Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Reads
110
Votes
28
Parts
14
Vote
Report
Perjalanan terakhir bersama bapak
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Penulis Sveetnona

10 Tahun Lalu.

Lampu lorong berkedip sesekali. Udara terasa sangat berat, membawa aroma obat-obatan dan pembersih lantai yang menusuk indra penciuman.

Seorang lelaki berumur sekitar 40 tahun duduk sendirian. Ia menatap lurus ke depan, dengan rasa gelisah yang merambat. Rasanya seperti ditarik mundur ke kejadian sepuluh tahun lalu.

Sepuluh tahun yang lalu di lorong yang serupa, ia harus menerima kenyataan pahit. Ia ingat bagaimana langkah kakinya mondar-mandir di atas ubin putih ini saat istrinya baru saja dibawa masuk ke ruang persalinan. Tempat ini yang menjadi saksi bisu saat wanita yang paling dicintainya menyerah kalah saat berjuang melahirkan anak kedua mereka.

Lamunannya buyar oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Lelaki itu sedikit terkejut saat mendongak dan melihat anak sulungnya sudah berdiri di sana dengan nafas memburu dan wajah bersimbah peluh.

“Gimana Ale, Pak?” tanyanya terengah-engah.

Remaja itu langsung berlari dari rumah bagitu menerima pesan dari lelaki yang dia panggil “Bapak”. Meski jarak rumah ke puskesmas tidak terlalu jauh, namun jika berlari akan sangat terasa melelahkan.

“Masih diperiksa, Bang,” jawab Bapak pelan.

Tadi, Pak RT menghubungi Bapak setelah melihat si bungsu jatuh saat bermain dengan anak-anak komplek sebelah. Kabar itu membuat Khalil sedikit emosi.

“Udah berapa kali Khalil bilang, jangan boleh main sama anak komplek sebelah,” protes Khalil.

“Namanya juga anak kecil, Bang. Pengen punya banyak teman,” sahut bapak lirih, berusaha menenangkan hati anak sulungnya.

Khalil berdecak tidak terima. “Buat apa banyak temen tapi tukang bully semua.”

Alih-alih mendekat, Khalil memilih duduk di kursi yang jauh dari Bapak dan keheningan kembali merayap.

Tak lama, pintu ruang di mana Ale di periksa terbuka. Bapak segera berdiri menghampiri dokter tersebut dan dipersilakan untuk masuk. Khalil hanya melirik sebentar, lalu kembali menaruh perhatiannya ke ponsel yang sedari tadi dia mainkan.

Setelah dua puluh menit, Bapak keluar bersama Ale yang mengekor dibelakangnya. Bocah itu berjalan dengan kaki kanan melangkah pincang dan muka yang terlihat menahan sakit.

Khalil dengan cepat berdiri menghampiri Bapak dan langsung menanyakan keadaan adiknya.

“Kata dokter Ale cuma shock,” jawab Bapak tenang sambil terus berjalan menuju loket penebusan obat. “Lukanya juga sudah dibersihkan dan diobati. Syukurlah, nggak ada yang serius.”

Mendengar penjelasan Bapak, rasa cemas Khalil mereda. Dengan cepat ia memasang kembali wajah ketusnya.

“Gitu aja minta dibawa ke puskesmas,” ucap Khalil sambil melirik ke arah Ale.

Ale yang merasa diejek hanya mendengus kesal sambil melirik Bapak sesekali.

Melihat tingkah kedua putranya, Bapak hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Bapak tahu Khalil memang keras kepala dan bicaranya sering kali tajam, tapi dibalik ketusnya, ada rasa peduli yang besar. Dia hanya tidak tahu bagaimana cara yang benar untuk menyampaikannya.



Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Filosofi Sampah (catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Download Titik & Koma