormatan keluarga tetap dijunjung tinggi.
Karena itulah, Huji tidak sepenuhnya berpihak pada Rumsun, kakaknya sendiri.
Rumsun menarik napas, lalu menunduk sedikit.
“Maaf, Baginda Ratu,” katanya dengan suara yang lebih terkontrol.
“Rumor itu… mempengaruhi hamba. Membuat hamba tidak berpikir jernih.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, lebih hati-hati.
“Bahkan Ketua Thungsiruv tadi mengatakan bahwa beliau merasakan ada sesuatu yang janggal pada Komandan Mynhemeni.” Suasana ruangan berubah. Kehangatan keluarga yang sempat terasa kini menguap, digantikan ketegangan jabatan dan kepentingan. Rumsun melirik Huji sekilas, seolah berharap dukungan. Bukankah sudah sewajarnya seorang adik berdiri di pihak kakaknya?
Thungsiruv segera angkat bicara sebelum jarak di antara mereka melebar.
“Iya, walaupun begitu,” ucapnya tenang, suaranya berat namun menenangkan, “apa pun yang dilakukan Hemy pasti untuk kebaikan kita semua. Kita harus mempercayakan penuh tindakannya.” Nada bicaranya berbeda. Ia tidak berbicara sebagai Wakil Ketua Distrik, melainkan sebagai suami dari sepupu Huji, sebagai keluarga yang mencoba menjaga keseimbangan.
Huji menghela napas. Amarah di wajahnya mereda, meski belum sepenuhnya hilang.
“Betul, Kak... Walaupun rumor itu benar, aku yakin Hemy melakukannya bukan untuk mengkhianati bangsanya sendiri. Ia pasti berusaha menjaga kita semua,” katanya akhirnya.
Namun pelunakan itu sama sekali tidak menenangkan Rumsun. Di balik wajah tenangnya, kegelisahan justru semakin menguat. Hasratnya untuk menguasai Cakra berdenyut semakin keras. Ia tidak ingin Mynhemeni yang memegang kendali atas anak manusia darat itu. Ia bahkan belum sempat menyampaikan niat dan rencananya kepada Huji. Langkahnya selalu selangkah terlambat, tersalip oleh Thungsiruv, lagi dan lagi.
Padahal, ketika ia hendak berteleportasi menemui adiknya, pesan dari Huji sudah lebih dulu tiba. Sang Ratu berada di Nor dan meminta Rumsun datang secepatnya. Bukan sebagai pemimpin distrik, bukan sebagai Wakil Ketua, melainkan sebagai saudara. Thungsiruv yang memintanya, dengan nada meminta tolong, bukan diplomasi.
Kini, Rumsun hanya bisa menahan semua niat itu di dalam dadanya. Sejak tadi, hanya Thungsiruv yang memaparkan tentang anak manusia darat itu di hadapan Huji. Thungsiruv pula yang meminta agar Huji tidak gegabah, agar perkara ini tidak sampai ke telinga Raja, suaminya atau Perdana Menteri.
Permintaan itu murni datang sebagai keluarga. Jika kabar tentang manusia darat tersebut sampai ke pusat kekuasaan, Huji diharapkan mampu menjadi jembatan. Memberi pengertian pada Raja, meredam kepanikan seluruh bangsa Porkah yang telah lama hidup dalam bayang-bayang ancaman masa lalu.
Rumsun menggenggam tangannya sendiri. Kini kegelisahan itu terasa nyata. Harapannya tinggal satu, Olhuioruik.
Sementara itu, Yermi, kecerdasan penjaga ruang kerja Rumsun yang bernama Mergin, aktif. Tiga puluh tujuh detik setelah Olhuioruik memasuki ruang tunggu kantor Rumsun, suara Mergin bergema.
“Petugas Olhuioruik. Anda diminta oleh Wakil Ketua Rumsun untuk segera menuju ruang kerja Ketua Thungsiruv.”
Tanpa ragu, Olhuioruik bergerak. Tubuhnya melayang cepat meninggalkan ruang tunggu, melesat menyusuri lorong bercahaya menuju sayap seberang, tempat ruang Thungsiruv berada.
Sementara itu, Rumsun menatap kosong ke depan. Permainannya belum selesai.
“Selamat datang, Petugas Olhuioruik. Anda sudah ditunggu oleh Ratu, Ketua, dan Wakil Ketua. Silakan masuk.” Suara Yermi ruang kerja Thungsiruv bergema tenang. Begitu kalimat itu berakhir, dinding berwarna kuning keemasan di hadapan Olhuioruik bergetar pelan. Permukaannya bergerak seperti lapisan mutiara cair, lalu terbelah, menghadirkan gelombang air yang berputar rapi sebelum menyatu kembali menjadi ambang pintu.
Olhuioruik tidak membuang waktu. Dengan langkah terburu-buru, ia melayang masuk. Udara di dalam ruangan terasa padat, seolah tekanan laut ikut merayap ke dadanya, meski lantainya kokoh seperti daratan.
“Maaf, Baginda Ratu. Ketua. Wakil Ketua.” Ia membungkuk singkat, lalu langsung melapor begitu Huji mengisyaratkan untuk ia mendekat.
“Hamba ingin melaporkan adanya indikasi kuat bahwa Komandan Mynhemeni dan anak manusia darat itu berada di Distrik Anap.” Ia mengedipkan matanya. Seketika, layar hologram casvet memancar di udara. Data-data berlapis muncul, pola gelombang energi, jejak teleportasi, serta satu titik yang berdenyut samar. Nama Georu tertera jelas. Kemunculannya di Anap tercatat tak lama setelah teleportasi terakhir.
Thungsiruv bereaksi seketika. Matanya melebar, alisnya terangkat tajam. Tubuhnya sedikit tersentak sebelum kembali kaku.
“Mereka pasti berada di kediaman Ketua Distrik Anap, Juylastraz,” gumamnya pelan, namun cukup terdengar. Suaranya tegang, seolah potongan terakhir teka-teki baru saja jatuh ke tempatnya.
Ratu Huji menoleh cepat ke arahnya.
“Di kediaman Ketua Juylastraz?” tanyanya.
“Bukankah Ketua dan Wakil Ketua Distrik Anap sedang berada di Saturnus. Baginda Raja baru saja bercerita tentang keberangkatan mereka hari ini.” Keheningan menyelimuti ruangan sesaat. Arus cahaya di dinding berdenyut pelan, seperti napas laut yang tertahan.
Huji kemudian menegakkan bahunya.
“Baiklah. Terima kasih atas laporan ini. Kami akan mengambil alih sepenuhnya.” Suara Ratu Huji terdengar tenang, namun ketegasannya menutup ruang bantahan apa pun. Tatapannya mengunci Olhuioruik sesaat, lalu bergeser ke arah Thungsiruv. Perpindahan pandangan itu sederhana, tetapi sarat makna. Sebuah keputusan telah diambil.
Olhuioruik kembali membungkuk singkat. Namun kali ini ia tidak segera beranjak. Tidak ada perintah untuk keluar. Ia memilih tetap berdiri di tempat, tubuhnya tegap, kesadarannya siaga. Sebagai petugas, ia tahu kapan harus pergi. Sebagai saksi sejarah, ia tahu kapan harus diam dan menyimak.
“Aku akan mengakses Distrik Anap dan meminta pengamat distrik membuka seluruh akses,” ujar Ratu Huji. Suaranya tenang, tetapi mengandung perintah yang tak bisa ditawar.
“Termasuk ruang kediaman Ketua Distrik Anap.”
Ia menggerakkan kepalanya sedikit. Dari balik matanya, butiran casvet muncul, berkilau seperti serpihan cahaya laut yang terperangkap. Partikel itu melayang sesaat, lalu menghantam ruang di hadapan mereka. Hologram pun terbuka, menampilkan ruang kerja pribadi milik orang tua Saljiva.
Mynhemeni berdiri di sisi ruangan, sikapnya fokus dan terkendali. Saljiva berada tak jauh darinya, dikelilingi perangkat analisis yang memancarkan cahaya lembut. Sementara itu, Georu dan Cakra justru melesat turun dari atap ruangan, tubuh mereka melayang ringan bersama kursi-kursi yang ikut terbawa, seolah gravitasi hanya saran belaka di tempat itu.
“Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya Ratu Huji. Ia menegakkan tubuh dari sandaran sofa. Sofa itu ikut menyesuaikan, bergeser pelan mengikuti pergerakan sang Ratu agar tetap nyaman. Tatapannya tajam, penuh tanda tanya.
“Sepertinya Hemy sedang menganalisis anak itu,” jawab Thungsiruv mantap. Ia ikut sedikit condong ke depan, matanya tak lepas dari hologram. Ada keyakinan di sana, keyakinan yang dibangun dari bertahun-tahun mengenal Mynhemeni.
“Kalau begitu, segera kumpulkan pasukan ke ruang pertemuan utama,” seru Rumsun. Nada suaranya terlalu bersemangat untuk situasi seperti ini.
Ratu Huji dan Thungsiruv saling pandang. Kening mereka mengerut hampir bersamaan.
“Tunggu,” kata Thungsiruv.
“Untuk apa mengumpulkan pasukan? Bukankah kita hanya perlu menunggu hasil analisis Hemy?” Ia menoleh ke arah Rumsun, jelas menangkap kegelisahan di balik sikap impulsif itu. Seolah Wakil Ketua tersebut ingin bertindak sebelum alasan benar-benar terbentuk.
“Bagaimana kalau Hemy berniat membawa kabur anak itu lagi?” balas Rumsun. Suaranya terdengar ragu, tidak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya sendiri. Ia berhenti sejenak, memilih berhati-hati. Ada terlalu banyak hal yang ingin ia sampaikan, tetapi tidak di hadapan Thungsiruv.
Ratu Huji memiringkan kepala.
“Untuk apa dia membawa kabur lagi,” katanya perlahan, “kalau status anak itu sudah jelas?”
Ia kembali menatap hologram. “Jika anak itu memang ancaman, Hemy pasti akan menahannya. Memerangkapnya. Bukan membiarkannya bergerak bebas.”
Ia menoleh ke Thungsiruv. “Benar begitu, sepupu ipar?”
“Tentu,” jawab Thungsiruv tanpa ragu.
“Aku yakin Hemy sudah menyiapkan langkah lain jika anak itu berbahaya.” Ia mengangkat tangan sedikit, menunjuk ke arah hologram.
“Lihat mereka. Tidak ada tanda siaga tempur. Tidak ada kepanikan. Mereka tidak terlihat seperti sedang menghadapi ancaman.”
Keheningan singkat menyelimuti ruangan. Arus cahaya di dinding berdenyut pelan, seperti laut yang menahan ombaknya sendiri. Bagi Huji dan Thungsiruv, satu hal terasa pasti. Apa pun yang dilakukan Mynhemeni, itu bukan pengkhianatan.
Bagi Rumsun, justru itulah yang paling mengganggu.
“Tapi bagaimana kalau justru sebaliknya,” suara Olhuioruik memotong perdebatan yang mulai berputar di tempat. Nada suaranya tidak tinggi, namun cukup tajam untuk membuat ruangan mendadak sunyi.
“Bagaimana kalau anak itu sudah menguasai Komandan Mynhemeni dan semua orang di sana, Ketua? Bagaimana kalau Sanvar dan kesadaran mereka sudah diambil olehnya?” Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan tidak nyaman. Satu per satu kepala menoleh ke arahnya. Bahkan aliran cahaya di dinding ruangan seolah melambat, berdenyut pelan seperti arus laut yang tiba-tiba menahan napas.
Raut wajah Huji berubah. Dahinya mengerut, matanya menyipit. Olhuioruik seharusnya sudah meninggalkan ruangan sejak tadi. Pertanyaan itu jelas terbaca di wajahnya, meski tak satu kata pun terucap.
“Nah. Itu dia...” Keheningan itu pecah oleh Rumsun. Ucapnya cepat, seperti menemukan pijakan di tengah kekhawatirannya sendiri. Ia mencondongkan tubuhnya setengah langkah ke depan, bahunya menegang.
“Bagaimana kalau anak itu sama sekali tidak sedang dianalisis? Bagaimana kalau justru dia menyabotase ruangan itu untuk menghubungi koloninya?” Ia menoleh tajam ke arah hologram, seakan bisa menembus dinding dan melihat apa yang sesungguhnya terjadi di Distrik Anap.
“Kita semua terlalu fokus pada asumsi bahwa Mynhemeni memegang kendali,” lanjutnya.
“Padahal, bisa jadi kendali itu sudah berpindah tangan.”
“Kalau begitu, aku akan menghubungi Hemy,” ujar Thungsiruv. Tubuhnya hampir bangkit dari tempat duduknya.
“Jangan.” Suara Rumsun menyambar cepat. Tangannya terangkat refleks, berhenti di udara di antara mereka, cukup dekat untuk menghentikan gerak Thungsiruv tanpa menyentuhnya.
“Saat ini Hemy mudah dilacak karena ia tidak mengaktifkan mode penyamaran. Begitu kamu menghubunginya, Mynhemeni akan langsung tahu,” lanjutnya, lebih tenang namun penuh tekanan.
Ia menarik napas singkat.
“Dan saat itu terjadi, mereka akan menghilang dari radar kita... Lagi...” Thungsiruv membeku di tempat. Cahaya di dinding beriak pelan, seperti permukaan laut yang terganggu arus dalam. Tak ada yang buru-buru menyela. Pikiran mereka bergerak ke arah yang sama, membayangkan titik cahaya yang tiba-tiba padam, jejak yang kembali lenyap.
“Kita tidak boleh memberi mereka peringatan,” kata Rumsun akhirnya. Nadanya mengeras.
“Kita harus ke sana sekarang juga.”
Ia menatap satu per satu wajah di ruangan itu, memastikan setiap kata menancap.
“Kita sergap mereka dengan pasukan penuh.” Kali ini, usulannya terdengar terlalu masuk akal untuk ditolak.
Keraguan kembali menyebar, dingin dan senyap, seperti arus laut dalam yang perlahan menarik siapa pun yang berdiri terlalu lama di tepinya.
Other Stories
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Hold Me Closer
Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...