Bab 4: Tiruan
Sunyi malam itu terasa menekan lebih berat daripada biasanya. Di langit-langit, bayangan mulai bergerak, meniru setiap gerakan Maren. Tidak sempurna, tetapi cukup untuk membuat tubuhnya merinding. Napasnya terdengar di telinga sendiri, lalu terdengar lagi, samar tapi sangat mirip. Salah irama, salah nada. Ritme yang salah itu membuat seluruh tubuhnya tegang, seolah ada ribuan mata menatap setiap gerakan dari atas plafon.
Maren menundukkan kepala, menutupi wajahnya dengan tangan, mencoba menenangkan diri. Tapi begitu menatap lagi, makhluk itu semakin mendekat ke arah retakan, menyalin setiap gerakan kecil Maren. Kedipan matanya, tarikan napas, cara bahu menegang. Sensasi aneh merayap ke seluruh tubuhnya, campuran antara takut, penasaran, dan sadar bahwa sesuatu sedang mengamati dengan ketelitian menakutkan.
Tubuhnya gemetar. Ia ingin berteriak, tapi suara tercekat di tenggorokan. Paru-parunya penuh udara yang tidak bisa dilepas, dadanya seperti tertindih benda berat. Setiap detik terasa panjang, setiap desahan terdengar membesar, bergema di telinganya sendiri. Makhluk itu bukan hanya menunggu. Ia belajar, menilai, memperkirakan setiap reaksi Maren.
Maren mencoba merunduk di tepi tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi bahunya. Tapi pandangannya tidak bisa lepas dari retakan yang perlahan melebar, seperti mulut gelap yang siap menelan. Bayangan di plafon mulai menekuk ke arah Maren. Serbuk putih jatuh menimpa wajahnya, bau debu bercampur aroma cat baru menyeruak ke hidungnya, memicu rasa mual dan ketegangan yang makin menekan.
Ia merasakan denyut adrenalin yang naik drastis. Setiap gerakannya dipantau, setiap langkah dicatat. Sekecil apapun gerakan salah, makhluk itu bisa merespons. Tubuhnya menegang, jantung berdegup cepat, tangan dan kaki dingin meski seluruh tubuh berkeringat. Ketakutan itu berbeda dari sebelumnya, bukan ketakutan biasa, tetapi ketakutan yang melekat pada kesadaran penuh bahwa sesuatu ingin mengambil alih ruang hidupnya.
Makhluk itu mulai mencondongkan bentuknya, meniru sikap Maren saat duduk. Bayangan kaki tipis dan panjang bergerak selaras dengan tarikan napasnya sendiri. Maren menutup mata sejenak, menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikiran, tapi suara napas yang salah itu menembus kesunyian kamar, menembus kesadarannya, membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia bukan sekadar menunggu, tetapi sedang bersiap, memperhitungkan setiap momen agar dapat turun dan meniru dirinya sepenuhnya.
Dalam gelap, Maren membayangkan makhluk itu keluar dari retakan, berdiri tepat di depannya, menatapnya dengan mata pucat yang meniru ekspresinya. Ia ingin berlari, tapi tubuhnya kaku, kaki terasa tertahan tanah, pikirannya berputar antara ketakutan dan kebutuhan untuk bertahan.
Setiap detik malam itu terasa abadi. Setiap gerakan makhluk di atas plafon mengikuti gerakan Maren dengan presisi yang menakutkan. Ia tahu, sekali makhluk itu turun, ia tidak akan bisa melawannya dengan cara biasa. Ia menelan ludah, menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan ketegangan, meski tubuhnya masih gemetar.
Malam itu, Maren menyadari bahwa makhluk itu tidak hanya meniru, tapi belajar, menilai, menunggu waktu yang tepat untuk menggantikan dirinya. Ketika fajar tiba, ia tahu, dirinya mungkin tidak akan sama lagi.
Maren menundukkan kepala, menutupi wajahnya dengan tangan, mencoba menenangkan diri. Tapi begitu menatap lagi, makhluk itu semakin mendekat ke arah retakan, menyalin setiap gerakan kecil Maren. Kedipan matanya, tarikan napas, cara bahu menegang. Sensasi aneh merayap ke seluruh tubuhnya, campuran antara takut, penasaran, dan sadar bahwa sesuatu sedang mengamati dengan ketelitian menakutkan.
Tubuhnya gemetar. Ia ingin berteriak, tapi suara tercekat di tenggorokan. Paru-parunya penuh udara yang tidak bisa dilepas, dadanya seperti tertindih benda berat. Setiap detik terasa panjang, setiap desahan terdengar membesar, bergema di telinganya sendiri. Makhluk itu bukan hanya menunggu. Ia belajar, menilai, memperkirakan setiap reaksi Maren.
Maren mencoba merunduk di tepi tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi bahunya. Tapi pandangannya tidak bisa lepas dari retakan yang perlahan melebar, seperti mulut gelap yang siap menelan. Bayangan di plafon mulai menekuk ke arah Maren. Serbuk putih jatuh menimpa wajahnya, bau debu bercampur aroma cat baru menyeruak ke hidungnya, memicu rasa mual dan ketegangan yang makin menekan.
Ia merasakan denyut adrenalin yang naik drastis. Setiap gerakannya dipantau, setiap langkah dicatat. Sekecil apapun gerakan salah, makhluk itu bisa merespons. Tubuhnya menegang, jantung berdegup cepat, tangan dan kaki dingin meski seluruh tubuh berkeringat. Ketakutan itu berbeda dari sebelumnya, bukan ketakutan biasa, tetapi ketakutan yang melekat pada kesadaran penuh bahwa sesuatu ingin mengambil alih ruang hidupnya.
Makhluk itu mulai mencondongkan bentuknya, meniru sikap Maren saat duduk. Bayangan kaki tipis dan panjang bergerak selaras dengan tarikan napasnya sendiri. Maren menutup mata sejenak, menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikiran, tapi suara napas yang salah itu menembus kesunyian kamar, menembus kesadarannya, membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia bukan sekadar menunggu, tetapi sedang bersiap, memperhitungkan setiap momen agar dapat turun dan meniru dirinya sepenuhnya.
Dalam gelap, Maren membayangkan makhluk itu keluar dari retakan, berdiri tepat di depannya, menatapnya dengan mata pucat yang meniru ekspresinya. Ia ingin berlari, tapi tubuhnya kaku, kaki terasa tertahan tanah, pikirannya berputar antara ketakutan dan kebutuhan untuk bertahan.
Setiap detik malam itu terasa abadi. Setiap gerakan makhluk di atas plafon mengikuti gerakan Maren dengan presisi yang menakutkan. Ia tahu, sekali makhluk itu turun, ia tidak akan bisa melawannya dengan cara biasa. Ia menelan ludah, menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan ketegangan, meski tubuhnya masih gemetar.
Malam itu, Maren menyadari bahwa makhluk itu tidak hanya meniru, tapi belajar, menilai, menunggu waktu yang tepat untuk menggantikan dirinya. Ketika fajar tiba, ia tahu, dirinya mungkin tidak akan sama lagi.
Other Stories
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Hantu Dan Hati
Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...