Prolog
Permainan ini terlalu menyenangkan bagi saya. Saya menikmati apa yang ditampilkan oleh layar televisi itu. Di sana seorang pemuda tampil berlarian menghindari serangan hewan yang telah dimutasi, membentuk individu baru yang lebih mengerikan. Bahkan seekor burung kecil pun tak bisa diabaikan begitu saja, sebab bisa saja burung itu mencabik-cabik tubuh manusia hanya dengan paruh kecilnya.
Saat pintu berderit, saya tak menghiraukannya. Mungkin itu Carmen, pelayan pribadi saya, atau mungkin Deborah, cucu saya yang baru berusia empat tahun. Yang jelas, saya sedang tidak ingin berpaling dari tontonan saya. Pemuda di televisi tampak kepayahan karena trek yang terjal dan saya tertawa karena cukup terhibur melihat raut ketakutan di wajah pemuda itu.
“Anda menonton acara itu lagi,” kata Carmen. Saya meliriknya sekilas, dia sedang mengelap meja di samping kursi goyang saya sebelum menaruh secangkir teh panas beraroma wangi bunga. “Saya tidak tahu kenapa Anda begitu menyukainya.”
Carmen, dengan tubuh kurus pendeknya, berjalan dengan cekatan mengelilingi kamar saya untuk menata barang-barang yang berantakan. Saya kembali menatap televisi sambil menyandarkan punggung, lalu sedikit menggerakkan tubuh agar kursi saya bergoyang pelan.
“Bukankah itu menyenangkan?” tanya saya.
Saya mendengar suara Carmen yang mendengkus di belakang sana. Namun, saya abaikan itu dan terus fokus dengan tontonan saya, seolah-olah saya juga sedang berada dalam petualangan berbahaya itu.
“Nyonya, apa lagi yang Anda butuhkan untuk dibawa ke Port Moresby besok? Saya akan menyiapkannya.”
Mendengar perkataan Carmen yang itu, barulah saya benar-benar memalingkan muka dari televisi. Gigi saya bergemeletuk, kebiasaan saya ketika berpikir, lalu bergumam. “Sepertinya saya bisa mengurus sisanya.” Saya tersenyum pada Carmen yang wajahnya selalu datar-datar saja. “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Nak. Aku membawamu kemari bukan untuk mengerjakan banyak hal.”
Carmen terdiam sejenak, lalu menggeleng. “Saya melakukan ini sebagai ucapan terima kasih kepada Anda, Nyonya Ruth.”
Senyum saya makin mengembang karena senang dengan perilaku santunnya. “Kalau begitu, tugasmu sekarang adalah menemani saya menonton itu.” Saya mengedikkan dagu ke arah televisi dan Carmen menurut begitu saja, meski sekilas saya mampu melihat rautnya yang berubah jengkel. Saya menahan tawa dalam hati karenanya.
“Awalnya saya kira Anda menyukai acara itu karena acara tersebut diciptakan oleh kerabat Anda—dan Anda mendukungnya. Namun, lebih dari itu, ternyata Anda sangat tertarik hingga tak pernah melewatkannya.”
Saya tertawa, benar-benar tertawa dengan kencang. “Memangnya bagaimana pendapatmu tentang acara itu?”
“Biasa saja,” katanya terang-terangan. “Petualangan, pertarungan, dan pertaruhan yang begitu-begitu saja.”
Saya kemudian memicing sambil menatap Carmen. “Nak, bukankah memang begitulah hidup ini terjadi?”
“Maksud Anda?” Carmen mengangkat alisnya.
“Yah, kita juga selalu mengalami pengulangan dalam menjalani hidup. Senang, sedih, berjuang, gagal atau berhasil—yang tergantung dengan usaha dan nasib—lalu semua itu terulang lagi dengan permasalahan yang berbeda. Terus dan terus terulang. Bukankah begitu?” Saya menegakkan punggung dan meminta Carmen mengambilkan cangkir teh saya. Ah, bahkan di masa tua ini saya juga masih melakukan perjuangan. Lebih-lebih berjuang untuk menikmati hidup, meski tubuh saya kian sulit diajak kompromi.
Setelah menyesap teh tawar yang sudah tak terlalu panas itu, saya kembali melanjutkan, “Yang lebih saya sukai dari acara itu adalah para pemuda yang berani melakukan petualangan antara hidup dan mati. Tentu tak semua orang mampu melakukannya.”
Saya menatap Carmen yang kesulitan mencerna ucapan saya. Perempuan itu saya temukan di wilayah Gilarang, sebuah hutan pegunungan dengan trek cukup berbahaya yang cukup terkenal di Melbourne sini. Saya menemukannya sebatang kara tanpa keluarga pada tahun 2003—sekitar 20 tahun lalu. Tanpa dia sadari, kehidupannya sebelum ini telah melalui perjuangan antara hidup dan mati. Kemudian saya membawanya, memberinya nama Carmen, dan menawarkan sebuah pekerjaan sebagai solusi agar dia bisa bertahan hidup di dunia yang kejam ini.
“Kau tahu, Nak? Permainan itu mengingatkan saya kepada seorang anak perempuan yang menghabiskan hidupnya di dalam hutan yang berbahaya.”
Mata Carmen mengerjap. “Siapa anak perempuan itu?”
Saya tersenyum sambil menatap cangkir yang masih saya pegang, lalu menghirup aroma bunga yang menguar dari uapnya yang makin menipis. “Aru. Nama anak perempuan itu adalah Aru.”
Dahi Carmen mengernyit. “Aru?” ulangnya.
“Kau akan tahu siapa Aru setelah saya kembali dari Port Moresby nanti,” ujar saya yang membuat raut Carmen makin menyiratkan penasaran.
Saya menyodorkan cangkir teh saya kepada Carmen, menyuruhnya untuk kembali menaruhnya ke meja dan memintanya untuk meninggalkan saya sendiri, lalu saya kembali merebahkan diri di kursi goyang saat pikiran saya berkelana. “Aru.” Saya menggumamkan nama itu sekali lagi, lalu tersenyum kecil.
Saat Carmen telah menutup pintu kamar, saya menoleh ke arah jendela yang menampilkan langit sore Melbourne yang terasa hangat dengan awan seperti bola-bola kapas yang bergantungan.
“Tampaknya sudah lama sekali, ya, Aru?” ujar saya sebelum melirik sebuah undangan di atas meja bertuliskan acara televisi yang saya tonton barusan.
Saya beranjak dari kursi goyang saya, lalu berjalan tertatih-tatih sebab dua hal: pengaruh usia dan kaki kiri saya yang memang sudah pincang sejak muda dulu. Saya dekati meja itu dan mengambil undangan di sana. Tertulis, Ruth Brown sebagai bintang tamu dalam penayangan dokumenter pertama acara ‘Into the Wild’. Dan saya akan mengenalkan siapa itu sosok Aru—anak perempuan yang saya anggap sangat berjasa dalam hidup saya—dalam sesi wawancara.
“Ruth Brown?” Anak perempuan itu mengerjapkan mata cokelatnya, lalu tersenyum manis. “Senang bertemu denganmu, Ruth. Saya harap, ke depannya kita bisa bekerja sama dengan baik.”
Other Stories
Permainan Mematikan: Narsistik
Delapan orang asing diculik dan dipaksa mengikuti serangkaian permainan mematikan. Tujuh d ...
Menjelang Siang
Swastika, yang merasa lelah dengan permasalahan di kampus, memutuskan untuk berkungjung ke ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...