The Last Escape

Reads
192
Votes
24
Parts
24
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 16 | "Pengorbanan Sang Penguasa Pulau"

Lantai ruang bawah tanah mercusuar itu tidak pernah benar-benar kering. Air laut merembes melalui celah-celah fondasi tua, menciptakan genangan yang berbau karat dan garam yang membusuk. Di sini, di bawah tekanan jutaan ton beton dan karang, Adit dan Rico berdiri di antara barisan tangki minyak raksasa yang sudah berkarat. Suara tetesan air yang jatuh ke lantai beton terdengar seperti lonceng kematian yang dipalu dengan ritme yang lambat.


Bab 16: Pengorbanan Sang Penguasa Pulau


"Bau bensinnya kuat banget, Dit," bisik Rico. Ia memegang jerigen di tangannya dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Satu percikan kecil aja, tempat ini bakal jadi panggangan raksasa."

Adit mengangguk pelan, matanya menyisir setiap sudut ruangan menggunakan cahaya senter yang mulai meredup. "Itu tujuannya, Rico. Kita harus pastiin saluran udaranya terbuka sebelum kita siram ini semua. Kalau nggak ada oksigen, ledakannya nggak bakal kuat buat ngeruntuhin pelosok gua di bawah."

Pak Bakri berdiri di dekat pintu besi yang menghubungkan ruang bawah tanah dengan lorong gua. Wajahnya yang keriput tampak semakin dalam di bawah bayang-bayang. Ia tidak membawa jerigen, hanya senapan tuanya yang disandarkan di bahu. "Kalian punya waktu kurang dari satu jam. Matahari akan mulai naik, dan saat itu terjadi, makhluk-makhluk itu akan masuk ke dalam tanah melalui lubang ventilasi ini. Jika kalian belum meledakkannya saat itu juga, mereka akan langsung menangkap kalian di dalam sini.

"Bapak mau ke mana?" tanya Adit saat melihat Pak Bakri mulai berjalan mundur ke arah lorong gelap yang menuju ke arah pantai.

Pak Bakri berhenti sejenak. "Aku sudah bilang, aku bukan bagian dari rencana pelarian kalian. Aku harus memastikan teman-temanmu yang lain sampai di perahu. Ada satu jalur yang hanya diketahui oleh mereka yang sudah tinggal di sini selama lima puluh tahun. Pergi sekarang, lakukan tugas kalian."

Dengan langkah yang berat, pria tua itu menghilang ke dalam kegelapan lorong, meninggalkan Adit dan Rico dalam kesunyian yang mencekam.

Kilas Balik: Rahasia di Balik Persahabatan Adit dan Rico

Banyak yang mengira Adit dan Rico adalah sahabat sejati karena mereka selalu terlihat bersama di kelab malam paling mewah atau di sirkuit balap mobil. Namun, kenyataannya jauh lebih rumit. Ayah Rico, sang politisi, seringkali menggunakan pengaruhnya untuk melancarkan proyek-proyek properti ayah Adit. Persahabatan mereka awalnya adalah sebuah kontrak bisnis yang tidak tertulis.

Rico selalu merasa di bawah bayang-bayang Adit yang lebih karismatik dan cerdas. Itulah sebabnya ia selalu berusaha terlihat lebih mewah, lebih berani, dan lebih dominan, sebuah kompensasi atas rasa minder yang mendalam. Namun, di tempat gelap ini, di mana tidak ada kamera media sosial atau pengaruh orang tua, topeng itu luruh. Rico yang asli hanyalah seorang pemuda yang sangat mencintai pacarnya dan takut akan kesepian.

"Dit," panggil Rico memecah keheningan. Ia mulai menuangkan bensin ke lantai, menciptakan aliran cairan bening yang berbau menyengat. "Kalau... kalau kita nggak berhasil keluar, gue minta satu hal."

Adit berhenti menuangkan jerigennya. "Lu bakal keluar, Rico. Jangan mulai."

"Dengerin dulu," potong Rico, suaranya sangat dewasa, tanpa nada sombong yang biasanya ada. "Kasih tahu Santi, kalau gue bener-bener minta maaf soal kejadian di gua tadi. Gue mau dia inget gue bukan sebagai pengecut yang lari dari kenyataan, tapi sebagai orang yang jagain jalan dia buat pulang dengan selamat."

Adit menatap Rico dalam-dalam. "Gue bakal sampein sendiri ke dia, bareng lu di perahu nanti. Sekarang fokus."

Tiba-tiba, suara gesekan yang sangat halus terdengar dari atas tangki minyak nomor empat. Itu bukan suara tetesan air. Itu adalah suara kulit yang mengelupas yang bergesekan dengan besi berkarat.

Adit dan Rico seketika membeku. Mereka mematikan senter secara bersamaan, sebuah insting yang sudah mereka pelajari dari jam-jam penuh teror sebelumnya. Dalam kegelapan total, indra pendengaran mereka menjadi sangat tajam.

Sreeek... sreeek...

Makhluk itu ada di sana. 'Pangeran' yang terbakar. Ia tidak mengikuti rombongan besar ke pantai karena dendamnya pada Adit jauh lebih besar daripada rasa laparnya. Dari kegelapan, tercium bau daging hangus yang sangat khas, sisa dari serangan Bimo.

"Dia di sini," bisik Adit, hampir tak terdengar.

Tiba-tiba, sebuah geraman parau yang terdengar seperti suara manusia yang tercekik bergema di ruangan itu. Makhluk itu sengaja mengeluarkan suara untuk memancing rasa takut mereka. Predator ini sangat cerdas, ia tahu bahwa rasa takut membuat jantung berdetak lebih kencang, dan getaran jantung itu adalah radar baginya.

"Ric, pelan-pelan geser ke arah pintu ventilasi," perintah Adit melalui bisikan.

Namun, sebelum Rico sempat bergerak, sebuah hantaman keras mengenai tangki di sampingnya. Makhluk itu melompat dengan kecepatan yang mengerikan. Meskipun kulitnya sudah rusak dan sebagian dagingnya terlihat merah karena luka bakar, gerakannya tetap lincah.

Adit menyalakan kembali senternya tepat ke arah suara.

Di sana, di atas tangki, makhluk itu berdiri. Bentuknya lebih ramping dari yang mereka temui sebelumnya, tapi matanya lebih merah menyala. Sebagian wajahnya hilang akibat api, memperlihatkan deretan gigi jarum yang kini tidak lagi tertutup bibir. Ia mendesis, cairan hitam menetes dari mulutnya ke lantai yang sudah basah oleh bensin.

"BAJINGAN!" Rico berteriak, ia melempar jerigennya yang sudah kosong ke arah makhluk itu.

Makhluk itu menangkis jerigen tersebut dengan cakar panjangnya hingga pecah berkeping-keping. Dengan satu lompatan besar, ia menerjang ke arah Adit.

Adit berguling ke samping, menghindari kuku-kuku tajam yang menghantam lantai beton hingga retak. Ia mencabut pisau komandonya, pisau mahal yang awalnya hanya ia bawa untuk gaya-gayaan saat camping.

"Nyalain pemantiknya sekarang! Gue bakal tahan dia!" teriak Adit.

"Gila lu?! Lu masih di dalem Dit!"

"LAKUIN AJA! CEPAT!"

Rico berlari ke arah sudut ruangan di mana terdapat tuas pemantik gas kuno. Namun, si 'Pangeran' menyadari niat Rico. Ia memutar tubuhnya dengan sangat cepat, ekornya yang panjang menyabet kaki Rico hingga pemuda itu terjatuh keras.

"AGHHH!" Rico meringis, memegangi pergelangan kakinya yang kemungkinan besar patah.

Makhluk itu mendekati Rico perlahan, seolah ingin menikmati momen sebelum menghabisi korbannya. Ia tahu Rico adalah mangsa yang lemah. Namun, Adit tidak tinggal diam. Ia berlari dan melompat ke punggung makhluk itu, menghujamkan pisau komandonya ke bagian leher yang tidak terlindungi oleh kulit keras.

Darah biru kehitaman yang panas menyemprot wajah Adit. Makhluk itu menjerit melengking, sebuah suara yang sanggup memecahkan gendang telinga. Ia meronta-ronta, membenturkan punggungnya ke dinding beton untuk melepaskan Adit.

BRAK!

Adit terlempar, napasnya seolah berhenti saat dadanya menghantam pinggiran tangki besi. Ia terjatuh ke lantai yang kini sudah banjir oleh campuran bensin dan air laut.

Makhluk itu berbalik, mengabaikan Rico, dan kini sepenuhnya fokus pada Adit. Ia merayap rendah di lantai, lidahnya yang bercabang menjilat udara, merasakan aroma adrenalin dan darah Adit yang segar.

Di sudut lain, Rico berusaha merangkak menuju tuas pemantik. Setiap inci gerakannya terasa seperti siksaan. Ia melihat Adit yang mencoba bangkit namun terus terjatuh karena licinnya lantai.

"Dit... pisau lu..." Rico berbisik pelan.

Adit melihat pisaunya yang tergeletak beberapa meter di depannya. Tapi makhluk itu lebih dekat.
Tiba-tiba, sebuah suara ledakan kecil terdengar dari arah pintu ventilasi di langit-langit. Pak Bakri ternyata tidak benar-benar pergi. Ia berdiri di atas sana, di luar gedung, menatap ke bawah melalui lubang udara.

"SEKARANG, ANAK MUDA!" teriak Pak Bakri. Ia menjatuhkan sebuah obor yang menyala ke bawah.

Waktu seolah melambat. Adit melihat obor itu jatuh dari langit-langit, berputar-putar di udara seperti bintang jatuh yang membawa kehancuran. Makhluk itu juga mendongak, matanya yang sensitif terhadap cahaya mendadak buta sesaat.

"LARI, DIT! LARI!" teriak Rico.

Adit menggunakan seluruh sisa energinya untuk menerjang Rico, merangkul pundak sahabatnya itu, dan menyeretnya ke arah lorong keluar yang sedikit lebih tinggi dari permukaan lantai.
Obor itu mendarat di genangan bensin tepat di bawah kaki sang predator.

BOOOM!

Ledakan pertama tidak terlalu besar, namun cukup untuk menciptakan gelombang api yang langsung melalap seluruh lantai ruang bawah tanah. Makhluk itu terbakar sekali lagi, kali ini dalam skala yang jauh lebih besar. Jeritannya tidak lagi terdengar seperti hewan, itu adalah jeritan penderitaan yang sangat murni.

Adit dan Rico terlempar ke dalam lorong oleh kekuatan tekanan udara. Mereka terus merangkak di dalam kegelapan lorong saat ledakan-ledakan berikutnya mulai terjadi di belakang mereka. Tangki minyak raksasa mulai meledak satu per satu.

Guncangan hebat melanda seluruh mercusuar. Tanah di sekitar mereka mulai retak.
"Jangan berhenti, Ric! Terus merangkak!" Adit berteriak di tengah suara gemuruh beton yang runtuh.

Mereka bisa merasakan panas yang mengejar dari belakang. Namun, di ujung lorong, mereka mulai melihat semburat warna oranye di langit. Fajar hampir tiba.

Saat mereka berhasil keluar dari mulut lorong di tebing pantai, mereka menoleh ke belakang. Mercusuar tua itu perlahan-lahan miring, lalu ambruk ke dalam tanah, seolah-olah pulau itu sendiri yang menelannya. Debu dan asap membubung tinggi, menutupi sinar matahari yang baru saja muncul.

Di bawah sana, sistem gua yang menjadi rumah bagi ratusan predator itu runtuh total. Suara gemuruhnya terdengar hingga ke seluruh penjuru pulau, menandakan berakhirnya sebuah kerajaan kegelapan yang sudah ada selama berabad-abad.

Adit dan Rico terbaring di atas pasir pantai yang dingin, terengah-engah, tubuh mereka dipenuhi luka bakar dan jelaga. Mereka masih hidup. Tapi saat mereka melihat ke arah dermaga kecil tempat perahu seharusnya berada, mereka melihat sesuatu yang membuat hati mereka menciut.

Perahu itu sudah berada sekitar lima puluh meter dari bibir pantai. Teman-temannya yang lain ada di sana. Namun, di permukaan air yang tenang di sekitar perahu, sirip-sirip hitam mulai bermunculan. Predator itu, seperti kata Pak Bakri, jauh lebih cepat di air.

Dan di bibir pantai, Pak Bakri berdiri membelakangi mereka, menatap ke arah laut. Ia memegang sebuah peluit tulang tua di tangannya.
"Kalian pikir ledakan itu akhir dari semuanya?" ucap Pak Bakri tanpa menoleh. "Itu hanyalah cara untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa kembali ke sini. Tapi untuk yang sudah berada di air... peraturannya berbeda."

Adit bangkit dengan susah payah. "Apa yang Bapak lakuin? Bapak bilang perahu itu aman!"
"Perahu itu aman jika ada 'persembahan' yang tetap tinggal di pantai," jawab Pak Bakri. Ia memutar tubuhnya, dan Adit melihat bahwa tangan Pak Bakri sudah penuh dengan luka sayatan yang sengaja ia buat sendiri. "Mereka mencium darahku. Mereka akan datang ke sini, ke orang yang sudah mengasuh mereka selama puluhan tahun. Sekarang, lari ke arah perahu. Berenanglah secepat yang kalian bisa selagi mereka fokus padaku."

Pak Bakri meniup peluit tulangnya. Suaranya sangat melengking, frekuensi yang aneh yang membuat permukaan air laut bergetar. Sirip-sirip hitam di sekitar perahu mendadak berputar arah, menuju ke arah pantai, menuju ke arah Pak Bakri.
"LARI!" bentak Pak Bakri pada Adit dan Rico.

Rico, dengan kaki yang patah, merangkul leher Adit. "Dit... ayo. Kita nggak bisa sia-siain ini."

Adit menatap Pak Bakri untuk terakhir kalinya. Ada sebuah pesan tersirat di mata pria tua itu, sebuah keinginan untuk akhirnya bebas dari tugas terkutuknya sebagai penjaga monster. Adit mengangguk, lalu membawa Rico masuk ke dalam air, berenang dengan satu tangan menuju perahu yang sedang menunggu mereka.

Di belakang mereka, di bawah sinar matahari pagi yang cerah, puluhan makhluk hitam mulai merangkak keluar dari ombak, mengepung Pak Bakri yang berdiri tegak dengan senyum di wajahnya, siap untuk menyatu kembali dengan pulau yang telah mencuri seluruh hidupnya.

•••

Other Stories
Sayonara ( Halusinada )

Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...

FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Download Titik & Koma