**BAB 1Yang Tinggal Di Rumah Nenek**
Sekar tiba di desa itu saat sore hampir habis. Matahari sudah turun setengah, meninggalkan cahaya kuning pucat yang menempel di dinding-dinding rumah. Mobil orang tuanya sudah lebih dulu menghilang di tikungan jalan utama, meninggalkan debu tipis dan keheningan yang perlahan kembali menutup desa.
Ia berdiri sendiri di depan pagar kayu rumah nenek. Pagar itu miring sedikit, sama seperti dulu. Pohon mangga di halaman tampak lebih besar, lebih tua, seolah ikut menua bersama waktu. Sekar meraih gagang pagar dan berhenti sejenak, dilanda perasaan aneh—bukan takut, melainkan seperti lupa membawa sesuatu yang penting, lalu baru menyadarinya saat semua sudah terlambat.
Liburan kali ini akan lama. Ibunya sempat berpesan agar Sekar betah, sementara ayahnya hanya mengangguk singkat, pikirannya sudah kembali ke pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Sekar mengangguk, menerima semuanya tanpa banyak tanya.
Pintu depan terbuka dengan bunyi berderit pelan. Bau kayu tua, minyak kayu putih, dan tanah lembap langsung menyambutnya. Bau yang dulu akrab, kini terasa asing. Sekar menarik napas dalam-dalam.
“Nek?” panggilnya.
Nenek muncul dari arah dapur. Tubuhnya lebih kecil dari yang Sekar ingat, punggungnya sedikit membungkuk, tapi sorot matanya masih sama—tenang dan tajam, seperti orang yang terbiasa melihat hal-hal yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
“Kamu akhirnya pulang,” kata nenek, seolah Sekar baru pergi sebentar, bukan bertahun-tahun.
Sekar tersenyum dan memeluk neneknya. Tubuh itu hangat, nyata. Namun entah kenapa, dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang ikut berdiri di antara mereka, sesuatu yang tidak ikut dipeluk.
Malam pertama berjalan biasa. Sekar tidur di kamar depan, kamar yang selalu ia pakai setiap kali liburan sekolah. Seprai baru, jendela dibuka sedikit, dan suara jangkrik mengalir masuk. Ia berbaring menatap langit-langit, memperhatikan bayangan balok kayu yang membentuk pola-pola asing.
Sekar hampir terlelap ketika mendengar suara langkah.
Pelan. Ringan. Seperti kaki kecil menyentuh lantai.
Ia membuka mata. Langit-langit tetap gelap. Suara itu berhenti tepat di depan kamarnya. Sekar menahan napas, menunggu. Beberapa detik berlalu, lalu terdengar suara kain bergesek, seperti seseorang berdiri terlalu dekat dengan pintu.
“Sekar…”
Namanya dipanggil pelan. Bukan suara nenek. Terlalu tipis. Terlalu dekat.
Sekar bangkit duduk. “Nek?” panggilnya balik.
Tidak ada jawaban. Hanya suara malam yang kembali menutup rumah.
Ia tidak keluar kamar. Ia tidak membuka pintu. Sekar memilih berbaring kembali, memejamkan mata, meyakinkan dirinya bahwa suara-suara tadi hanyalah sisa kelelahan perjalanan panjang.
Pagi datang dengan cahaya lembut. Kepala Sekar terasa berat saat bangun. Ia berjalan ke dapur melewati lorong sempit di samping rumah—lorong yang jarang ia lewati sejak kecil. Lorong itu membawa ke bagian rumah yang terasa lebih dingin, lebih sunyi.
Ada satu pintu di sana. Pintu kayu tua dengan gembok berkarat.
Sekar berhenti. Dadanya berdesir aneh. Ia merasa pernah berdiri di tempat yang sama, dengan tubuh yang jauh lebih kecil dan napas yang lebih cepat. Ingatan itu muncul sekilas, lalu menghilang sebelum sempat ia tangkap.
“Kamar itu…” gumam Sekar.
Nenek yang sedang menyeduh air panas menoleh cepat. “Jangan ke situ,” katanya singkat.
“Kenapa dikunci?” tanya Sekar.
Nenek terdiam sejenak, lalu kembali menatap cangkir di tangannya. “Kamar lama. Isinya barang-barang nggak terpakai.”
Sekar mengangguk, tapi perasaannya tidak ikut tenang. Ia yakin kamar itu bukan sekadar tempat penyimpanan. Ada sesuatu di sana—atau seseorang—yang sengaja ditinggalkan.
Siang hari, Sekar duduk di teras, memperhatikan halaman. Dari kejauhan, ia melihat rumah buliknya di balik pepohonan. Dekat, tapi tidak benar-benar menyatu. Sekar teringat masa kecilnya, tentang hari-hari ketika ia lebih sering berada di rumah nenek daripada di rumah sendiri.
Kenangan itu datang samar: bermain tanah, tertawa kecil, digendong seseorang yang bukan neneknya. Wajahnya tidak jelas. Hanya perasaan hangat di punggung dan suara perempuan yang sering memanggil namanya dengan nada lembut, seolah Sekar adalah satu-satunya hal penting di dunia.
Malam kedua, mimpi datang.
Sekar berdiri di lorong samping rumah. Pintu kamar itu terbuka. Dari dalam, cahaya redup menyala. Seorang perempuan duduk di lantai. Rambutnya panjang terurai, wajahnya pucat namun cantik. Tubuhnya kurus, seperti orang yang lama menahan sakit.
Perempuan itu menoleh.
“Kamu sudah besar,” katanya.
Sekar ingin bertanya siapa dia, tapi suaranya tidak keluar.
Perempuan itu tersenyum. Senyumnya tidak marah, tidak menakutkan—hanya sedih.
“Aku di sini,” katanya pelan. “Dari dulu.”
Sekar terbangun dengan dada berdebar. Keringat dingin membasahi lehernya. Dari lorong, terdengar suara langkah lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih dekat.
Sekar bangkit perlahan dan membuka pintu kamarnya sedikit. Lorong kosong. Namun di depan pintu kamar yang terkunci, ia melihat sesuatu yang membuat tubuhnya kaku.
Gembok itu bergoyang pelan.
Seolah baru saja disentuh.
Other Stories
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Arti Yang Tak Pernah Usai
Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...